Edisi 13-08-2019
Konflik Korsel-Jepang Memanas


SEOUL –Korea Selatan (Korsel) menciptakan kategori negara baru untuk menghukum Jepang. Langkah ini dilakukan saat kedua negara saling mencabut negara lain dari daftar mitra dagang istimewa akibat perang dagang.

Pejabat Korsel meng umumkan pihaknya akan secara resmi mencabut Jepang dari “daftar putih” negara-negara dengan status perdagangan jalur cepat dan menurunkan Jepang ke kategori baru mitra dagang mulai September mendatang. “Kategori dagang baru itu un tuk negara-negara yang ti dak patuh pada prinsip kon trol ekspor internasional,” ungkap Menteri Industri Korsel Sun Yun-mo, dilansir Reuters. Pejabat senior Kemen teri an Perdagangan Korsel Park Taesung menambahkan, “Jepang telah didaftar sebagai salah satu negara dalam daftar itu karena melakukan praktik-praktik dagang yang tak patut.”

Park tidak menyebut secara pasti apa tuduhan Korsel pada Jepang. Sebagai bagian dari kategori baru yang diturunkan levelnya itu, Jepang akan tetap dapat berdagang dengan Kor sel, tapi akan menjadi target dari proses aplikasi ekspor yang lebih lama. “Perusahaan-perusahaan Korsel yang mengekspor produkproduk strategis ke Jepang harus mengisi lima dokumen aplikasi, dari sebe lumnya hanya tiga dokumen, dengan proses tunggu mening kat dari lima menjadi 15 hari,” papar laporan Nikkei Asian Review. Pengumuman Seoul itu dilakukan 10 hari setelah Jepang mengeluarkan Korsel dari “daftar putih” miliknya.

Langkah ini mengharuskan para eksportir Jepang dengan produk-produk strategis harus melalui pemeriksaan tam bah an untuk memastikan produk mereka tidak akan digunakan oleh militer atau industri sen - jata Korsel. Pembatasan baru oleh Jepang itu mulai berlaku pada 28 Agustus. “Kementerian Per - dagangan Korsel menyangkal langkah terbaru mereka seba gai pembalasan terhadap Jepang,” ungkap laporan Nikkei Asian Review. Jepang belum memberikan respon resmi atas langkah ter - baru Korsel. Perang dagang antara ke dua negara kian mem - buruk setelah dua negara saling menurunkan level hubungan dagang bilateralnya. Jepang menyatakan lang - kah mereka pada Korsel itu bu - kan untuk memanaskan pe rang dagang.

“Ini bukan larang aneks - por,” tutur Menteri Per da gang - an Jepang Hiroshige Seko. Ini pertama kali Jepang mengeluarkan satu negara dari daftar putih perdagangannya. Dalam daftar itu, masih ada negara-negara Barat seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman. “Korsel juga akan mem percepat upaya meng - ajukan komplain di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), terkait kontrol ekspor Je pang,” papar Menteri Keuangan Kor sel Hong Nam-ki kepada Reuters .

Jepang pada 1 Juli telah menerapkan batasan ekspor pada produk fluorinated polyimide, photoresists, dan hidrogen fluoride. Industri elektronik domestik Korsel sangat mem butuhkan bahan baku tekno logi tinggi itu untuk membuat semikonduktor dan layar display . Langkah Jepang itu sema kin merusak jaringan suplai global untuk produk-produk tekno - logi yang telah meng hadapi ketidakpastian karena perang dagang antara AS dan China. “Langkah yang diambil Jepang hari ini sesuatu yang merusak kerja sama ekonomi jangka pan - jang dan kemitraan bersahabat antara dua negara kita, menjadi tantangan berat bagi hubungan bilateral,” ungkapPresidenKorsel Moon Jae-in saat rapat kabinet darurat.

“Terlebih lagi, ini aksi me - rusak yang akan meng han cur - kan jaringan suplai global dan melemahkan ekonomi global. Ini jelas memicu kecaman dari komunitas internasional,” tegas Moon. Moon menyatakan peme - rin tahannya akan membantu dengan segala cara untuk me - minimalkan dampak buruk bagi bisnis akibat pengetatan ekspor Jepang tersebut. Perang dagang antara AS dan China juga kian memanas setelah Washington menuduh Beijing sebagai manipulator mata uang, seiring terus melemahnya nilai yuan. Bank Sentral China (PBOC) segera merespons dengan menya takan tuduhan AS itu akan se makin merusak tata keuangan internasional dan mengacaukan pasar keuangan.

Menurut PBOC, sikap AS itu memanaskan ketegangan mata uang serta mencegah pemu lih an perdagangan dan ekonomi global. Inimenjadiresponsresmi pertama China atas lang kah AS meningkatkan ketegangan dalam perang dagang kedua negara. “China tidak pernah meng - gunakan dan tak akan menggunakan nilai tukar mata uang sebagai alat untuk meng hadapi konflikdagang,” paparper nya ta - an PBOC, dilansir Reuters. PBOC menambahkan bah wa China mengimbau AS me nahan kudanya sebelum ju rang dan mewaspadai kesalah annya serta kembali dari jalur yang salah.

Tuduhan AS kepada China itu memicu konflik lebih besar antara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut. Situasi ini juga membuat pe rang dagang akan berlangsung lebih lama dari perkiraan semula. Konflik antara kedua ne gara pun menyebar tak hanya mengenai tarif, tapi juga meli bat kan sektorlainsepertitek nologi. Para pengamat khawa tir konflik antara kedua negara dapat merusak kepercayaan bisnis dan per tumbuhan ekonomi global.

Syarifudin