Edisi 13-08-2019
Sektor Manufaktur Perlu Diperkuat


JAKARTA–Bank Indonesia (BI) terus konsisten mendukung pengembangan sektor manufaktur. Pasalnya, sektor manufaktur sangat strategis untuk mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan.

Indonesia diharapkan terlepas dari middle income trap dan ber transformasi menjadi negara maju berpendapatan tinggi. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, untuk menjadi ne gara berpenghasilan tinggi, ya itu tingkat pendapatan di atas USD 12.000 per kapita (dari ting kat saat ini USD3.900 per ta hun) diperlukan tingkat pertum buhan tinggi yang ber ke - lan jutan. Pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan untuk ke - luar dari jebakan pendapat an me nengah.

“Namun, sayangnya, upaya mempercepat pertumbuhan eko nomi di Indonesia selalu diser tai dengan peningkatan de fisit transaksi berjalan (CAD),” ujar Dody, saat sambutan da lam seminar internasional yang di selenggarakan bersama oleh Bank Indonesia, Kemen terian Koordina tor Bidang Perekonomian, dan Kementerian Perindus trian dengan tema “Struc tur al Trans for mation through Manufacturing Sector Develop ment for High and Sus tainable Economic Growth” di Jakarta, kemarin. Menurut dia, untuk menca - pai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan di butuhkan struktur neraca berjalan yang lebih kuat seba gai ba gian dari transformasi eko - no mi struktural. Struktur nera - ca berjalan sangat berko re lasi dengan neraca perda gang an.

“Sur plus transaksi ber jalan bia - sa nya didorong oleh surplus ne - raca perda gang an dan pangsa eks por yang lebih tinggi dari sek tor ma nufaktur,” ungkap - nya. Dody mengatakan, sektor ma nufaktur yang lebih kuat ti - dak hanya menjadi mesin uta - ma pertumbuhan, melainkan da pat memainkan peran pen - ting untuk meningkatkan la - pang an kerja dan mening kat - kan kesejahteraan ekonomi. Sek tor manufaktur juga selalu di pandang sebagai penyebab pen ting bagi pertumbuhan eko - no mi, karena memiliki tekno lo - gi dan ekonomi yang besar pe lu - a ng nya.

Dody mengatakan, sejak tahun 2015 pemerintah telah meng implementasikan 16 pa - ket reformasi. Paket-paket ini bertujuan secara luas untuk meng hilangkan hambatan da - lam melakukan bisnis, me ningkat kan ekspor, dan men ca pai per tumbuhan ekonomi yang le - bih tinggi. Selain paket refor ma si ini, lanjut dia, pe me rintah se lama bertahun-tahun te lah me - nawarkan berbagai in sentif ke - bijakan yang ditar get kan un tuk manufaktur, se ba gi an besar untuk mendorong in vestasi yang lebih besar di sek tor ini. “De ngan serangkaian refor ma - si ini, Indonesia telah bergerak maju dalam kemu dah an mela - ku kan perbaikan yang masih di - perlukan untuk mendorong da - ya saing inves tasi Indonesia,” ungkapnya.

Menurut dia, perbaikan iklim investasi yang mengarah ke industri manufaktur ini me - ru pakan kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi. De - ngan persaingan yang ketat un - tuk sumber pembiayaan do - mes tik yang terbatas, investasi asing dipandang sebagai alter - na tif. “Jadi, meningkatkan iklim investasi yang layak juga me rupakan bagian dari agenda ter penting,” katanya. Akan tetapi, perusahaan ma nufaktur di Indonesia me ne - mu kan berbagai kendala un tuk melakukan bisnis, mulai dari in - fra struktur, tenaga ker ja, hing - ga masalah regulasi. Oleh karena itu, lanjut Dody, di per lukan strategi da lam pengembangan sektor ma nu faktur dengan berfokus pa da industri-industri prioritas ter pilih untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Direktur Jenderal Ke tahanan, Perwilayahan dan Ak ses Industri Internasional Ke men - perin Doddy Rahadi pun mene - kannya strategi Making Indo - ne sia 4.0 dengan mening kat - kan produktivitas dan daya sa - ing pada lima industri prio ri tas, yakni industri makanan dan mi - numan, industri auto mo tif, in - dustri elektronik, in dustri ki - mia, serta industri teks til dan pro duk tekstil. Na mun, hal ter - se but diperlukan sinergi dan sin kronisasi antar pe mangku ke bi jakan dalam menyusun stra tegi kebijakan penguatan in dustri manu fak tur melalui pick ing the winner sektor prio - ritas, perbaikan iklim investasi, pembangunan infrastruktur dan konek tivi tas, serta perbaik - an SDM.

Kepala Pusat Kebijakan Pen - dapatan Negara Kemen teri an Keuangan Rofyanto Kur nia wan mengatakan, pe me rintah akan secara konsis ten mendu kung pe ningkatan ekspor, in vestasi, dan daya sa ing industri melalui pemberian insentif fis kal dan skema ini siatif pajak an tara lain bagi in dustri yang men dukung pen di dik an vokasi ser ta pene li - tian dan pengem bang an.

Kunthi fahmar sandy