Edisi 12-07-2019
Kegiatan Usaha pada Kuartal II Mulai Pulih


JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat kegiatan usaha pada kuartal II/2019 cenderung membaik dibandingkan kondisi pada kuartal sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 19,17%, meningkat dari 8,65% pada kuartal I/2019. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja kegiatan usaha pada kuartal II/2019 lebih rendah. Hal ini terindikasi dari SBT kegiatan usaha yang lebih rendah dan SBT 20,89% pada kuartal II/2018. Direktur Eksekutif Depar - temen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, jika dirinci menurut sektor lapangan usaha, peningkatan kegiatan usaha tertinggi terjadi pada sektor perdagangan, hotel & restoran (SBT 4,17%) dan sektor industri pengolahan (SBT 3,57%).

“Hasil survei juga mencatat peningkatan kegiatan usaha pada kuartal II/2019 antara lain didorong oleh faktor musiman tingginya permintaan saat Ramadan dan Idul Fitri,” kata Onny di Jakarta kemarin. Peningkatan kegiatan usaha paling tinggi selanjutnya terjadi pada sektor keuangan, real estate & jasa perusahaan (SBT 3,01%) dan sektor jasa-jasa (SBT 2,52%). Responden memprakirakan kegiatan usaha pada kuartal III/2019 masih akan tetap ekspansi, meski tidak setinggi kuartal II/2019. Hal ini tercermin dari SBT prakiraan kegiatan usaha yang menurun menjadi sebesar 16,19%.

Berdasarkan sektor ekonomi, peningkatan kegiatan usa ha pada kuartal III/2019 diprediksi terjadi terutama pada sektor keuangan, real estate & jasa perusahaan (SBT 4,00%), dan sektor jasa-jasa (SBT 3,15%). Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, ratarata kapasitas produksi terpakai pada kuartal II/2019 sebesar 77,18%, meningkat dari 76,10% pada kuartal sebelumnya. “Peningkatan penggunaan kapasitas produksi tertinggi terjadi pada sektor listrik, gas & air bersih ratarata sebesar 80,71%. Sementara penggunaan kapasitas produksi paling rendah terjadi pada sektor pertambangan & penggalian rata-rata sebesar 74,87%,” papar dia.

Kondisi keuangan perusahaan pada kuartal II/2019 secara umum lebih baik dibandingkan kondisi pada kuartal sebelumnya tercermin dari saldo bersih (SB) likuiditas perusahaan sebesar 30,59% meningkat dari 26,68% pada kuartal I/2019. Sebagian besar responden SKDU (60,02%) menjawab likuiditas perusahaan pada kuartal II/2019 berada pada kondisi normal. Sementara itu, sebesar 35,28% responden menjawab kondisi likuiditas pada kuartal II/2019 lebih baik dibandingkan periode sebelumnya dan hanya 4,70% responden yang mengonfirmasi kondisi likuiditas yang lebih buruk dari periode sebelumnya. Onny melanjutkan, pertumbuhan investasi pada kuartal II/2019 relatif stabil. Hal ini terindikasi dari SBT investasi sebesar 9,71% relatif stabil dari 9,62% pada kuartal I/2019.

Berdasarkan sektor lapangan usaha, peningkatan investasi pada kuartal II/2019 terutama terjadi pada sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel & restoran, dan sektor industri pengolahan. Sejalan dengan kondisi kegiatan usaha, investasi pada kuartal III/2019 diprakirakan kembali tumbuh terbatas. Hal ini terindikasi dari SBT prakiraan investasi sebesar 9,32%, meskipun lebih rendah dibandingkan 9,71% pada kuartal II/2019, berdasarkan sektor lapangan usaha. Peningkatan investasi terutama diprakirakan terjadi pada sektor keuangan, real estate & jasa perusahaan dan sektor industri pengolahan dengan SBT masing-masing sebesar 1,79% dan 1,75%.

Hasil SKDU mengindikasikan bahwa secara semesteran, jumlah pelaku usaha yang melakukan kegiatan investasi pada semester I/2019 relatif stabil dibandingkan jumlah pada semester II/2018. Persentase responden SKDU yang menyatakan melakukan kegiatan investasi pada semester I/2019 sebanyak 21,42% responden, relatif sama dibandingkan 21,49% responden pada semester II/ 2018. Pada semester II/2019, kegiatan investasi diperkirakan masih tumbuh terbatas. Adapun secara nilai, investasi pada semester II/2019 tersebut diprakirakan lebih tinggi dibandingkan investasi pada semester I/2019, namun relatif stabil dibandingkan investasi pada semester II/2018.

Beberapa faktor yang menurut responden menghambat rencana investasi, antara lain terkait perizinan dan masih tingginya suku bunga.

Kunthi fahmar sandy