Edisi 11-07-2019
Jangan Kuras Tenaga, Fokus Rukun Haji


MADINAH - Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi meminta jamaah haji Indonesia menjaga kondisi kesehatan selama di Tanah Suci.

Jamaah diminta tidak melakukan aktivitas berlebihan mengingat kondisi suhu di sana yang relatif tinggi. Saat ini jamaah juga diminta tidak terlalu memforsir diri mela kukan berbagai ibadah sunah, mengingat banyak rukun haji selama prosesi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang membutuhkan fisik prima.

Jangan sampai di pekanpekan pertama di Tanah Suci, kondisi jamaah sudah drop dan memicu penyakit bawaan kambuh. Hingga hari kelima sejak pemberangkatan awal, Sabtu (6/7/2019) sudah ada tiga jamaah haji Indonesia yang meninggal dunia.

Masing-masing Sumiyatun Sawi Krama, 56, jamaah kloter 2 Embarkasi Solo (SOC) yang meninggal dunia di pesawat; Khairil Abbas bin Salim, 62, jamaah kloter 2 Embarkasi Batam (BTH) karena serangan jantung; dan Mudjahid Damanhuri, 74, jamaah kloter 4 Embarkasi Solo (SOC) yang meninggal dunia karena stroke .

Dari informasi yang diperoleh, jamaah meninggal dunia memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, jantung, dan darah tinggi. Penghubung Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Madinah dr Nafi’uddin Mahfudz menjelaskan, ada tiga faktor yang memengaruhi kesehatan, yakni tubuh, aktivitas, dan lingkungan.

Usia dan penyakit dasar yang dimiliki jamaah menjadi hal yang perlu diperhatikan. Jamaah usia lanjut akan mudah sakit dan jika memiliki penyakit dasar akan mudah kam buh.”Aktivitas jamaah yang tinggi sejak dari embarkasi hingga Tanah Suci juga meningkatkan risiko sakit,” kata Nafi kepada wartawan di kantor Daker Madinah kemarin.

Lingkungan juga sangat memengaruhi kesehatan jamaah. Saat ini suhu udara di Madinah antara 26-45 derajat Celsius. Kondisi ini sangat berbeda jauh dengan Indonesia yang suhu tertingginya paling hanya 35 derajat Celsius.

“Asupan makan jamaah biasanya turun yang menyebabkan energinya drop. Belum lagi banyak jamaah dari negara lain yang membawa penyakit,” kata Nafi. Untuk menjaga kesehatan selama di Tanah Suci, jamaah Indonesia yang rata-rata berusia lanjut harus disiplin minum obat rutin yang dibawa dari Tanah Air.

Selain itu, mereka juga harus mengonsultasikan kesehatannya kepada petugas medis yang ada di kloter, sektor, atau pun daker. “Hindari aktivitas pada suhusuhu panas antara 09.00 hingga 17.00 WAS juga harus di hindari.

Jangan memaksakan beraktivitas, seperlunya saja dan tahu diri dengan kemampuan tubuh. Lebih baik mempersiapkan diri, simpan stamina untuk ibadah sesungguhnya,” katanya. Banyak minum air juga salah satu cara untuk menjaga kon disi tubuh tidak dehidrasi.

Namun, air yang diminum ada lah air putih yang tidak dingin, bukan minuman berkarbonasi, dan tidak manis. Sering mengonsumsi buah dan sayuran. Hingga hari ini Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah menangani sembilan pasien jamaah rawat inap.

Kebanyakan mereka sakit infeksi saluran napas, vertigo, demensia, dan kelelahan. Khusus untuk demensia, ada tiga jamaah haji yang dirawat. “Kalau kami lihat di sini, pencetusnya dehidrasi,” kata Direktur KKHI Madinah Am syar Akil. Menurut Amsyar, cukup banyak dam pak yang ditimbulkan dari dehidrasi.

Misalnya geli sah, penurunan kesadaran, gangguan demam, dan panas. Gejala ini khas dan sulit di bedakan dengan gejala penyakit kejiwaan. “Tapi, kami punya dokter spesialis di sini yang rata-rata luar biasa. Kami rawat ada tiga orang dengan gejala gelisah dan bicara sendiri,” katanya.

ABDUL MALIK MUBARAK

Laporan Wartawan KORAN SINDO

MADINAH