Edisi 12-07-2019
Arus Lalu Lintas Parung Menuju Bogor Masih Dialihkan


BOGOR - Setelah hampir 12 jam dilakukan pembersihan atau evakuasi reruntuhan coran dan besi beton proyek tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi 3A Simpang Yasmin- Salabenda yang ambruk, Rabu (10/7) pagi, arus lalu lintas Parung-Bogor masih dialihkan ke Semplak-Jalan KHR Abdullah bin Nuh atau Yasmin-Sholeh Iskandar.

Sementara itu arus lalu lintas di Jalan Sholeh Iskandar atau arah Bogor menuju Parung hanya bisa dilewati sepeda motor dan mobil pribadi. PT Pembangunan Perumahan (PP) Tbk selaku pelaksana proyek langsung menutup lokasi ambruknya coran tiang penyangga proyek menggunakan terpal dan memasang pagar seng agar proses pengerjaan proyek tak mengganggu pengguna jalan. “Dikarenakan masih ada penyempitan dan lain-lain, kami prioritaskan golongan satu (kendaraan pribadi) dan motor. Untuk kendaraan golongan 3, 4, dan 5 masih dialihkan,” ujar Direktur Utama PT Marga Sarana Jabar (MSJ) Hendro Atmodjo kemarin.

Pengamat jasa konstruksi Thoriq Nasution menilai ambruknya coran tiang penyangga tol BORR Seksi 3A lebih disebabkan kecerobohan dalam pemasangan bekisting (cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama dicor). “Melihat ambruknya tiang fondasi tol BORR saat pengecoran, saya menganalisis ada kecerobohan saat pemasangan bekisting, juga perancahnya,” katanya. Menurut dia, jika tak salah, beton tersebut dibuat secara expose sehingga harus menggunakan metode pemasangan bekisting precast. “Diduga bekisting-bekisting tersebut menyimpang dari metode yang ada. Kejadian di atas bukan disebabkan besi beton maupun betonnya saja, tapi karena kejadiannya di saat proses pengecoran,” ungkap Thoriq.

Apalagi saat pengecoran belum seluruhnya, yakni baru 22 truk mixer dari 25 truk yang digunakan saat pengecoran. “Untuk proses pengecorannya juga ada ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia No 71,” ucapnya. Ke depan supaya tak terulang peristiwa serupa, pelaksana proyek harus mematuhi semua metode pelaksanaan pengecoran sebagaimana tertuang dalam aturan.

“Kejadian seperti ini juga bisa saja terjadi pada pekerjaan-pekerjaan lain. Kalau saja pelaksana mematuhi apa yang tertuang dalam metode-metode pelaksanaan pengecoran, hal semacam ini tidak perlu terjadi,” ujarnya.

Haryudi