Edisi 13-08-2019
Hong Kong Lumpuh WNI Diimbau Jaga Diri


HONG KONG –Kondisi Hong Kong kian tak terkendali. Teranyar, aksi unjuk rasa memutuskan akses Hong Kong de ngan dunia internasional kemarin.

Hal ini terjadi setelah Bandara Hong Kong membatalkan semua penerbangan menyusul aksi unjuk rasa yang menduduki salah satu bandara tersibuk di dunia. Kondisi ini menunjukkan eskalasi dramatis demonstrasi antipemerintah di pusat keuangan dunia tersebut. Merespons perkembangan situasi di Hong Kong, Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong kembali mengingatkan WNI untuk tidak ikut bergabung atau mengambil posisi yang berdekatan dengan peng unjuk rasa.

Sebelumnya, Kamis (8/8), KJRI juga meng imbau WNI ter utama pekerja mi gran Indonesia di Hong Kong agar bijak dalam ber media so sial dengan menghindari akti vitas yang me ru gikan diri sendiri. KJRI meminta mereka berhati-hati dalam ber aktivitas saat bepergian dan meng utamakan keselamatan pribadi. “Taati peraturan dan perintah serta arahan petugas penegak hukum Hong Kong,” demikian imbauan KJRI terhadap WNI dan pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Operasi Bandara Hong Kong memang harus dihen tikan. Betapa tidak, sekitar 5.000 aktivis menduduki pintu kedatangan Bandara Hong Kong.

Selain mengganggu opera sional bandara, lalu lintas dari dan ke bandara juga ter ke - na dampaknya. Aksi kemarin merupakan rangkaian aksi yang telah berlangsung empat hari dan mengganggu aktivitas negeri tersebut. Bandara Hong Kong me rupakan bandara kargo tersibuk di dunia dan bandara tersibuk untuk kategori penumpang kedelapan di dunia. Berdasarkan data VariFlight, akibat aksi tersebut, sebanyak 190 pe nerbangan terkena dampak pem - batalan penerbangan. “Operasional Bandara Inter nasional Hong Kong mengalami gangguan serius. Semua penebangan dibatalkan,” ujar otoritas Bandara Hong Kong, dilansir Reuters. “Semua penum pang diminta untuk mening galkan bandara secepatnya,” pinta mereka.

Berdasar pantauan, ribuan aktivis menduduki pintu kedatangan selama beberapa hari. Mereka mengenakan pakaian berwarna hitam dan sebagian besar adalah anak muda. Mereka berteriak, “Tidak ada perusuh, hanya tirani!” dan “Bebaskan Hong Kong!” Para aktivitas menggelar de monstrasi untuk me nentang melemahnya prinsip “satu negara, dua sistem” dengan berkurangnya otonomi Hong Kong. Mereka memprotes intervensi China yang sangat kuat terhadap pemerintahan eksekutif Hong Kong. Mereka juga meminta pengunduran diri pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dan meminta penyelidikan inde penden dalam penanganan demonstrasi.

Sampai kapan aksi akan berlangsung, belum bisa di pastikan. Polisi menolak untuk mem beberkan langkah untuk mem bubarkan para demons tran. Kemarin bahkan tidak ada polisi di pintu ke be rangkatan dan kedatangan bandara. Peningkatan eskalasi demonstrasi di Hong Kong menjadi ancaman dan krisis dalam beberapa dekade terakhir. Itu juga menjadi tantangan berat bagi Presiden China Xi Jinping yang telah berkuasa sejak 2012. Protes itu dimulai dengan perlawanan terhadap Rencana Undang-Undang (RUU) ekstra disi bagi tersangka ke China. Hingga akhir pekan lalu para demonstran memblokade beberapa jalanan di kota. Polisi pun berusaha membuka blokade dan membongkar blokade, tetapi mereka mengalami kegagalan.

Banyak demonstran ditang kap, beberapa di anta ranya mendapatkan penyiksaan dan perlakuan kasar dari aparat keamanan. Polisi telah menangkap lebih dari 600 orang sejak kerusuhan yang dimulai sejak dua bulan lalu. De-monstrasi semakin panas ketika seorang paramedis perempuan terkena tembakan gas air mata di mata kanannya. Itu memicu serangkaian protes dari pekerja medis. Selain menjaga diri, KJRI di Hong Kong kemarin juga me ngimbau agar WNI yang memiliki rencana penerbangan ke luar Hong Kong segera menghubungi agen travel atau maska pai penerbangan untuk memastikan kembali status jadwal penerbangannya.

“Segera mencari alternatif tempat tinggal dan akomodasi sementara di Hong Kong sampai men dapatkan kepastian jadwal penerbangan berikutnya,” de mi kian imbauan KJRI. Mereka juga meminta agar WNI untuk terus memonitor perkembangan status jadwal penerbangan melalui jalur resmi antara lain situs website resmi Bandara Internasional Hong Kong ataupun maskapai penerbangan. “WNI yang sedang di bandara untuk tetap ten ang dan menunggu sampai moda transportasi berjalan kembali,” demikian seruan KJRI.

China: Demonstrasi=Terorisme

Kantor Penghubung China untuk Makau dan Hong Kong (HKMAO) menyatakan kota itu telah mencapai titik kritis setelah demonstrasi terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. “Demonstran Hong Kong kerap menggunakan alat berbahaya untuk menyerang polisi dalam beberapa hari terakhir. Itu merupakan kejahatan serius dan menjadi akar ber kembangnya terorisme,” kata juru bicara Kantor Penghubung China untuk Makau dan Hong Kong Yang Guang. Secara khusus dia mengecam tindakan pelemparan bom molotov ke kantor polisi yang mengakibatkan seorang petugas terluka.

Dia mengungkapkan tindakan kriminal itu harus diperangi sesuai dengan hukum tanpa diberi pengampunan. Yang mengungkapkan, Hong Kong sudah masuk ke titik kritis. “Semua pihak yang peduli dengan masa depan Hong Kong harus tegas dan mengatakan tidak untuk perilaku kekerasan, dan mengatakan tidak bagi orang yang melakukan ke kerasan,” katanya. Dalam keterangan terpisah, perwakilan Pemerintah China di Hong Kong juga meng gambarkan tindakan kekerasan para demonstrasi itu sebagai “aksi teroris”. “Tidak ada di dunia ini menoleransi tindakan ekstrem itu,” demikian keterangan Kantor Penghubung China untuk Makau dan Hong Kong.

Mereka mengung kapkan, jika China mengizinkan aktivitas terorisme itu berlanjut, Hong Kong akan jatuh ke jurang maut. Menyusul pernyataan kontroversial HKMAO tersebut, Kepolisian Hong Kong langsung memberikan ke terangan. Mereka mengungkapkan tingkat ancaman dan kekerasan di Hong Kong seharusnya tidak disamakan dengan terorisme. Deputi Komisioner Polisi Hong Kong Chris Tang Pingkeung mengungkapkan, demons trasi dan terorisme merupakan hal berbeda. PBB sudah mendeskripsikannya apa saja yang disebut dengan tind - ak an terorisme.

“Memang ada demonstran yang menggunakan senjata mematikan untuk menyerang polisi. Namun, kita akan terus memonitor situasi,” katanya, dilansir South China Morning Post. Pemerintah Hong Kong menyebut demonstrasi itu sebagai aktivitas ilegal dan berbahaya. Mereka menyatakan aksi itu berdampak terhadap melemahnya ekonomi dan mengganggu kehidupan warga Hong Kong.

Sementara itu, juru bicara PM Inggris Boris Johnson meng ungkapkan pe me rin tahannya memberikan perhatian serius terhadap kekerasan terbaru di Hong Kong. Johnson juga menginginkan semua pihak untuk tetap menahan diri. “Inggris meminta pe me rintahan Hong Kong untuk menjalin dialog konstruktif dengan semua pihak,” ucapnya.

Andika hendra m