Edisi 14-08-2019
Jatah The Reds


ISTANBUL–Silakan bertanya kepada banyak orang tentang prediksi siapa yang akan menjadi juara Piala Super Eropa di Vodafone Park, Istanbul, Turki, antara Liverpool menghadapi Chelsea, dini hari nanti.

Mungkin, banyak yang akan menjawab Liverpool. Jawaban yang sangat wajar dan sangat mungkin menjadi kenyataan. Apalagi, jika melihat status The Reds sebagai juara Liga Champions, mereka hanya sekali kalah dari 33 pertandingan terakhir di semua kompetisi.

The Reds juga mencatatkan 17 kemenangan dari 18 pertandingan terakhir. Satu-satunya tim yang bisa mengalahkan The Reds dalam lima bulan terakhir di kompetisi resmi hanyalah Barcelona. Apalagi, pasukan Juergen Klopp juga berhasil membukukan kemenangan di laga perdana melawan Norwich City.

Sejarah juga berpihak kepada Liverpool. Setidaknya, lima dari enam pergelaran Piala Super Eropa menjadi milik tim pemegang trofi Liga Champions. Hanya Atletico Madrid (pemenang Liga Europa) yang membalik sejarah dengan mengalahkan juara Liga Champions Real Madrid dengan skor 4-2 tahun lalu.

Belum lagi–ini cerita klasik–bagaimana saat orang bicara Istanbul pasti menyinggung keajaiban Liverpool saat memenangkan trofi Liga Champions melawan AC Milan. Tertinggal 0-3, mereka bisa menyamakan kedudukan sebelum memenangkan lewat adu penalti atas Milan.

Sejarah yang akan selalu dibicarakan secara turun-temurun. Karena itu, meski Liverpool tak diperkuat penjaga gawang utama Alisson yang mengalami cedera saat menghadapi Norwich City, tetap tak akan meragukan optimisme untuk mengatakan The Reds berada di atas angin dalam perebutan gelar Piala Super Eropa.

Klopp menegaskan timnya tetap memiliki ambisi besar. “Tetap harus ambisius. Itu sangat penting.Ssaya tidak ragu dan kita harus melakukannya. Setelah final, kami memiliki sekitar empat pekan di mana semua orang memuji,” kata Klopp, dikutip situs resmi UEFA.

Pertemuan Liverpool dengan Chelsea menjadi sejarah baru di Piala Super Eropa. Inilah untuk pertama kali dua tim Inggris bertemu di Piala Super Eropa. Klopp juga sering bertemu dengan Chelsea. Pelatih asal Jerman itu sudah bertemu sembilan kali dengan membukukan tiga kemenangan, empat imbang, dan dua kalah.

“Saya kira kami akan melawan tim yang akrab dengan kami. Tapi, pada saat yang sama, setiap musim adalah baru. Mereka memiliki pelatih baru dan pemain yang berbeda. Saya pikir kami tidak bisa hanya mengandalkan apa yang dimiliki pada masa lalu.

Kami harus melihatnya sebagai permainan dan tantangan baru,” papar bek Liverpool Joe Gomez, dikutip situs resmi Liverpool. Masalahnya apakah semua harus mencoret Chelsea? Hal tersebut mengacu bagai mana The Blues dipermalukan Manchester United (MU) empat gol tanpa balas di laga pembuka Liga Primer dan membandingkan sejarah serta penga la man Lampard dibandingkan Klopp yang sudah terbiasa di final dan mendapatkan tekanan.

Ditambah lagi, buruknya sejarah Lampard di Piala Super Eropa di mana dari dua kesempatan selalu gagal. Pertama, Chelsea kalah 1-4 dari Atletico pada 2012 dan menyerah 4-5 melalui adu penalti menghadapi Bayern Muenchen pada 2013 (2-2 setelah extra time ).

“Kami harus benar-benar siap. Ini adalah piala yang sangat ingin dimenangkan oleh klub,” kata Lampard, di situs UEFA. Ambisi Lampard membesar karena dirinya belum memenangkannya. “Banyak pemain di sana tidak pernah memenangkannya sehingga kami harus memberikan segalanya.

Melawan tim dengan kualitas Liverpool di final sama tegangnya dengan final,” ujarnya. Dia mengakui The Reds tim yang sangat tangguh sehingga akan menjadi salah satu pertandingan kompetitif pertama sebagai manajer Chelsea.

Lampard berharap setiap pemain menyadari pentingnya permainan untuk klub dan harus memberikan segalanya mengingat pertandingan akan sulit. “Ini akan sulit. Tapi, kita tidak bisa berjalan keluar lapangan dan berpikir “oh, kita bisa melakukan itu” atau “kita melewatkan kesempatan itu” atau “kita tidak cukup siap” atau membuat alasan untuk diri kita sendiri,” tandasnya.

ma’ruf


Berita Lainnya...