Edisi 14-08-2019
Asap Karhutla Ancam Kematian 36.000 Jiwa


JAKARTA –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan telah menjadi ancaman berbahaya.

Selain merusak lingkungan dan lahan hutan, asap kebakaran hutan juga bisa menyebabkan kematian. Peneliti dari Harvard University, Tianjia Liu, mengatakan bahwa dari penelitiannya bersama peneliti dari Columbia University, apabila masalah karhutla tidak segera diatasi, diprediksi akan terjadi 36.000 kematian akibat penyakit in feksi saluran pernapasan akut (ISPA) setiap tahunnya.

Menurut Tianjia, dampak kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan akan mengancam tiga negara, yaitu 92% di Indonesia, 7% di Malaysia, dan 1% di Singapura. Dia ju ga menjelaskan ada tiga faktor penyebab kabut asap parah di Indonesia, yaitu meteorologi seperti El Nino, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, dan kebakaran lahan gambut berminggu-minggu yang sulit untuk dipadamkan.

“Banyaknya asap dan kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat, penurunan fungsi paru-paru, meningkatkan ISPA, jantung, dan kematian dini,” ungkapnya dalam diskusi “Ongkos Kesehatan dari Bencana Kebakaran Hutan dan Gambut” di Kawasan Kuningan, Jakarta, kemarin.

Dari penelitian, kata Tianjia, diperkirakan ada 100.300 kasus kematian dini yang di - picu kebakaran hutan di Indo - nesia pada September 2015. Namun, hal ini bisa dicegah dengan strategi kompre hen - sif mengurangi karhutla.

“Salah satu contoh keba - karan hutan hebat yang terjadi di Indonesia pada 2015. Akibat kebakaran itu terjadi 100.300 kasus ke matian dini dan 69 juta orang terkena ISPA. Lalu, potensi kerugian mate rial mencapai USD16 miliar di luar kerugian kesehatan,” je las nya.

Tianjia mengatakan, sementara dari sampel keba karan hutan di Indonesia dari 2005 hingga 2009, ternyata lahan gambut menyumbang polusi yang terpapar asap lebih besar jika dibandingkan keba karan hutan di lahan bukan gambut. Dia pun mendorong restorasi lahan gambut segera digencarkan.

“Jumlah kebakaran hutan di Indonesia saat itu mencapai sekitar 18 juta hektare di Sumatera dan Kalimantan. Dari jumlah itu, hanya 9% kebakaran terjadi di lahan gambut. Tapi kebakaran di lahan gambut menyumbang emisi lebih besar.

Jumlahnya lebih dari separuh atau 51% dari total emi si sepanjang tahun tersebut,” jelasnya. Pada kesempatan itu, Deputi Perencanaan dan Kerja Sama Badan Restorasi Gambut (BRG) Budi Wardhana mengatakan melihat kebakaran hutan pada 2015 terjadi hampir selama lima bulan.

Pada periode itu, 500.000 orang lebih menderita ISPA dan lebih dari 60 juta jiwa terpapar polusi asap. “Kami berkaca pada 2015 lalu, kebakaran hutan yang terjadi pada saat itu telah merugikan pemerintah hingga Rp2,5 triliun yang hanya digunakan untuk pemadaman kebakaran,” ungkapnya.

Menurutnya, kerugian da ri dampak lain yakni kese hat an yang kerugiannya men capai Rp1,9 triliun, kerusakan produksi, distribusi, perdagangan, transportasi, jasa lingkungan, dan penurunan nilai sumberdaya jika diesti ma si totalnya mencapai Rp221 triliun. Sementara biaya jangka panjang belum bisa dihitung.

binti mufarida