Edisi 14-08-2019
Tembakau Alternatif Perlu Dimaksimalkan


JAKARTA–Dewan Penasihat Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) sekaligus Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Er man Aminullah mengatakan pemanfaatan inovasi teknologi dari produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia.

Namun, kehadiran hasil inovasi dari industri tembakau itu belum dimanfaatkan secara mak simal. Hal ini disampaikan Erman saat menjadi salah satu pembicara di ASIALICS 2019 yang di gelar di Korea Selatan barubaru ini.

Dalam forum yang ber anggotakan para sarjana, aka demisi, praktisi, dan pem - buat kebijakan yang fokus dalam sistem pembelajaran, ino vasi, dan pengembangan kom - pe tensi di Asia, Erman meng - ulas materi yang berjudul “ECigarette as Disruptive Innova tion: Forecasting of conven - tio nal cigarette substitution in Indonesia”.

Menurut Erman, produk tem bakau alternatif seperti pro duk tembakau yang dipa - nas kan dan rokok elektrik me - ru pakan salah satu teknologi dis ruptif yang nantinya bisa menggantikan kebiasaan merokok konvensional. Dengan pengembangan berbasiskan riset dan teknologi, produk tem bakau alternatif memiliki potensi untuk menurunkan ting kat risiko kesehatan.

Hasil riset Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (2018) menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan me - miliki tingkat toksisitas (tingkat merusak suatu sel) yang lebih rendah hingga 80%-90% daripada rokok konven sional.

“Produk tembakau alterna - tif memberikan pilihan kepada perokok aktif untuk beralih ke produk yang minim risiko ke - se hatan. Dengan begitu, pola ke cenderungan konsumsi ro - kok konvensional akan ber - ubah se hingga prevalensi pe ro - kok di Indonesia ber po tensi me nu run,” kata Erman.

Hanya, Erman masih me - nya yangkan sikap para pe mang ku kebijakan dan pu blik di Indonesia yang menilai ne - gatif produk tembakau alternatif. Padahal, pada produk ter se but tidak terjadi proses pem ba karan tembakau yang lazim nya terjadi di rokok konvensional.

Dengan demikian, produk ini tidak menghasilkan TAR, se nyawa paling ber bahaya yang ter dapat pada rokok. Hal ini di per kuat dengan riset yang dila ku kan terhadap produk temba kau alternatif. “Seharusnya para pemangku kebijakan dan publik memberikan kesempatan terhadap pro duk tembakau alternatif,” tandas dia.

rakhmat baihaqi