Edisi 13-08-2019
Setelah Biodisel 20%, Berikutnya B50


JAKARTA – Program mandatori penggunaan biodiesel sebesar 20% (B20) pada bahan bakar minyak (BBM) jenis so lar akan terus ditingkatkan hingga mencapai 50% (B50).

Langkah ini diharapkan bisa membantu mengurangi impor minyak di masa mendatang. Rencana tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka rapat terbatas di Kantor Pre si den, Ja karta, kemarin. Presiden menginginkan, pada ak hir 2020 pencampuran biodiesel 50% bisa direalisasikan. Ha nya, sebelum itu program pencampuran biodiesel ter le bih dahulu dila kukan sebanyak 30% awal tahun depan. “Saya ingin agar B20 ini nanti pada Januari 2020 itu su dah pindah ke B30. Selanjutnya nan ti di akhir 2020 sudah me lon cat lagi ke B50,” ujar Presiden. Jokowi mengatakakan, lang kah penggunaan biodiesel 50% diharapkan mengurangi ke ber gantungan pada energi fosil dan impor BBM.

Bahkan, ujar dia, jika ke bi ja kan ini dilakukan se cara konsis en maka akan ada peng he mat an anggaran yang cukup besar. “Kalkulasinya adalah jika kita konsisten menerapkan B20 ini kita bisa menghemat kurang lebih USD5,5 miliar per tahun. Ini angka yang besar sekali,” ung kapnya. Selain itu, penerapan biodisel juga dapat menimbulkan efek berganda bagi permintaan minyak sawit di pasar domestik, sehingga pada akhirnya dapat memberikan keuntungan bagi industri kelapa sawit nasional.

“Yang tidak kalah pen ting nya, penerapan B20 juga akan menciptakan permintaan do mes tik akan CPO (minyak sawit mentah) yang sangat be sar yang kita harapkan me nimbulkan mul tiplier effect ter ha dap pe ta ni, pekebun, dan pe kerja yang ada di (in dustri) ke la pa sawit,” tuturnya. Selain meningkatkan kua litas lingkungan, penggunaan bio diesel tersebut juga dimak - sudkan untuk memberikan posisi tawar yang besar bagi In donesia terkait dengan produk ke - lapa sawit nasional. Dengan demikian, produksi minyak sawit yang melimpah di Tanah Air dapat diserap sebagai bahan baku penerapan kebijakan ter sebut sehingga dapat meng angkat harga CPO di pasar global.

“Tekanan terhadap kelapa sawit kita, saya kira perlu di an - tisipasi dari dalam negeri se - hingga kita memiliki sebuah bar - gaining position yang baik. Baik terhadap Uni Eropa mau pun negara-negara lain yang men - coba untuk membuat bar ga ining position kita lemah,” ujarnya. Pada kesempatan itu, man - tan wali kota Surakarta ini me - min ta jajarannya untuk men - da lami kemungkinan peng - olahan minyak sawit menjadi bahan ba kar “avtur hijau”. Pro - duksi avtur hijau tersebut di - harapkan juga dapat me ngu - rangi defisit ne ra ca per da ga - ngan dan transaksi berjalan me lalui penurunan im por mi - nyak atau produk minyak. Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Dono Boestami menyatakan siap melaksanakan arahan Pre - si den dalam pogram B30 awal tahun mendatang. Me nu rut - nya, langkah tersebut akan men jaga kestabilan harga sawit.

“Harus bisa. Ini harus bisa, tadi Pak Presiden sudah bilang kalau untuk industri sawit kalau enggal jalan, harganya jatuh ba - nget. Supply and demand, begitu saja,” tuturnya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada periode Ja nua - ri-Juli 2019, penghematan mela lui program man da tori B20 mencapai USD1,66 miliar (se ki - tar Rp23,5 triliun). Peng he matan tersebut lan tar an ber kurangnya impor solar se bagai im - bas dari pen cam pur an biodisel pada minyak solar. “Kalau kita melihat harga MOPS (Mean of Platts Si nga - pore) diesel dikalikan dengan volume FAME (Fatty Acid Methyl Esters) yang di dis tri bu - sikan, kita sudah 97% berhasil. Maka penghematan itu sekitar USD1,66 miliar,” ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, kemarin.

Arcandra me lanjutkan, volume peng gu - naan FAME sepanjang Januari- Juli 2019 mencapai 2.947.764 kiloliter (kl) atau 97,4% dari target tahun ini yang sebesar 6,2 juta kl. “FAME yang terserap itu penggunaannya 44% dari kuota,” ungkapnya. Dia menambahkan, saat ini uji coba program B30 terus dilakukan dan akan berakhir pada Oktober 2019. Selama masa ujicoba tersebut, ESDM juga melakukan evaluasi.

Komitmen Investasi

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, sejumlah perusahaan CPO dan Pertamina telah menyatakan minat untuk menanamkan investasi guna mengembangkan green diesel atau B100. Menurut Darmin, potensi produksi green diesel bakal lebih besar jika banyak perusahaan swasta ikut komitmen in vestasi. Pasalnya, komitmen investasi yang masuk saat ini baru mencapai 60-70% dari kapasitas potensial perusahaan bio- diesel nasional.

Berkaitan dengan pelak sanaan B30, ujar Darmin, kajian penerapan B30 akan di tun taskan pada pertengahan Sep tember mendatang. Dia me mastikan awal tahun depan B30 sudah berjalan.

Oktiani endarwati/ dita angga