Edisi 21-07-2019
Tarif Puluhan Juta, Sekadar Tren atau Gengsi?


Gengsi tinggi selalu menjadikan alasan bagi para orang tua dalam memilihkan sarana pendidikan untuk sang buah hati. Bahkan, demi mendapatkan pendidikan yang baik, para orang tua tidak segan-segan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit jumlahnya.

Sekolah mahal selalu identik dengan fasilitas pendukung yang lengkap, kurikulum berstandar internasional, bahasa pengantar asing, serta guruguru yang didatangkan langsung dari luar negeri. Beberapa faktor tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Semua keunggulan tersebut menjadi tren tersendiri di kalangan orang tua dalam mencari sarana pendidikan. Na - mun, apakah metode ini sudah sesuai de - ngan standar pendidikan di Indonesia? Psikolog pendidikan Bondhan Kresna mengatakan, sekolah dengan mengedepankan fasilitas lengkap dan biaya mahal tidak selalu menjamin dengan keberhasilan anak. Dalam mencari lembaga pendidikan, setidaknya kita harus tahu apa yang dibutuhkan untuk anak dan sesuai dengan perkembangannya.

Jangan hanya mengedepankan gengsi atau tren, lantas anak menjadi korban. “Setidaknya kita harus tahu dahulu bahwa sarana fasilitas bukan jadi hal wajib. Yang penting bagaimana kualitas guru yang mendidiknya, karena hal tersebut yang akan berpengaruh pada perkembangan anak,” tambah Bondhan saat dihubungi KORAN SINDO . Salah satu publik figur yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional adalah Nadia Mulya. Salah satu alasannya karena dalam hal pendidikan, Nadia tidak ingin sekadar menyekolahkan tanpa mengetahui bagaimana metode pengajaran yang akan diberikan kepada anaknya.

“Untuk urusan pendidikan memang sudah dipersiapkan dengan matang dari mulai anakku berusia tujuh bulan. Buat aku, kalau dari awal dia bisa mendapatkan mutu pendidikan yang baik, tentunya saat dewasa nanti dia siap untuk bersaing,” jelas Nadia. Nadia pun menolak bila memasukkan anak di sekolah dengan biaya tinggi karena gengsi semata. “Dikatakan gengsi mungkin ya, tapi setiap orang tua pasti ingin mendapat - kan pendidikan yang layak, bahkan kalau perlu di atas kedua orang tuanya. Tapi tidak menutup juga karena adanya faktor gengsi dan ingin disejajarkan dengan anak artis atau pejabat. Tapi balik lagi, siapkan dananya,” jelas mantan Putri Indonesia ini.

Sebelum memilih sekolah, Nadia pun terlebih dahulu melakukan observasi ke sekolah yang akan dituju. Ia ingin sekolah yang metode pengajarannya tidak hanya teori, tetapi juga diimbangi dengan praktiknya. “Kebetulan anak-anakku sekolah yang mempunyai kurikulum standar sekolah terbaik yang ada di Singapura. Tentunya aku sudah cari tahu dahulu keunggulan sekolah tersebut,” tegas Nadia. Untuk masalah biaya, Nadia mengaku memasukkan kedua anaknya ke sekolah internasional yang terletak di Jakarta Selatan tersebut sekitar 4.000 dolar Singapura (Rp40,8 juta dengan kurs Rp10.200) per dua semester.

Wanita kelahiran Jakarta ini menambahkan, harapannya dengan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, agar bisa meng antarkan kedua putrinya menjadi seorang pemimpin serta bisa bersaing secara global. Berbeda dengan Nadia Mulya yang memilih menyekolahkan anaknya bertaraf internasional, Inggrid Kansil lebih memilih sekolah yang memiliki ilmu agama yang bagus. “Kebetulan saat ini anakku sudah ke perguruan tinggi. Tapi dulu waktu masuk jenjang pendidikan dasar, saya lebih memilih sekolah yang memang memiliki ilmu agama yang baik,” jelas Inggrid. Bagi istri mantan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan ini, pendidikan yang utama adalah soal agama.

Karena itu, mereka berdua sepakat menyekolahkan anaknya di sekolah yang materi pembelajaran agamanya tidak hanya dua jam dalam satu pekan. “Kalau sekolah negeri pada umumnya kan materi agama disampaikan hanya dua jam saja dalam satu minggu. Saya rasa itu tidak cukup kuat untuk membangun fondasinya,” tutur Inggrid. Meskipun memiliki biaya mahal, Inggrid pun tidak merisaukan asalkan sang buah hati bisa tumbuh baik dan memiliki bekal agama yang kuat. “Jangan sampai dalam memilih sekolah anak kita, sebagai orang tua menjadi AIDA (ambisi ibu derita anak). Jadi jangan hanya mengikuti tren dan gengsi saja, tapi kita harus liat apa yang dibutuhkan dan minat anak,” jelasnya.

Inggrid pun memiliki alasan tersen - diri mengapa tidak memilih menye ko - lahkan anaknya di sekolah negeri, karena kurangnya pendidikan normatif serta intelektual kurang mendukung. “Pendidikan sekarang, saya rasa tidak ada yang murah ya. Kalau kita mau yang terbaik untuk anak, pastinya kita sudah mempersiapkan dengan matang perencanaan biayanya. Jadi jangan asal murah, tapi tidak melihat mutu,” kata Inggrid. Bagi Inggrid, untuk menemukan sekolah yang tepat bagi anak diperlukan survei yang serius. Ia pun sering mela ku kan survei dengan melakukan pencarian lewat internet dan informasi lain yang didapatnya dari teman.

“Saya selalu mem biasakan untuk mencari tahu se kolah tersebut lewat media internet, lalu survei ke tempat. Pernah juga datang ke acara open house sekolah, hal ini aku lakukan untuk melihat berapa biayanya dan kelebihannya,” jelas Inggrid.

Aprilia s andyna