Edisi 12-07-2019
Surat Cinta untuk Para Remaja


MEMBAWA Tema kontroversial, yaitu remaja yang hamil di luar nikah, Dua Garis Biru tampil mulus dengan dua wajah sekaligus, konservatif dalam bertutur, tapi progresif dalam menawarkan ide.

Membawa tema yang sensitif seperti ini di Indonesia memang berisiko. Jadi, tak mengherankan saat beberapa waktu lalu, sempat muncul petisi memprotes film ini meski petisi tersebut akhirnya dicabut. Meski sensitif, sebenarnya cerita tentang remaja yang hamil di luar nikah bukanlah barang baru di Indonesia. Tahun 2001 bahkan muncul kisah serupa yang tayang di stasiun televisi, yang notabene lebih luas jaringan penontonnya dibandingkan penonton bioskop yang lebih terseleksi. Nyaris dua dekade kemudian, Dua Garis Biru muncul demi menjawab pertanyaan, kegelisahan, dan bisik-bisik tabu seputar seks di luar nikah, dalam zaman yang sudah jauh berbeda.

Film ini dibuka dengan memperkenalkan dua karakter utamanya, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Mereka adalah sepasang kekasih kelas 3 SMA yang berbeda nasib. Dara adalah siswa berprestasi di sekolah. Punya cita-cita tinggi melanjutkan kuliah di Korea. Dia juga datang dari keluarga berada. Semuanya kebalikan dari Bima. Prestasi akademiknya buruk, berasal dari keluarga pas-pasan, dan hidupnya mengalir begitu saja mengikuti arah angin. Namun, Bima adalah pacar yang penyayang, setia, dan lucu. Ini mungkin yang membuat Dara jatuh cinta pada remaja manis berkulit gelap itu.

Gaya pacaran mereka sebenarnya biasa-biasa saja, tapi satu kesalahan besar yang mereka lakukan membuat Dara hamil. Dara enggan menggugurkan kandungan sehingga membuat segalanyabertambah rumit. Apalagi saat orang tua mulai turun tangan dengan ego mereka masingmasing. Gina menyebut bahwa cerita film ini telah disim - pannya selama sembilan tahun. Jika menyimak filmnya, maka akan terlihat sekali betapa istri dari penulis skenario Salman Aristo ini begitu rapi dan detail dalam bercerita, baik dengan katakata maupun gambar. Semua punya arti, tak ada yang sia-sia. Misalnya saja saat ibunya Bima (Cut Mini) yang digambarkan sebagai perempuan ceria tapi juga cerewet minta ampun.

Saat mengetahui anaknya menghamili Dara, dia malah tak bersuara sedikit pun. Ibu Bima hanya bisa menangis tersedu-sedu saat orang tua Dara (Lulu Tobing dan Dwi Sasono) saling bertukar argumen sambil mengancam Bima. Namun, di ujung adegan, ibunya Bima tak tahan. Dia menampar keras pipi Bima karena semburan kata tak akan cukup untuk menggambarkan rasa marah dan kecewanya. Begitu juga saat Dara pada awal cerita hendak menggugurkan kandungannya. Kengeriannya akan aborsi disimbolkan dengan stroberi dan es yang dicacah dengan blender hingga menghasilkan jus berwarna merah.

Gina juga dengan jeli meng - gambarkan perbedaan gaya solusi yang diberikan orang tua Dara dan Bima atas hamilnya Dara. Pilihan keluarga konservatif yang religius yang diwakili keluarga Bima, serta keluarga yang lebih liberal dan mengutamakan masa depan karier dari keluarga Dara, sesungguhnya menjadi cerminan dalam dunia nyata tentang cara tiap golongan menga tasi persoalan hamil di luar nikah. Di bagian ini pula, drama keluarga, termasuk hubungan orang tua-anak muncul memperkaya gizi film ini.

Nah yang menarik, Dua Garis Biru pun cukup mengedepankan isu tentang pentingnya peran perempuan dalam hal kehamilan dan membesarkan anak. Ini setidaknya bisa dilihat saat Dara menyebut bahwa kecerdasan anak diturunkan dari ibunya. Artinya, seorang ibu wajib berotak cerdas jika ingin punya anak dan membesarkan anak yang cerdas. Semua poin-poin ini, hebatnya, tetap mampu dikemas Gina dengan unsur humor yang cukup kental. Saat kita serius nonton , bisa-bisa kita tertawa karena ucapan atau ulah konyol Dara, Bima, atau Dewi, kakak Bima (Rachel Amanda).

Di luar gambaran yang terasa sangat nyata serta keberanian menawarkan solusi bagi masa depan Dara dan Bima, Dua Garis Biru juga tampaknya berusaha berkompromi dengan penonton kon - servatif dengan berulang kali menyampaikan edukasi tentang bahaya dan konsekuensi hamil pada usia dini. Meski di bagian ini terlihat seperti berlebihan dalam “menakut-nakuti” tentang bahaya hamil pada usia muda, tapi dengan masih begitu minimnya edukasi seks di kalangan remaja, hal tersebut masih cukup bisa dimaklumi.

Di luar itu, Dua Garis Biru adalah film yang penting untuk remaja, juga orang tua. Tak banyak film Indonesia yang seusai menontonnya, bisa memantik diskusi penting di antara anggota keluarga.

Herita endriana