Edisi 14-08-2019
Depak Gasly, Red Bull Rekrut Albon


BUCKINGHAMSHIRE – Akhirnya, kesabaran tim Red Bull Racing habis sudah.

Tim yang bermarkas di Inggris itu memutuskan mendepak pembalapnya, Pierre Gasly. Sebagai gantinya, Red Bull merekrut Alexander Albon dari Scuderia Toro Rosso. Jadi, Albon dan Gasly bertukar tem pat di paruh kedua musim 2019.

Red Bull merasa kurang puas dengan performa Gasly dari 12 balapan yang sudah dijalani pada pergelaran Formula One (F1) 2019. Pembalap asal Pran - cis itu telah mengumpulkan 63 poin dan membuat bertengger di posisi keenam pada klasemen sementara F1 2019.

Karena Gasly gagal memberikan hasil yang sama persis seperti rekan setimnya, Max Verstappen, dia pun akhirnya ditukar dengan Albon, pembalap asal Thailand yang cukup menjanjikan. Terpilihnya Albon naik ke tim utama Red Bull diakuinya sangat luar biasa.

Pasalnya, Albon tak pernah menyangka bisa menjadi pembalap Red Bull Racing dengan cepat. “Saya tak sangka bisa diberikan kesempatan sebesar ini. Saya rasa teri ma kasih saja tidak cukup untuk bisa memercayai semua ini, apa lagi membuat ini benar-benar terjadi.

Hal terse but sebuah lompatan yang be sar ke dalam karier saya,” tulis Albon, di Twitter pribadinya, @alex_albon dilan sir Crash. Albon pun tak lupa berterima kasih kepada Toro Rosso yang sudah membantunya secara maksimal semenjak terjun ke balapan F1. Kini, ia berjanji bakal tampil maksimal sebagai pembalap Red Bull di sisa musim 2019.

“Terima kasih untuk semua orang yang ada di Toro Rosso, terutama Franz Tost untuk peluang besarnya di F1 dan dukungan tanpa henti yang diberikan sepanjang tahun pertama saya. Sekarang, saya bakal fokus untuk balapan pertama saya (bersama Red Bull) di Sirkuit Spa,” tandasnya.

Sementara itu, Charles Leclerc menjalani musim pertama bersama Ferrari di Formula One (F1) dengan sangat mengesankan. Sejak pindah dari tim Sauber awal musim 2019, pembalap asal Monako itu sudah melakoni 12 balapan. Dia mengatakan tampil memukau bersama tim besar bukan tanpa tantangan. Tantangan terberat bagi Leclerc justru bergabung dengan tim besar seperti Ferrari.

“Menjadi pembalap Ferrari selalu menjadi mimpi yang menjadi kenyataan.Tapi, itu juga pekerjaan yang lebih banyak. Anda harus bekerja sekeras mungkin ketika Anda masuk ke tim top secara umum. Ada banyak orang, Anda perlu memahami dan belajar bagaimana bekerja dengan begitu banyak orang di awal yang berasal dari tim yang lebih kecil.

Ini telah menjadi tantangan terbesar bagiku,” papar Leclerc, dilansir Crash. Leclerc mengambil dua posisi pole, lima podium, dan mendekati kemenangan di Bahrain dan Austria untuk menjadikannya kelima dalam kejuaraan pembalap pada liburan musim panas.

Leclerc tiba di Ferrari dengan hanya satu tahun di F1 di bawah ikat pinggangnya dengan tim Sauber yang lebih kecil. Tapi, dia dengan cepat menyesuaikan diri dengan tekanan balap di depan grid, duduk hanya 24 poin di belakang rekan setim juara dunia empat kali Sebastian Vettel.

Ketika ditanya apakah dia merasa mendapat tekanan yang hebat saat balapan di tim F1, Leclerc mengatakan itu bukan sesuatu yang dia rasakan. “Tekan annya, saya benar-benar tidak merasakannya,” kata Leclerc. Leclerc mengatakan wajar bagi tim Ferrari untuk memiliki periode penyesuaian ketika bekerja dengannya.

“Jelas, itu berjalan dua arah. Saya belajar cara bekerja dengan mereka. Tapi, mereka juga belajar cara bekerja dengan saya. Apa yang saya sukai dalam hal pengaturan secara umum, apa keseimbangan mobil, dan apa yang saya sukai untuk mengemudi,” sebut Leclerc.

sazili mustofa