Edisi 13-08-2019
Bagaimana AI dan Cloud Membantu Bisnis?


PADAawal Juli 2019 IBM menuntaskan akuisisi Red Hat sebesar USD34 juta. Tujuannya untuk memosisikan IBM sebagai penyedia cloud hybrid terbesar di dunia. Ini yang meningkatkan bisnis IBM, serta memperluas inovasi open source Red Hat.

Karena itu, mereka lantas menggelar Digital Transformasi Summit 2019 belum lama ini. Untuk memperkenalkan layanan AI dan cloud mereka kepada 250 perusahaan. Terutama lewat teknologi open source yang dipelopori oleh Red Hat, termasuk di dalamnya OpenShift, Kubernetes, dan Red Hat Enterprise Linux. IBM dan Red Hat di Indonesia “berjualan” platform multicloud hybrid . Dengan platform tersebut, mereka dapat membangun rangkaian aplikasi mission-critical dari pusat data mana pun. Selain itu, ada cloud privat seperti AWS, Azure, Google Cloud Platform, Alibaba, dan IBM Cloud, dan lain-lainnya.

Saat ini 20% perusahaan sudah mulai melakukan transisi menuju cloud . Tujuannya untuk mengurangi biaya dan meningkatkan produktivitas. Setelah beralih ke cloud , perusahaan berfokus mengalihkan fungsi-fungsi penting perusahaan di cloud . Karena itu, mereka harus me - ngelola seluruh infra struktur teknologi informatika (TI) mereka, termasuk dalam ber investasi pada teknologi, baik terbaru maupun yang sudah ada. “Untuk mencapai trans - formasi digital, perusahaan perlu menggunakan infrastruktur cloud yang hybrid agile , terbuka, dan aman,” ujar Lianna Susanto, Country Manager Cloud and Solutions IBM Indonesia.

Untuk menjadi yang terdepan dalam penyedia multicloud , IBM juga memperluas dukungan langsung untuk Red Hat OpenShift melalui IBM Systems. Acara yang digelar di Shangri La, Jakarta, dan menghadirkan lebih dari 250 pelanggan dan calon pelanggan ini juga menghadirkan Rolly Edward dari SkyGride yang telah menggunakan layanan IBM c loud .

Danang arradian