Edisi 16-07-2019
PLN Terbitkan Surat Utang Global USD1,4M


JAKARTA– PT PLN (Persero) kembali menerbitkan surat utang berdenominasi asing (global bond) senilai USD1,4 miliar atau setara Rp19,52 triliun (Rp13.944 per dolar AS) dengan harga lebih rendah dari yield di secondary market.

Surat utang tersebut untuk mendanai kebutuhan investasi program kelistrikan 35.000 megawatt (MW). “Global bond tersebut diter - bitkan dengan tingkat bunga terendah sepanjang sejarah pe - nerbitan obligasi dolar Amerika Serikat (AS), baik oleh PLN mau - pun dari BUMN manapun di Indonesia dengan tenor 10 dan 30 tahun. Dual-trance dolar AS global bond masing-masing sebesar USD700 juta diter bit kan dengan tingkat bunga 3,875% untuk tenor 10 tahun dan 4,875% untuk tenor 30 tahun,” ujar Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto di Ja karta, kemarin.

Menurut dia, keberhasilan PLN menerbitkan global bond tersebut meyakinkan potensial investor melalui serangkaian road show ke beberapa negara, yaitu Hong Kong, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat se - jak 4 Juli 2019. Pada ke sem patan kali ini PLN juga didukung tiga lembaga pemeringkatan internasional, yaitu Moodyís, S&P, dan Fitch Ratings, karena masing-masing memberikan penilaian kualitas kredit obligasi PLN dengan tingkat rating BAA2, BBB, dan BBB. “Investment grade credit ra - ting global bond PLN dari ketiga lembaga independen internasional tersebut adalah pada level setara dengancredit rating sovereign pemerintah Indo ne - sia,” kata dia.

Sarwono menjelaskan, glo bal bond PLN kali ini menjadi rebutan potensial investor dan kelebihan permintaan (over-sub - scribe ) lebih dari 4,42 kali. Hal itu lantaran PLN mampu membaca kondisi terbaik di pasar modal internasional dan mengambil langkah cepat serta tepat. “PLN berhasil memanfaat - kan momentum pasar sehingga global bond PLN kali ini tidak hanya mengalami kelebihan permintaan, akan tetapi juga mendapatkan tingkat bunga sangat kompetitif,” ungkapnya. PLN melakukan proses book building pada 10 Juli 2019 mulai dari pagi hari waktu pasar Asia dibuka dan harga final diten tu - kan pada hari yang sama.

Pada proses book building, katanya, PLN mendapatkan permintaan order dari 118 institusi investor untuk obligasi tenor 10 tahun dan 131 institusi investor un tuk obli - ga si tenor 30 tahun ka rena per - mintaan sebagian be sar berasal dari Amerika Seri kat, Eropa, dan Asia. “Ma yoritas jenis investor ter sebut adalah asset manager, asu ransi, dana pensiun dan per - bankan inter nasional,” kata dia. Adapun proses settlement obligasi tersebut diharapkan akan terjadi pada 17 Juli 2019 dan terdaftar pada Singapore Stock Exchange (SGX). Dalam mencapai kesuksesan transaksi obligasi internasional kali ini, PLN dibantu beberapa institusi keuangan dan perbankan inter - nasional ternama.

Keberhasilan penerbitan global bond dengan tingkat suku bunga sangat kompetitif tersebut, ujarnya, juga menjadi pertanda semakin baiknya kepercayaan investor global ter - hadap PLN dan Pemerintah Indonesia. Dengan begitu, PLN dapat memperoleh tambahan dana dalam menjalankan penu - gasan pemerintah untuk mem - bangun tambahan kapasitas pembangkit, transmisi, dan dis - tribusi terkait dengan program 35.000 MW. “Itu sesuai dengan tujuan utama PLN, yakni menye diakan kebutuhan listrik untuk ma sya - rakat Indonesia dengan harga ter jangkau dan mampu mendorong pertumbuhan eko nomi serta pemerataan kese jah teraan masyarakat di selu ruh pelosok nusantara,” tutur Sarwono.

Gunakan Teknologi SUCP

Sementara itu, PT PLN (Per - sero) menerapkan tekno logi berbasis super ultra critical represitator (SUCP) di pem bangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikembang kan nya. Teknologi tersebut me mi nimalisasi dam - pak pen ce maran lingkungan karena PLTU masih menggunakan batu bara. “Sehingga debu yang keluar ditangkap dan dapat dien dap kan sehingga dapat dicegah penye - barannya,” ujar Executive Vice President (EVP) Corporate Com - m unication PLN I Made Su pra te - ka dalam keterangan tertulisnya. Dengan teknologi tersebut, tidak ada lagi sebaran debu ka - rena volumenya sangat minim (hanya 2%) dari pembakaran batu bara dari ope rasional PLTU.

“Teknologi itu tidak hanya ada di pembangkit kami, tapi juga pembangkit yang dikembang - kan oleh IPP,” ungkapnya.

Nanang wijayanto/ anton c