Edisi 12-07-2019
Berburu Gelar


KAIRO – Kesabaran selalu membuahkan hasil manis, seperti yang dirasakan Senegal dan Nigeria. Peluang keduanya untuk berjaya di Piala Afrika 2019 kini semakin terbuka setelah berhasil menapaki babak semifinal.

Senegal misalnya. Les Lions de la Terangahadir lagi di semi - final Piala Afrika untuk per - tama kalinya setelah 2006, seusai mengalahkan Benin 1-0 di 30 June Air Defence Stadium, Rabu (11/7). Ini semua berkat gol tunggal Idrissa Gana Gueye pada menit ke-69. Keberhasilan melaju ke fase empat besar menjadi kesempatan emas bagi Sadio Mane dkk untuk membukti kan sudah saatnya mereka menjadi juara. Maklum, setiap kali ikut serta, Senegal kerap difavorit - kan. Tapi pada akhir nya, mereka tidak pernah meraih gelar.Prestasi terbaik Senegal hanya menempati posisi runner uppada edisi 2002 di Mali. Ketika itu Se negal takluk 2-3 dari Kamerun lewat drama adu penalti.

Itu sebabnya, pelatih Aliou Cisse mengapresiasi perjuangan pasukannya walau hanya mampu menceploskan satu gol. Cisse menilai, Benin sangat tangguh meski bermain de ngan 10 pemain setelah Olivier Verdon mendapat kartu merah (82). “Kami menghadapi laga sulit seperti yang kami perkirakan. Para pemain tidak pernah me - nye rah. Mereka menunjukkan mentalitas yang baik, sabar, dan mengikuti instruksi yang saya berikan,” kata Cisse dilansir capitalfm. Juru taktik berusia 43 tahun itu menegaskan, Senegal kini hanya memiliki satu tujuan, yakni menjuarai Piala Afrika untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Cisse mengklaim pasukannya siap melibas siapa pun lawan yang akan dihadapi di semifinal, Minggu (14/7).

“Pada tahap ini, siapa pun dapat mengalahkan siapa pun. Kami datang ke sini dengan ambisi memainkan tujuh laga, dan kami akan memainkan nya. Kami ingin bermain di final dan menjadi juara Piala Afrika 2019,” kata Cisse. Di lain pihak, meski tersingkir, Benin bisa sedikit bangga. Mereka telah mencatat pencapaian fenomenal, yaitu menembus perempat final Piala Afrika untuk pertama kalinya. Maklum, di tiga edisi sebelumnya pada 2004, 2008, dan 2010, Les Ecureuilsselalu terhenti di penyisihan grup. Semua itu membuat pelatih Michel Dussuyer begitu bangga kepada seluruh skuadnya yang telah mengharumkan nama negara di pentas internasional.

Dia yakin kinerja bagus di Piala Afrika 2019 bakal melecut semangat Benin untuk tampil lebih baik lagi pada turnamen bergengsi lainnya. “Saya ingin mengucapkan selamat kepada para pemain yang telah menghadapi tan - tang an dengan sempurna. Mereka harus bangga. Mereka membuat negara bangga. Kekecewaan memang ada, tetapi kami pulang dengan kepala tegak,” ungkap Dussuyer. Langkah Senegal juga diikuti Nigeria. Super Eagles melaju ke semifinal seusai mengalahkan Afrika Selatan 2-1. Gol dari Samuel Chukwueze (27) dan William Troost-Ekong (89) menjadi jawaban atas perjuangan selama bertahun-tahun. Itu menandai kebangkitan Nigeria yang tiga edisi sebelumnya terus gagal pentas di Piala Afrika.

Kans mereka menambah gelar juara setelah 1980, 1994, dan 2013, juga terbuka. Apalagi mereka telah menunjukkan kapasitasnya dengan menyingkirkan beberapa kandidat juara. Pelatih Nigeria, Gernot Rohr, mengungkapkan penggunaan VAR untuk pertama kali di Piala Afrika sempat membuat timnya terganggu. Namun, Nigeria akhirnya terbantu karena teknologi itu menganulir beberapa kesempatan yang diperoleh Afrika Selatan. Rohr menilai karakter kuat menjadi faktor penting Nigeria sehingga mampu mengatasi Afsel.

“Sekarang kami kuat secara mental dan kami bisa bangkit setelah tertekan. Sikap para pemain begitu luar biasa, saya memiliki hubungan yang begitu baik dengan semua orang,” ujarnya.

Alimansyah