Edisi 21-07-2019
Kencana Energi Bidik Dana IPO Rp410 M


JAKARTA- PT Kencana Energi Lestari Tbk berencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering /IPO) pada semester II tahun ini dengan melepas sebanyak-banyaknya 977,68 juta saham biasa atas nama atau sebanyak-banyaknya 25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Perseroan menawarkan saham di kisaran harga Rp250-420 per saham dengan perkiraan perolehan dana segar sekitar Rp244,4 miliar hingga Rp410,6 miliar. Dana hasil IPO itu rencananya digunakan untuk ekspansi usaha, baik di bidang energi pembangkit listrik maupun energi terbarukan lainnya. ”Kami telah melakukan berbagai upaya persiapan IPO ini dengan beberapa aspek, di antaranya laporan keuangan konsolidasian yang diaudit untuk cut off 31 Maret 2019. Persiapan lainnya meliputi perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia,” kata Chief Financial Officer Kencana Energi Lestari Giat Widjaja di Jakarta, Jumat (19/7).

Bersamaan dengan aksi itu, perseroan juga mengadakan program alokasi saham karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebanyakbanyaknya 2% dari jumlah saham yang ditawarkan lewat IPO atau sekitar 19,55 juta. Perseroan memberikan mandat kepada PT RHB Sekuritas Indonesia, PT Bahana Sekuritas dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Pelaksanaan Emisi untuk IPO ini. Masa penawaran awal (book building ) rencananya dilakukan pada 17-30 Juli 2019. Sementara itu, masa penawaran umum perdana saham diperkirakan akan berlangsung pada 9-14 Agustus 2019.

”Kami berharap saham perusahaan dapat dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 20 Agustus 2019,” ujar Giat. Terkait penggunaan dana hasil IPO, secara lebih terinci Giat membeberkan, mayoritas atau sebesar 55% akan digunakan untuk pengembangan usaha di bidang energi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan energi terbarukan lainnya. Kemudian, sekitar 25% untuk modal kerja dan sekitar 20% untuk belanja modal. PT Kencana Energi Lestari adalah salah satu pemain utama di sektor PLTA yang telah beroperasi di Indonesia. Perseroan memiliki profil usaha yang unik dengan model bisnis penyediaan energi terbarukan yang didukung oleh kontrak penyediaan listrik jangka panjang PPA (power purchase agreement ) kepada PLN, yaitu selama 20 hingga 30 tahun sejak dioperasikannya PLTA.

Hingga saat ini, perseroan telah memiliki tiga proyek PLTA di Pulau Sumatera dan Sulawesi dengan total kapasitas produksi sebesar 49 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, Proyek PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW telah beroperasi di Sumatera Utara, Proyek PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW yang saat ini sedang menunggu commercial operation date (COD) yang dijadwalkan Agustus-September 2019 dan yang berlokasi di Bengkulu, serta Proyek PLTM Madong berkapasitas 10 MW yang saat ini sedang dalam tahap persiapan konstruksi di Sulawesi Selatan.

Heru febrianto








Berita Lainnya...