Edisi 21-07-2019
Banyak Peminat Meski Berbiaya Mahal


Sekolah swasta menjadi pilihan utama bagi sebagian kalangan, terutama bagi kelas atas.

Banyak pertimbangan yang menjadi alasan, misalnya pendalaman pelajaran keagamaan dan penguasaan berbagai bahasa yang diinginkan orang tua saat menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta Sekolah swasta kini mulai banyak peminatnya, termasuk dalam kategori sekolah dengan biaya yang fantastis. Memang tidak semua sekolah swasta favorit mahal. Menurut Saifudin dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Swasta Jakarta Selatan, biaya di sekolah swasta relatif dan bergantung pada kebijakan yayasan.

“Ada yayasan keluarga, organisasi bisa dilihat apakah yayasan tersebut ingin cari untung banyak atau tidak. Dilihat juga dari kelengkapan fasilitas serta segmentasi yang lebih kecil akan lebih mahal karena mereka punya target tertentu,” ujarnya. Sekolah swasta pun banyak dan ini menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat. Namun, bagi sekolah swasta dengan kelas menengah, tantangan yang dihadapi adalah bersaing dengan sekolah negeri yang gratis. Di Ibu Kota, sekolah negeri masih menjadi prioritas karena gratis sehingga sekolah swasta menjadi pilihan alternatif. Berbeda dengan sekolah swasta elite, sekolah swasta lain jika belum mapan, tidak memiliki sesuatu yang diandalkan akan sulit bersaing.

Saifudin menyebut bahwa di Jakarta beberapa swasta tengah mengalami kesulitan. Padahal, dengan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menggunakan sistem zonasi, secara tidak langsung menguntungkan sekolah swasta sebab aturan zonasi DKI Jakarta masih melihat nilai siswa, sehingga banyak siswa dengan nilai tidak mencukupi memilih masuk sekolah swasta. Lain dengan sekolah swasta yang sudah memiliki brand awareness seperti Labschool, atau sekolah khusus agama tertentu. PPDB sudah dibuka sejak Januari dan penuh sebelum tahun ajaran berakhir. Sekolah-sekolah swasta seperti itu sudah memiliki peminatnya sendiri meskipun biaya sekolah yang mahal. Sekolah swasta memang memiliki tujuan dan target mereka masing-masing terhadap siswanya.

Yayasan Al-Azhar, misalnya, memiliki target lulusan mereka minimal hafal satu juz Alquran, yakni juz 30. Lain dengan sekolah khusus keturunan Tionghoa, Pa Hoa di Tangerang Selatan, yang memiliki tujuan untuk menyebarluaskan ajaran Confucius. Begitu juga dengan Suluh di Pasar Minggu Jakarta Selatan yang lebih mengutamakan akhlak siswanya, sehingga saat diadakan PPDB maka ujian dengan tes pertama berupa wawancara. Saifudin yang juga kepala SMA Suluh, mengatakan bahwa sisi akademis anak masih bisa diperbaiki di sekolah. “Kalau etika dan perilaku akan lebih sulit untuk diubah. Kami melakukan wawancara untuk melihat sikap anak. Setiap tahunnya ada juga yang tidak lolos dalam tahap wawancara ini,” jelasnya.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas juga menegaskan bahwa sekolah swasta masih menjadi alternatif pilihan siswa, terutama untuk jenjang SMP dan SMA. Banyak juga yang beranggapan SMA negeri lebih berpeluang untuk masuk perguruan tinggi negeri sebab ada jalur undangan. “Untuk jenjang TK dan SD kalangan kelas menengah memang sekarang lebih terlihat banyak yang memilih sekolah swasta. Khususnya untuk sekolah keagamaan, karena dirasa usia anak-anak perlu dimantapkan urusan agama,” ungkapnya. Hal itu menjadikan sekolah swasta dengan segmen agama pun semakin laris.

Semakin tinggi permintaan masyarakat, lembaga swasta pun semakin banyak yang mendirikan sekolah berbasis keagamaan. Perbedaan sekolah negeri dan sekolah swasta juga dirasakan oleh guru dan kepala sekolah. Menurut Sekjen Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnain, pendidik di sekolah swasta memiliki semangat lebih untuk membuat sekolah diminati siswa hingga berusaha terus meningkatkan mutu sekolah. “Kalau kepala sekolah negeri duduk manis saja, sekolahnya sudah banyak peminatnya. Kalau swasta, guru dan kepala sekolahnya bagus, fasilitas juga baik, tapi masih harus berjuang. Perangkat sekolah di swasta memang memiliki daya juang tinggi,” ungkapnya.

Dewan Pembina Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jawa Barat ini juga menyatakan tidak heran jika sekolah swasta melakukan perang kualitas karena sejatinya mereka berusaha menjadi yang terbaik agar menjadi sekolah idaman siswa. Berlomba-lomba untuk menciptakan sekolah berkualitas berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan semakin tinggi. Tidak heran jika sekolah dengan biaya selangit masih menjadi impian orang tua siswa. Mengenai biaya tinggi sekolah swasta, pemerintah tidak campur tangan. Direktur Pembinaan SD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khamim mengatakan bahwa sekolah harus menyusun RKAS (Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah) disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun.

“Berdasarkan hasil rapat, seluruh warga sekolah meliputi pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah. Jadi, biaya itu sudah atas kesepakatan bersama,” ujarnya. Khamim juga yakin tingginya minat orang tua untuk menyekolahkan anak ke sekolah swasta bukan masalah ketidak - percayaan dengan sistem pendidikan dari pemerintah, melainkan masalah pilihan orang tua. Dia menyebutkan fakta yang ada sekarang, sekolah negeri tetap diminati dan banyak siswa yang tidak tertampung. Karena jumlah kursi terbatas, kehadiran swasta membantu pemerintah memenuhi kebutuhan pendidikan.

Ananda nararya