Edisi 14-08-2019
BI Kembangkan Instrumen Keuangan


JAKARTA –Bank Indonesia (BI) akan terus mengembangkan instrumen keuangan.

Hal tersebut bertujuan untuk me nam bah likuiditas, baik dipasar valuta asing (valas) maupun rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, BI sudah memiliki beberapa instrumen termasuk yang sifatnya hedging, seperti do mes tic non delivery forward (DNDF).

Instrumen transaksi DNDF ini mem - be rikan alter na tif lindung nilai bagi pelaku pasar sehingga me - ngurangi demand di pasar spot. Para pe laku pasar dapat me - lakukan hed ging atas ke bu tuhan pem be lian valas melalui tran sak - si DNDF dan me la ku kan pem be - li an valas melalui tran sak si spot di kemudian hari.

“Jadi kami li hat sekarang sudah ba nyak pe laku pasar masuk ke DNDF In donesia dibanding DNDF yang berada di luar atau Si nga pura. Dan selama ini res pons nya cu kup positif,” ujar Destry. De ngan demikian, secara ber ta hap BI akan terus me - ngem bangkan instrumen ke - ua ngan. Adapun terkait perang da gang, menurut dia, dam pak - nya su dah terlihat di sektor riil.

Eks por juga mulai me lambat ke ne gara China dan AS. “Nah ini dua hal yang jadi tantangan kita. Karena kan keduanya partner dagang utama buat Indonesia,” ungkap Destry. Jadi ke depan, Indonesia di - harapkan bisa lebih men de tek - si produk produknya, seperti dari community base masuk ke ma nufaktur, tapi bahan baku bisa diproduksi dalam negeri sen diri.

Maka dari itu, Indo ne - sia perlu perluas pasar ekspor dari konvensional menjadi non konvensional serta me - ram bah ke negara-negara yang di luar negara partner da gang utama. “Contohnya, kita bisa buka di Timur Tengah atau pun ka was an Afrika,” tu kas Destry.

Dia juga berharap, pe me rin - tah bersama BI bisa lebih me - ningkatkan diversifikasi eks - por. Ekonomi domestik juga masih berpotensi me nguat ter - lihat dari konsumsi masyarakat yang me nyum bang cukup sig - nifikan dalam perekonomian Indonesia.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo me nam bahkan, sa lah satu gejolak yang im bas - nya pa ling besar karena perang da gang antara Amerika Serikat (AS) dan China yakni per tum - buh an investasi. Rendahnya in - vestasi Indonesia lantaran per - min taan global yang ikut me le - mah akibat gejolak eko nomi du - nia sehingga ekspor tidak mam - pu mengakselerasi pertum buh - annya pada kuartal II/2019.

“Jadi ini masalah di semua negara emerging market yang terkena dampak trade war, dampak volatilitas di pasar keuangan, serta melambatnya turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di ekspor. Ini dialami di banyak negara emergingmarket termasuk Indonesia,” ung kapnya.

kunthi fahmar sandy