Edisi 21-07-2019
Sustainable Tourism , Poros Maritim Dunia, hingga Usulan ke UNESCO


MENILIK sejarah, Nusantara memiliki posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan “negeri-negeri di atas angin”, yaitu China, India, Timur Tengah, hingga Eropa.

Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia, yakni rempah-rempah. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. Sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi, bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya.

Wilayah tersebut menjelma sebagai ruang silaturahmi antarmanusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, konsep, gagasan, dan praksis, melampaui konteks ruang dan waktu dipertemukan oleh laut dan samudera. Pengalaman sejarah Indonesia terutama sepanjang rute yang dilintasi Jalur Rempah berperan penting untuk memetakan visi maritim Indonesia ke depan. Pemahaman atas Jalur Rempah dan sejarahnya juga menjadi sangat penting dalam mengembangkan potensi wisata berkelanjutan (sustainable tourism ) di bidang kemaritiman, wawasan, dan identitas maritim, potensi sumber daya alam dan ilmu pengetahuan maritim Indonesia, maupun diplomasi maritim Indonesia.

Namun, meskipun Indonesia sudah menegaskan konsepsi negara kepulauan melalui Deklarasi Djuanda sejak 1957, dan setelah melalui perjuangan diplomasi selama 25 tahun konsepsi ne gara kepulauan disahkan oleh Kon - vensi Hukum Laut PBB 1982, perhatian atas sektor ke mari - tim an baru terfokus pada bebe - rapa tahun terakhir, ter utama melalui rencana pengem bangan Poros Maritim Dunia 2045. Sebagai tindak lanjut, se jum - lah strategi dibuat untuk me - nguatkan dan mengak se lerasi kebijakan maritim Indonesia yang berdampak, baik pada tataran regional (kawasan) maupun kebijakan nasional yang dapat mengakselerasi peranan Indonesia dalam kemaritiman dunia di masa sekarang di antaranya dalam lingkup diplomasi budaya, pembentukan wawasan dan identitas maritim, penerapan sosial-budaya dan iptek, serta mempersiapkan pengajuan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia (World Heritage) ke UNESCO melalui pembentukan jejaring kemaritiman (Spice Route Connection ).

kat, dikaji, dan dimaknai kembali. Apalagi, ketika dewasa ini banyak bergulir pertarungan konsep seperti Jalur Sutera Maritim yang diusung China, maupun ragam konsep tentang wawasan Indo-Pasifik yang kesemuanya menuntut Indonesia untuk mengambil peranan penting,” tutur Hasan Wirajuda.

Hendri irawan