Edisi 21-07-2019
Berdiaspora Lalu Juara


KAIRO–Ada peran Prancis pada gelar juara Piala Afrika 2019 yang disandang Aljazair seusai menang 1-0 atas Senegal pada partai final di Cairo International Stadium, Sabtu (20/7).

Tim berjuluk El Khadra tersebut menumpukan kekuatan skuad mereka kepada pemain yang lahir dan besar di Prancis. Ikatan keduanya sudah berlangsung sejak Aljazair berada di bawah jajahan Prancis (1830-1962). Penjajahan yang berlangsung sekitar 132 tahun itu membuat seluruh sendi kehidupan Aljazair tidak bisa dipisahkan dari Prancis. Ditambah gelombang imigran dari Aljazair yang datang ke Prancis. Sebelum revolusi, pe - main Aljazair yang memperlihatkan keung - gul an sepak bola dipanggil ke tim nasional Prancis dan mampu mewakili Prancis di kompetisi besar seperti Piala Dunia. Mereka tidak diizinkan mewakili Aljazair di Piala Dunia FIFA karena saat itu belum diakui sebagai negara.

Setelah revolusi, Aljazair kemudian men - coba menghidupkan sepak bolanya. Masalah - nya, mereka tidak memiliki sumber daya dan infrastruktur mengembangkan pemain muda dengan benar. Namun, mereka tak menyerah. Pemerintah dan federasi sepak bola Aljazair ke mudian menjadikan Prancis sebagai sema cam inkubator dalam pengembangan sepak bola. Sisi positif dari dinamika ini adalah bahwa pemain Aljazair bisa mendapatkan pelatihan dan pengalaman sepak bola berkualitas di Prancis. Pemain-pemain potensial Aljazair disalurkan ke Les Bleus . Mereka dengan cepat menjalankan hak kewarganegaraan ganda dari pemain-pemain Aljazair ini karena memiliki nilai tinggi dari sisi kualitas.

Beberapa pemain Aljazair, termasuk Zinedine Zidane yang legendaris, telah membawa banyak pujian dan kemuliaan bagi Prancis terutama ketika menjuarai Piala Dunia 1998. Sejak saat itu, imigran asal Aljazair semakin berkembang di Prancis. Banyak dari mereka yang lahir, dewasa, dan berkarier di sana menggeluti sepak bola. Hingga akhirnya memperkuat klub-klub Prancis. Meski begitu, nasionalisme terhadap negara nenek moyang, yaitu Aljazair, tidak pernah luntur. Perlahan pasti Aljazair mulai bangkit. Kontribusi diaspora dengan Prancis berperan penting meloloskan Aljazair ke Piala Dunia 2010 dan 2014.

Di Piala Afrika, El Khadra menunjukkan eksistensinya dengan lolos ke Piala Afrika empat edisi terakhir (2013, 2015, 2017, 2019). Ani mo imigran Aljazair di Prancis begitu luar biasa ketika menang 2-1 atas Nigeria, Senin (15/7). Sayangnya, perayaan kegembiraan me reka diwarnai bentrok dengan kepolisian. Aki bat nya, polisi menahan sekitar 300 orang. Ke kerasan juga merembet ke Kota Marseille dan Nyon. Hal tersebut membuat Belmadi prihatin. Secara khusus dia meminta fans di Prancis tetap tertib dengan menghindari berbuat keonaran. “Kami ingin menjadi perwakilan dan menunjukkan kepada dunia apa yang bisa dilakukan orang-orang Aljazair. Kami juga ingin perayaan tetap teratur dan untuk menghormati negara tempat kami tinggal (Prancis),” ungkap Belmadi.

Dukungan besar yang diberikan fans tidak sia-sia. Puncaknya, Aljazair merengkuh Piala Afrika keduanya setelah 1990, lewat gol semata wayang Baghdad Bounedjah ke gawang Senegal pada menit ke-2. Dari 23 skuad yang diboyong Djamel Belmadi ke Mesir, 14 di antara nya kelahiran Prancis. Hanya sembilan yang berasal dari Aljazair. Pada starting line up melawan Senegal, terdapat tujuh pemain kelahiran Prancis. Beberapa di antaranya sempat memperkuat tim nasional Prancis usia dini, yakni Adi Rais Cobos Adrien M’Bolhi (Prancis U-17, U-18), Mehdi Embareck, Aissa Mand, Adlene Guedioura, Ismael Bennacer (Prancis U-18, U-19), Sofiane Feghouli (Prancis U-18, U21), dan Riyad Mahrez.

Menurut Belmadi, keberhasilan Aljazair mengakhiri puasa gelar Piala Afrika selama 29 tahun adalah sebuah kebanggaan baik seluruh warga di Tanah Air maupun di Prancis. Dia menilai ini merupakan tonggak kebangkitan Aljazair untuk meraih kesuksesan di masa depan. “Saya sangat bahagia untuk negara kami. Untuk semua orang yang menantikan gelar ini sejak lama,”paparnya

Alimansyah

Berita Lainnya...