Edisi 21-07-2019
Sekolah Swasta Hanya Menjadi Alternatif


Kini Kevin Kanaka Swargoputra, 18, sudah menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia (UI). Dua tahun silam, orang tunya dan sekolahnya dibuat bangga atas penghargaan medali emas yang diterimanya dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Biologi 2017.

Kevin mengenang masa-masa putih abu-abunya di SMA Negeri 8 Jakarta. Menyukai sains sejak SD dan kerap mengikuti lomba fisika dan biologi, sempat membuatnya galau hingga akhirnya dia tergabung dalam sebuah klub biologi yang membuatnya mantap menekuni biologi. “Kalau cita-cita saya ingin jadi dokter syaraf. Saya juga mau ngajarin biologi ke orang lain sambil mengubah pemikiran orang-orang yang menganggap biologi itu hanya hafalan,” ujarnya.

Kevin masuk Kedokteran UI melalui jalur SNMPTN, juga jalur undangan. Jadi berdasarkan ni lai dan prestasiprestasi yang selama ini di raih nya, undangan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang selama ini men ja di impiannya saat menentukan akan memilih se kolah. “Dulu masuk SMA lewat jalur prestasi jadi lebih mudah. Banyak undangan masuk ke PTN dan uang sekolahnya gratis,” ucapnya meng ung - kapkan alasan memilih sekolah negeri. Saat mengikuti OSN, memang tidak ada perbe da an bagi sekolah swasta dan negeri. Seleksi di DKI mu lai seleksi tingkat sekolah, seleksi tingkat kota madya, hingga seleksi tingkat provinsi, semua harus dilalui peserta. Jika lolos seleksi di tingkat provinsi, menjadi perwakilan DKI di OSN dan ikut pelatihannya.

Seluruh sekolah mengirimkan wakil ter baiknya, termasuk sekolah swasta. Kevin sempat segan. Na mun, tidak lama rasa segannya berubah menjadi mo - tivasi bahwa sekolah negeri pun dapat berprestasi. Jika ditanya siapa yang paling berjasa dalam pres ta si nya ini, dialah guru dan pembim bing nya yang me nuntut untuk terus berlatih. Nisa Felicia, peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), mengatakan bahwa peran guru sangat penting bagi siswa. Interaksi gurusiswa men jadi sangat penting dalam sekolah.

Dia meyakini bu kan sekolah negeri dan swasta yang memengaruhi pres tasi anak. Bagi orang tua Nisa, mengingatkan per tim bangan yang harus diperhatikan dalam pemilihan sekolah ialah kualitas sekolah yang biasanya di - tunjukkan dengan interaksi gurusiswa dan antarsiswa. Jika sekolah terlalu padat, kelasnya juga terlalu banyak siswa sehingga rasio guru-siswanya tinggi. Biasanya interaksi guru-anak jadi makin tidak efektif. “Risiko bullying juga lebih besar di sekolah-sekolah yang padat,” ungkapnya. Sangat penting ialah memperhatikan apakah guru-gurunya mengikuti pelatihan. Guru harus diupgrade ilmu dan cara pengajarannya.

Mengenai sekolah swasta dan negeri, di mana pun seko lah nya, anak harus diajarkan optimistis. Jangan ada ang - gap an sekolah negeri lebih bagus daripada swas ta, se hing ga yang masuk sekolah swasta ialah mereka yang tidak pintar. “Namanya Self-fulfilling prophecy , jadi kondisi di mana karena saya percaya bahwa saya ini murid ‘buangan’ maka saya cenderung enggan berusaha keras karena merasa tidak mampu. Akibatnya karena saya tidak termotivasi belajar, hasil belajar saya juga rendah,” jelasnya. Begitu juga dengan guru di sekolah swasta yang cenderung menganggap dirinya kurang mampu, maka guru enggan untuk berusaha keras mem - ban tu murid saya.

“Cenderung pasrah saja. Lalu berpikir, ah namanya juga anak-anak ‘buangan’, mau diajarin gi ma na juga tidak akan bisa. Akibatnya guru jadi kurang ino vatif,” tandasnya. Kalau sudah begitu, bisa di ba yangkan tidak ada semangat menuntut ilmu, juga se ko lah dikotak-ko takkan sekolah favorit atau tidak.

Ananda nararya