Edisi 11-07-2019
Lasenas Model Pembelajaran Sejarah yang Dinamis


JAKARTA – Demi menumbuh kembangkan kesadaran sejarah bangsa dalam jiwa para generasi muda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) 2019 di Medan, Sumatera Utara, 8-12 Juli.

Direktur Sejarah Direktoral Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Triana Wu landari mengatakan, sasaran uta ma kegiatan Lasenas adalah para pelajar SNA, SMK, madrasah aliyah sederajat, serta para guru sejarah seluruh Indonesia.

Diharapkan, program bertema “Generasi Penerus Merajut Simpul- Sim pul Keindonesiaan” ini dapat membangkitkan ingatan kolektif bangsa melalui penanaman nilai-nilai sejarah bagi generasi muda dari ber bagai daerah untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan memperkukuh persatuan dan kesatuan.

“Setelah mengikuti ke giatan ini, peserta juga diharapkan dapat membawa dan menyebarkan semangat persatuan, kesatuan, dan kesa dar an sejarah di daerah ma sing-masing,” ungkap Triana.

Menurut Triana, Lasenas ini merupakan kegiatan melawat tempat-tempat bersejarah yang menjadi bagian dari simpul-simpul perekat yang berorientasi pada nilainilai perjuangan dan persatuan untuk memperkokoh integrasi bangsa.

Sekaligus ini sebagai upaya menjaga dan merawat keberagaman melalui pembelajaran sejarah. “Kegiatan ini juga menjadi alternatif model pembelajaran sejarah yang dinamis, kreatif, dan efektif, agar nilaini lai kearifan sejarah dapat di serap dengan baik oleh generasi muda,” tegas Triana.

Program Lasenas ini juga merupakan kelanjutan dari Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) yang sudah diselenggarakan 11 Balai Pelestarian Ni lai Budaya (BPNB) dari seluruh Indonesia. Lewat Laseda ini dipilih sekitar 200 perwakilan ter baik dari setiap provinsi untuk mengikuti Lasenas.

Mereka juga yang nantinya di harapkan menjadi duta sejarah di daerah masing-masing. “Kegiatan Lasenas dikemas sebagai alternatif metode pembelajaran sejarah yang menarik dan tidak membosankan sebagai bekal bagi para duta sejarah sebelum kembali kedaerahnya.

Peserta tidak hanya diberi materi berisi subs tansi sejarah, juga di bekali keterampilan menyampai kannya kembali dengan cara yang menarik lewat work shop public speaking,” tegas Triana. Para siswa juga diberikan workshop fotografi dan videografi agar mereka dapat menyajikan sejarah dalam ben tuk foto dan video serta menyebarkannya melalui media sosial.

Sementara bagi para guru di berikan workshop pendidikan seja rah dalam media baru, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kegiatan pem belajaran sejarah di sekolah.

“Dalam kegiatan ini peserta juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah, berkompetisi menyajikan karya tulis dan pidato kesejarahan, serta berdiskusi dengan para ahli dan saksi sejarah,” ujar Triana.

m ridwan