Edisi 13-08-2019
Tren Peringkat Turun, TNI Masih Dipandang Dunia


JAKARTA –Pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan, perlu menggenjot belanja pertahanan. Langkah ini perlu dilakukan untuk memperkuat otot Tentara Nasional Indonesia (TNI), sekaligus daya tangkal pertahanan Indonesia.

Akselerasi belanja pertahanan dibutuhkan mengingat kekuatan TNI menunjukkan tren menurun dibandingkan dengan militer negara-negara se de rajat. Fakta ini bisa dilihat dari rilis terbaru Global Fire power. Pada 2019 ini, TNI berada di pe ringkat 16 di antara kekuatan mi liter-militer dunia. Posisi ini turun pe ringkat dibandingkan tahun se be lum nya. Pada 2017, TNI bahkan sem pat men duduki posisi ke-14. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sis riadi mengaku adanya penurunan ter sebut. Namun, TNI masih ber syukur karena kekuatan TNI masih dipandang. “Kita bersyukur, tapi tidak buat kita lengah. Ini merupakan prestasi pemerintah dan masyarakat, bukan cuma TNI. Pemerintah sudah nga sih anggaran kita beli alutsista yang terbaik,” ujarnya kepada SINDOnews kemarin.

Dia menuturkan, pembangunan kekuatan TNI berdasar kan pada dua hal. Pertama, capability base yang melihat jenis-jenis ancaman seperti apa, baik ancaman dari dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, kekuatan yang dibangun berdasarkan pertimbangan aspek ancaman. Kedua, lanjut dia, berdasarkan mission oriented . Hal ini mengacu pada tugas pokok dalam menghadapi ancaman untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berdasarkan per timbangan ini, kekuatan militer dibangun terkait tugas pokok. “Kita tingkatkan ke mam puan alutsista dan manusianya. Terpenting itu, man behind the gun. Program Presiden Jokowi yang mau bangun SDM, itu fo kus pada kualias manusianya,” ucap nya.

Dia kemudian me ncon tohkan kemampuan TNI yang diakui dunia, yakni ketika prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB mampu mengajak pemberontak di Afrika menyerahkan senjatanya secara sukarela tanpa ada letusan. “Di PBB, peran kita diakui. Bah - kan, kita jadi referensi bagi petugas penjaga perdamaian di kemudian hari,” katanya. Sisriadi menandaskan, untuk pembangunan SDM, TNI tidak menutup diri dari kemajuan yang terjadi di luar se lanjutnya di konversi dengan pendidikan yang telah ada di TNI. “Kita adopsi dari luar, kita juga punya penidikan sendiri. di Akmil sekarang ada pola pen di dikan kesarjanaan. Untuk pendidik an leadership dan battleship dari kita. Sekarang ada pela tihan-pelatihan yang berkaitan dengan sistem pertempuran siber,” katanya.

Data terbaru menunjukkan mi li ter Amerika Serikat (AS) masih paling dig daya. Posisinya diikuti Rusia, China, India, Prancis, Jepang, Korea Selatan (Korsel), Turki, Jer man, Italia, Mesir, Brasil, Iran, Pakistan, Indonesia, Israel, Korea Utara (Korut), Aus tra lia, dan Spanyol. Dari dinamika yang ada, Bra - sil menunjukkan akselerasi signi fikan karena pada 2017 hanya berada di peringkat ke-17 dan Iran yang berada di po si si 21. Ken dati demikian, TNI Indonesia masih dipandang lebih kuat dibanding militer Israel, dan di kawasan ASEAN, TNI ma sih merupakan yang te r kuat.

Sebagai informasi, peringkat Global Firepower menggunakan lebih dari 55 faktor untuk menentukan peringkat suatu negara, yang memungkinkan negara-negara yang lebih kecil, le bih maju secara teknologi u ntuk bersaing dengan negara-negara yang lebih besar. Stabilitas keuangan suatu negara diper hitung kan sebagai faktor penentu. Faktor inilah yang mungkin membuat Iran menempati posisi 14 besar. Pemeringkatan ini hanya didasarkan pada jum lah pasukan, jumlah senjata yang dimiliki suatu negara, dan faktor-faktor lain seperti geo grafi, sumber daya alam, dan in dustri lokal. Senjata atau cada ngan nuklir tidak diperhitung kan.

Menurut Global Firepower , data peralatan militer Indonesia antara lain tank tempur 315 unit, kendaraan tempur armor 1.300 unit, self-propelled artilery 141 unit, towed artillery 356 unit, proyektor roket 36 unit, dan berbagai persenjataan lain termasuk jet tempur, kapal selam, dan kapal perang. Dari berbagai negara, militer Iran mencuri perhatian karena melompat ke posisi 14, me ngalahkan Israel yang menempati peringkat 17. Posisi Iran tetap kuat meski menghadapi ber bagai macam sanksi dari AS. Menurut data tersebut, anggaran pertahanan Israel men capai USD19,6 miliar, jauh melebihi banyak negara di peringkat 20 besar dunia.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR Evita Nursanty tetap bersyukur dengan kekuat an yang dimiliki TNI, walaupun secara peringkat menunjukkan penurunan. “Kita bersyukur mi liter kita tetap berada di 20 besar dunia selama beberapa tahun ini,” ujar Evita kepada SINDOnews kemarin. Wakil rakyat asal daerah pemilihan Jawa Tengah III ini menilai hanya naik turun pe - ring kat sebagai hal wajar, termasuk fluktuasi kekuatan TNI di antara militer negara-negara Asia yang berada di posisi 6-9 besar. Kendati demikian, TNI masih terkuat di Asia. Dia berha rap ke depan TNI bisa semakin kuat. “Seiring dengan upaya kita meningkatkan alutsista, anggar an dan personel militer kita ber harap ke depan kita bisa berada di 10 besar. Saya berharap begitu,” katanya.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini kemudian menyoroti perkembangan militer Vietnam yang ada di posisi 20 pada 2018, lalu melorot ke-23 pada 2019. Begitu pun peringkat Israel dan Korea Utara, yang juga turun. “Kita masih lebih kuat jika dilihat dari ranking itu, bahkan kita jauh lebih kuat daripada Australia maupun Arab Saudi,” tuturnya. Selain itu, dia juga meng ga - risbawahi tren militer Pakistan tahun lalu di bawah Indonesia, sekarang naik satu peringkat di atas TNI. “Tapi sekali lagi, ini fluk tuasi normal saja,” ujarnya. Pengamat militer dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi juga menilai militer Indonesia masih diperhitungkan kekuatannya.

“Ranking militer dunia naik-turun wajar. Indonesia masih masuk 20 besar di antara ratusan negara itu menunjukan bahwa militer Indonesia masih bisa diperhitungkan,” ung kapnya. Kendati demikian, Khairul menyarankan agar Indonesia segera melakukan modernisasi alutsista. Dia menunjuk langkah negara-negara yang masuk 10 besar mempunyai kekuatan alutsista modern yang luar biasa. “Jika Indonesia dengan anggaran 17,5 triliun yang diajukan oleh Kementerian Pertahanan disetujui yang prioritasnya untuk pembelian alutsista, tentu akan menambah ke kuatan militer kita. Anggaran itu juga masih dalam batas normal untuk pertahanan Indonesia,” ujar Khairul.

Selain modernisasi alutsista, Khairul juga menekankan peningkatan sumber daya manu sia agar militer Indonesia menjadi profesional. “Pem belian alutsista itu sesuatu yang penting, tapi pembangunan SDM itu juga penting, sehingga akan tercipta personel yang tang guh profesional, dan akan ber dampak strategis pada terciptanya keamanan negara.”

Sucipto/ binti mufarida