Edisi 21-07-2019
Dua Kurikulum demi Kualitas Pendidikan JA


KARTA –Tren sekolah swasta yang memadukan kurikulum nasional dan tambahan semakin diminati. Orang tua rela mengeluarkan biaya lebih buat anaknya jika dibandingkan sekolah di negeri.

Perpaduan dua kurikulum ini diyakini bisa mendapatkan pendidikan lebih baik. Sekolah yang menggunakan dua kurikulum tersebut disebut sebagai sekolah satuan perjanjian kerja sama (SPK). Direktur Pengembangan SD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khanim mengungkapkan, kehadiran sekolah swasta sangat membantu pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Menurutnya, kurikulum pengajaran nasional untuk sekolah negeri maupun swasta diserentakkan dengan menggunakan kurikulum tahun 2013.

Selain itu, pembinaan implementasi kurikulum juga dilakukan oleh masingmasing direktorat teknis tanpa membedakan antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Termasuk pula pelatihan dan pendampingan guru yang dilakukan oleh Kemendikbud terhadap seluruh sekolah negeri dan swasta yang dilakukan secara bertahap. “Sekolah swasta memang menawarkan banyak pengajaran tambahan sesuai visi misi sekolah. Pada prinsipnya sekolah negeri dan swasta adalah sama, pengelolaan oleh pemerintah,” tutur Khanim. Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, sekolah swasta dapat mempresentasikan sebuah lembaga, yayasan, bahkan organisasi masyarakat.

Dengan membuka sekolah, maka akan menjadi bagian dari penyebaran visi dan misi mereka. Sedangkan tren sekolah berbasis agama yang kini semakin meningkat, menurutnya, disebabkan oleh tingkat spiritual personal yang juga meningkat. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Taryono mengungkapkan, minat masyarakat untuk sekolah di swasta sangat besar dibandingkan memilih sekolah negeri. Tercatat dari sekitar 23.000 lulusan SD dan madrasah ibtidaiyah, sekitar 11.000 siswa yang lulus langsung memilih sekolah swasta. Sedangkan yang mendaftar masuk ke Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kurang dari 11.000 anak.

“Dari PPDB itu yang keterima hanya 7.000 siswa dan sisanya sekitar 4.000 masuk ke sekolah swasta yang belum penuh. Padahal, sekolah swasta di Tangsel banyak yang merupakan sekolah mahal,” tutur Taryono kepada KORAN SINDO. Salah satu sekolah swasta di Tangsel yakni Yayasan Al- Azhar. Direktur Al-Azhar BSD Noor Khoiruddin mengatakan, kurikulum yang diterapkan di Al-Azhar selain dari kurikulum nasional, juga ditambah dengan kurikulum khusus berbasis agama dengan pembiasaan ibadah. Persaingan sekolah swasta berbasis Islam, menurutnya, cukup ketat di wilayah Tangsel sehingga membuat Al-Azhar terus berinovasi. Dalam dua tahun terakhir Yayasan Al-Azhar turut mengembangkan kurikulum berbasis teknologi informasi untuk siswa SMP dan SMA.

Khusus bagi siswa SMA turut dikembangkan kurikulum dari Cambridge sebagai pelengkap. Biaya masuk sekolah SMA sebesar Rp38 juta, SMP Rp36 juta, dan SD Rp34 juta, menurutnya, telah sesuai dengan kualitas program yang diterapkan dan pelayanan sekolah. “Al-Azhar tidak mengadakan subsidi silang, tetapi juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi,” tandasnya. Selain sekolah berbasis Islam, sekolah Pahoa di Sumarecon Tangerang termasuk sekolah SPK dengan kurikulum nasional yang diperkaya dengan kurikulum bahasa Mandarin dari Habei Normal University, bahasa Inggris dan Cambridge, dan Matematika dari Singapura.

Kepala Bagian Humas dan Promosi Pahoa, Attlia Fercyanna mengatakan, keunikan Pahoa dari sekolah lain adalah Pahoa memiliki fasilitas yang mengusung konsep peduli alam pemanasan global sehingga gedung sekolah sangat ramah lingkungan dan ecogreen. Dengan demikian, gedung sekolah membentuk ekosistemnya sendiri tanpa menggunakan pendingin udara (air conditioner).

Ananda nararya