Edisi 11-07-2019
BPTJ: Perluas Ganjil-Genap


JAKARTA–Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengusulkan kebijakan pembatasan kendaraan melalui sistem ganjil-genap diperluas seperti saat pelaksanaan Asian Games 2018.

Perluasan ganjil-genap ini mendesak untuk mengatasi kemacetan yang makin parah. Berdasarkan hasil evaluasi secara berkala mengenai penerapan ganjil-genap, BPTJ mendapatkan hasil kinerja lalu lintas di Jakarta tengah menurun.

Kepala BPTJ Bambang Prihartono mencontohkan kemacetan yang terjadi setiap pagi hari di tol Cawang menuju Semanggi ekornya sudah sampai Cibubur, padahal contraflow diperpanjang selama pukul 09.00 - 10.00 WIB.

”Memang kemacetan sudah parah. Kita harus antisipasi,” katanya kemarin. Adanya kemacetan parah, polusi udara yang memburuk, dan angkutan umum moda share rendah, dia menilai sangat berbahaya apabila tidak ada solusinya apalagi waktu terus berpacu.

”Bicara transportasi memang bukan gubernur saja. Semua ada tiga gubernur, delapan bupati/ wali kota, termasuk BPTJ. Karena itu, BPTJ berdasarkan latar belakang tadi mengusulkan kebijakan yang sudah pernah kita coba.

Ini bukan barang baru. Masyarakat juga sudah tahu,” ungkap Bambang. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengaku belum menerima surat dari BPTJ terkait usulan perluasan ganjil-genap.

”Nanti kita akan konfirmasi ke BPTJ karena pasti mereka mengusulkan ada alasan,” ucapnya. Untuk kondisi eksisting saat ini sistem ganjil-genap cukup efektif mengurangi kepadatan. Namun, dia belum memegang data kecepatan kendaraan di ruas jalan sistem ganjil-genap.

Pengamat transportasi Universitas Tarumanagara Leksmono Suryo Putranto menuturkan, ganjil-genap merupakan sistem pengendalian lalu lintas satu-satunya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kemacetan sebelum berlakunya electronic road pricing (ERP) atau kebijakan jalan berbayar secara elektronik.

Namun, tentunya harus dilakukan pengawasan yang konsisten dan maksimal. Bila pengawasan yang dilakukan secara manual tidak konsisten dan lemah, ganjil-genap justru membuat pemilik kendaraan menjadi penipu seperti membuat dua nomor polisi dan sebagainya.

Selain itu, perluasan ganjil-genap juga harus dibarengi peningkatan layanan angkutan umum sehingga begitu pengendara dari rumahnya meninggalkan kendaraannya, angkutan sudah melayani sebagai penggantinya.

”Kalau ruas jalan ganjil-genap belum terlayani angkutan umum meski diberlakukan hanya pagi dan sore, sistem ganjil-genap tidak akan efektif,” ucap Leksmono.

Ganjil-genap saat pergelaran Asian Games diberlakukan di beberapa ruas, yakni Jalan S Parman - Gatot Subroto - MT Haryono - DI Panjaitan - Ahmad Yani - Simpang Coca Cola/Perintis Kemerdekaan; Arteri Pondok Indah dari Simpang Kartini hingga Simpang Kebayoran Baru; Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan; Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Penerapan ganjil-genap mulai Senin hingga Minggu pada pukul 06.00-21.00 WIB.

Dukung Perluasan E-TLE

Sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement ( E-TLE) di Jalan Sudirman-MH Thamrin bakal diperluas di 25 titik persimpangan jalan besar di Jakarta dengan menggunakan 81 kamera automatic number plate recognition (ANPR) hingga Desember 2019.

Anggota Ombudsman Ninik Rahayu mendukung kepolisian yang memberlakukan E-TLE. Apalagi, sistem tilang ini merupakan hal yang baru pertama kali yakni penegakan hukum berbasis teknologi digital.

”Kenapa lebih baik karena menghindari pertemuan tatap muka langsung antara petugas dalam hal ini polantas dengan pengendara yang melanggar. Selama ini tatap muka antara petugas dengan pelanggar menjadi salah satu penyebab terjadinya tindakan maladministrasi,” ungkapnya.

bima setiyadi/ helmi syarif