Edisi 21-07-2019
MBG Mendorong Produksi Budi Daya Ikan Lebih Cepat


Lima inovator muda dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi untuk pengadaan air bersih dan budi daya ikan. Mereka membuat teknologi micro bubble generator (MBG) untuk menghasilkan oksigen terlarut dalam air.

Teknologi ini akan menjaga kualitas air dan membuat pertum buh an ikan budi daya lebih cepat, dibandingkan de ngan cara yang dilakukan oleh petani pada umumnya. M enurut Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Indonesia termasuk 10 negara dengan produksi ikan terbesar di dunia. Sebagian besar ikan diperoleh dari hasil tangkapan laut karena didukung dengan potensi lautan yang sangat luas. Sayangnya, eksploitasi yang berlebihan dapat membahayakan ekosistem kelautan Indonesia dan dapat mengurangi kemampuan produksi hasil laut. Selain sektor laut, sektor perikanan budi daya sangat potensial untuk dikembangkan. Sektor perikanan budi daya menyumbang 25% total produksi perikanan Indonesia.

Namun, sektor ini berjalan stagnan karena permasalahan lahan dan air bersih. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa UGM untuk mengembangkan inovasi penelitian tentang air bersih untuk budi daya ikan. Mereka berhasil mengembangkan alat penghasil oksigen terlarut dalam air yang dinamakan Banoo. Azellia Alma Shafira, ketua tim mengatakan bahwa materi tentang micro bubble masuk dalam teori teknik mesin sehingga tim membuat ide terkait dengan kualitas air. Dia ingin membangun ekosistem budi daya perikanan yang lebih efisien, intensif, dan inklusif agar bisa meningkatkan kesejahteraan para petani ikan. “Tim membuat ide untuk perikanan karena perikanan di Indonesia terkait dengan kualitas air karena jika air kurang oksigen, maka ikan tidak sehat dan metabolismenya buruk, banyak makanan yang nggak terma - kan dan membuat air kotor sehingga panen tidak maksimal,” kata Shafira.

Teknologi Banoo menggunakan teknologi micro buble generator dengan bantuan internet of things (IoT), yaitu sensor yang berfungsi untuk mengaktifkan micro bubble generator secara otomatis. Teknologi ini meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air sehingga mempercepat pertumbuhan ikan dan memperpendek masa panen. “Dengan Banoo bisa meningkatkan produktivitas hingga 40% dan masa panen lebih pendek yaitu 3 bulan,” jelasnya. Banoo dilengkapi dengan parameter stan - dar oksigen di dalam air. Saat kadar oksigen dalam air menurun, sensor IoT akan me ngi - rim sinyal ke MBG. Secara otomatis, MBG akan menyemprotkan oksigen ke dalam air.

Menurut Shafira, kebutuhan oksigen di air dapat terpenuhi saat adanya matahari dan itu pun hanya di permukaan air. Proses fotosin - tesis di dalam air tidak dapat terjadi karena sinar matahari tidak mampu menembus sampai ke bagian dalam air. “Secara alami pakai matahari itu bisa, tapi di dalam air tidak, apalagi saat malam hari, atas ba wah (air) tidak ada oksigen,” tambah Shafira. Penelitian tentang micro bubble sudah lama dilakukan. Alat dan metode penelitiannya pun mengalami perubahan, seiring dengan penyempurnaan alat ini. Shafira mengatakan, ada 3 alat yang diintegrasikan, yaitu MBG, IoT, dan panel surya. Ketiga alat ini tidak wajib digunakan secara bersamaan, tapi lebih melihat kebutuhan petani.

Harga masing-masing alat sangat beragam, ada yang murah dan mahal. Khususnya harga panel surya yang menembus angka puluhan juta rupiah karena produsen panel surya di Indonesia belum banyak sehingga mereka harus impor. “Untuk MBG sekitar Rp2 juta, sensor Rp8 juta, dan panel surya Rp10 juta, tapi tidak harus membeli seluruh komponen yang ada, bisa juga dibeli per part . Maksudnya, jika ingin membeli MBG atau sensor saja itu bisa, bah - kan keduanya pun bisa,” kata wanita asal Yogyakarta itu. Panel surya ini merupakan energi terbarukan yang dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya yang belum memiliki akses listrik. Konsumsi listrik digunakan untuk menghidupkan pompa mesin yang berdaya rendah 85 watt.

“Panel surya ini kan hanya digunakan untuk suplai energi, menggunakan listrik juga tidak masalah karena panel surya hanya meng hemat pengeluaran daya yang dibu tuh - kan untuk menghidupkan alat ini,” terangnya. Selain itu, bagi petani ikan yang mem bu - didayakan ikan di tambak, sebagian besar dari mereka tidak mempunyai suplai listrik. Letak tambak yang jauh dari aktivitas masyarakat membuatnya sulit men da pat kan listrik. “Biaya pembuatan panel surya memang besar, tapi tidak perlu me nge luar kan biaya lagi untuk listrik yang digu nakan per bulan,” ung - kap ma ha siswi UGM. Saat ini, mereka se dang mengem bangkan alat tam bahan un tuk me nun jang budi daya ikan, yaitu sensor PH untuk tin g kat keasam an air dan sensor suhu atau tem - pe ra tur.

Sen sor ini lebih me nga - rah ke da ta sehingga petani da - pat meng analisa kualitas air dan ikan yang akan dipanen. Banoo disesuaikan dengan standar inter na - sional, yakni bisa meng-cover kolam 100 meter persegi. Artinya, kolam yang besarnya melebihi 100 meter persegi membutuhkan lebih dari satu alat ini. “Kita pernah melakukan uji coba di kolam, semacam waduk gitu, dia emang banyak bu - tuh nya dengan pemasangan di pinggir kolam, jadi penambahan alatnya disesuaikan dengan jangkauan dari alat ini sendiri,” katanya. Alat ini masih terus dikembangkan, desain baru disesuaikan dengan kebutuhan para petani.

“Setidaknya, tidak menggunakan alat yang terlalu banyak, mungkin sekitar 2 atau 3 alat saja sudah cukup,” tambahnya. Shafira menambahkan, kedalaman kolam juga membatasi jangkauan dari alat itu sendiri. Banoo hanya bisa digunakan untuk kedalaman maksimal 1,5 meter. “Kedalaman ini sebetulnya bisa ditambah dengan mengubah casing MBG agar kuat terhadap tekanan di dalam air,” kata Shafira. Selain Shafira, inovator muda UGM lainnya adalah Muhammad Adlan Hawari (Elektronika dan Instrumentasi 2015) dan Fakhrudin Hary Santoso (Perikanan 2015), serta alumni Teknik Mesin 2014 yaitu Katya Dara Ozzilenda Soegiharto dan Ryan Wi ra ta - ma Bhaskara. Mereka berhasil menjuarai kompetisi “Cisco Global Problem Solver Challenge” 2019.

Fandy