Edisi 21-07-2019
Anugerah Karya Cetak dan Karya Rekam


Perpustakaan Nasional (Perpunas) Republik Indonesia semakin maju dan modern, ditandai dengan gedung dan koleksi karya cetak yang dapat mengakomodasi masyarakat akan kebutuhan buku untuk studi maupun lainnya.

Makin luar biasa karena pada 2019 ini Perpusnas menganugerahi dua jenis penghargaan. Pertama, penghargaan per - se orangan dan dinamakan Anu gerah Pustaka Nusantara, yang diberikan kepada Mira Aris munandar dan Djaduk Ferianto. Kedua, penghargaan untuk kelompok masyarakat bernama Anugerah Mitra Per - pustakaan, diberikan kepada Museum Musik Indonesia (MMI) dan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri).

“Penghargaan ini diberikan dalam rangka memberikan apresiasi kepada para pi - hak yang telah berperan aktif da lam pelaksanaan undangundang baru No 13/2018 menggantikan UU No 4/1990, yang isinya mewajibkan kepada setiap penerbit dan pengusaha rekaman untuk menyerahkan karyanya kepada Perpusnas,” kata Ofi Sofiana, deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jaringan Informasi Per pusnas RI, dalam siaran pers yang diterima KORAN SINDO. Anugerah Pustaka Nusantara diberikan kepada Mira Arismundar dan Djaduk Ferianto karena keduanya dinilai melakukan revitalisasi atau mampu mempertahankan sebuah produk bangsa dan secara terus-menerus giat menggaungkan dan menularkan kepada sekelilingnya.

Sementara Anugerah Mitra Per pustakaan diberikan kepada MMI dan Asiri karena dua organisasi ini dinilai berperan seperti perpustakaan, tapi tidak punya ke - wa jiban sebagai perpustakaan. Keduanya dinilai turut mencerdas kan anak bangsa dan meles - ta rikan karya budaya bangsa. Seusai penyerahan peng hargaan, diselenggarakan dis kusi bertajuk “Menggali Ke arifan Budaya” dengan pem bi cara Ofi Sofiana dan para pe ne rima penghargaan, yakni Mira Arismundar, Djaduk Ferianto, Hengky Herwanto (MMI), dan Nico (Asiri). Dalam kesem pat an itu, Ofi Sofiana juga meng ajak untuk terus bersinergi dalam melaksanakan UU Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, “Mari kita wujudkan Indo nesia gemar membaca melalui pemanfaatan per - pustakaan,” seru Mira.

Mira Arismunandar, pendiri, dan penggerak Sanggar Seni Gema Citra Nusantara (GCN) yang kerap membawa tari tradisi Indonesia ke kompetisi tari dunia, dan selalu memenangkan penghargaan, baik di peringkat utama maupun posisi tiga besar, merasa sangat berterima kasih kepada ayahandanya, Wiranto Arismundandar, atas penghargaan yang diraihnya. “Karena beliaulah yang memperkenalkan saya pada dunia tari, sejak saya kanakkanak,” ungkap Mira dengan suara tersekat haru. Sementara Djaduk Ferianto mengkritik kenyataan yang ada di masyarakat bahwa koleksi lagu daerah yang terkenal dari masa ke masa tidak pernah berubah.

“Lagu daerah yang kita kenal dari dulu, yalagu yang itu-itu saja. Lagu Ampar-Ampar dari Kalimantan atau Angin Mamiridari Sulawesi. Padahal, lagu lain juga banyak. Dan, ratarata memiliki kedalaman makna dan nasihat bijak,” ujar Djaduk. Karena itu, Djaduk bukan hanya mengkritik, tapi mengambil inisiatif untuk mengumpulkan lagu daerah kemudian direkam ulang dalam album Sesaji Nagari.“Beberapa lagu daerah saya kulik, dan saya aransemen ulang, dengan mendekati rasa yang disukai anak muda sekarang,” tukasnya. Hengki Herwanto mengaku merasa surprisemenerima Anugerah Mitra Perpustakaan. Secara merendah ia menyebut, apa yang dilakukannya dalam MMI sebenarnya sederhana, yakni hanya menghimpun dan merawat karya rekam musik dari pemusik di Indo nesia sejak 2009.

“Kelebihan kami mungkin karena sebagi an besar koleksi yang kami miliki, baik berbentuk kaset, CD, atau plat merupakan sumbangan dari masyarakat. Ada sebagian kecil yang kami beli dari pasar loak,” ungkap Hengki. Nico yang mewakili Asiri untuk menerima Anugerah Mitra Perpustakaan mengatakan, selama ini kerja sama yang dijalani Asiri dengan Perpusnas berlangsung sangat lancar. “Kami dibuatkan oleh Perpusnas, International Standard Record Code (ISRC). Di mana, jika kita masuk ke dalam aplikasi, dan mengunduh lagu, maka secara otomatis lagu akan tersimpan di Perpusnas,” ungkapnya. Singkatnya, menurut Nico, anggota Asiri yang berjumlah lebih dari 80 perusahaan rekam an tidak perlu repot untuk menyerahkan karya fisik re - kaman ke Perpusnas.

“Akses dari sistem memungkinkan untuk kita meng-upload con - tent, dan ISRC langsung akan keluar. Kewajiban produser rekaman untuk menyerahkan karya rekamnya langsung sudah terlaksana,” ujarnya.

Thomas manggala