Edisi 14-08-2019
KSAD Pertahankan Enzo Zenz Allie


JAKARTA – Polemik Enzo Zenz, 18, berakhir. TNI Angkatan Darat (AD) memutuskan mempertahankan pemuda keturunan Prancis itu sebagai taruna di Akademi Militer (Akmil).

Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Andika Perkasa mengatakan, Enzo dinilai layak me lanjutkan pendidikannya di Akmil berdasarkan hasil analisis yang dilakukan TNI AD pada Senin (12/8). “Kesimpulannya, Enzo Zenz Allie dilihat dari indeks moderasi bernegara.

Kalau dikonversi menjadi persentase, memiliki nilai 84% atau 5,9 dari mak simum 7. Jadi, indeks moderasi beragamanya cukup bagus. Melihat hasil tersebut, TNI AD memutuskan untuk mem per tahankannya sebagai taruna Akmil,” kata Jenderal Andika di Markas Besar TNI AD, Gambir, Jakarta Pusat, kemarin.

Dia menambahkan, penilaian tersebut dilakukan tidak hanya terhadap Enzo, tetapi juga terhadap beberapa tarunataruna Akmil lainnya. “Karena itu, Angkatan Darat memutuskan untuk mempertahankan Enzo Zenz Allie dan semua taruna Akademi Militer yang kami terima beberapa waktu lalu sejumlah 364,” tuturnya.

Meski begitu, TNI AD akan terus melakukan penilaian terhadap para taruna, termasuk Enzo dalam menjalani pendidikan selama Akmil. Apalagi, mereka masih berstatus calon perwira dan belum menjadi anggota aktif.

“Penilaian terhadap calon pada masa pendidikan dan karena tahap pendidikan yang diikuti Enzo selama empat tahun. Selama empat tahun itu pula penilaian berlaku,” tutur Jenderal Andika.

Andika mengungkapkan, se lama masa pendidikan, ada beberapa taruna Akmil yang di ber hentikan atau tidak lulus men jadi perwira. Itu terjadi pada ta hun kedua atau ketiga pendidikan. Pada 2014 ada tiga taruna Ak mil yang didrop atau dikeluarkan sebelum mereka dilantik men jadi perwira TNI AD.

“Kemudian 2015 ada satu orang yang kami keluarkan, 2016 itu empat orang, 2017 kebetulan tidak ada, 2018 ada lima orang, dan tahun ini 2019 sudah ada dua orang yang kami keluarkan dengan berbagai alasan. Ada yang karena kesehatan, ada yang mereka tidak bisa mengikuti standar, ada yang karena jasmani, dan juga ada yang karena mental ideologinya,” tuturnya.

Untuk itu, mantan Pangkostrad itu berharap Enzo dan teman-temannya lulus pada tahap seleksi awal. Keluarga, orang dekat, dan lingkungan dikatakannya juga menjadi faktor kelulusan Enzo dan taruna lainnya untuk menjadi perwira TNI AD.

“Sehingga mereka benarbenar bisa menjadi perwira TNI AD yang sesuai harapan, yang bisa menjaga keutuhan NKRI, yang bisa menjaga kehidupan beragama yang beragam, yang bisa menjunjung nilai-nilai kemanusiaan keadilan dan persatuan. Itulah harapan kami,” tuturnya.

Sebelumnya Kepala Pusat Pe nerangan TNI Mayjen Sis - riadi menyebutkan bahwa se - tiap taruna Akmil memang ha - rus melalui berbagai tes mulai tes fisik, psikis, intelijensi, dan ideologi. Dalam melakukan tes ideologi, setiap satu taruna me - lalui tes langsung maupun tidak langsung. “Penelusuran mental ideo - logi itu yang paling penting.

Ini karena TNI tidak ingin kemasukan orang-orang yang tidak Pancasilais. Mental ideologi kiri seperti PKI atau komunis, mental ideologi kanan seperti HTI atau ultraliberalis seperti Hitler. Tiga ideologi itu kita saring jangan sampai masuk ke Akmil,” ujar Sisriadi. Sosok Enzo sempat menarik perhatian publik ketika video viralnya saat dia berbincang dengan Panglima TNI Masekal Hadi Tjahjanto dengan bahasa Prancis.

Belakangan sosok Enzo menjadi polemik setelah fotonya saat membawa bendera Tauhid beredar di media sosial. Beredar isu bahwa Enzo diduga simpatisan Hizbut Tahrir Indo nesia (HTI), organisasi yang sudah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 karena ideo logi yang mereka bawa, yakni pendirian negara syariah, yang tidak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Evita Nursanty mengaku tidak memper soalkan keputusan TNI AD mempertahankan Enzo. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mempersilakan TNI AD membuat kebijakan itu.

Namun, dia berpendapat bahwa perlu dilakukan profiling terhadap Enzo, termasuk latar belakang keluarga dan lingkungannya. “Nah , saya juga enggak tahu benar tidaknya isu pegang bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Terkadang orang tidak mengerti apa yang sedang dikibarkannya.

Tapi, apa yang di kibar dia enggak tahu. Nah , ini juga harus dilakukan investigasi. Kalau sekarang ini TNI sudah melakukan profiling terhadap Enzo dan dia katakan clear, ya silakan saja,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakar ta, kemarin.

Sementara itu, pengamat militer dan intelijen Susa ningtyas Kertopati mengatakan bahwa KSAD harus men jamin loyalitas Enzo kepada Pancasila dan konstitusi jika tetap dipertahankan. “Masih muda sudah ada gejala terpapar, kan bahaya kalau nanti jadi pimpinan teritorial,” ujar Nuning, panggilan Susaningtyas.

Dia juga meminta agar jangan sampai pihak-pihak terafiliasi radikalisme dibiarkan masuk pendidikan yang erat hubungannya dengan alutsista militer. “Juga jangan biarkan diberi kesempatan mem pelajari sistem pertahanan kita. Dalam rekam jejak itu, juga harus dipantau story board di media sosialnya atau kerabat dekatnya,” tegas Nuning.

raka dwi novianto/ riko afrido simanjuntak