Edisi 14-08-2019
Madrid Krisis Identitas


MADRID– Torehan Real Madrid yang buruk selama tur pramusim membuat Zinedine Zidane dalam masalah besar.

Pelatih asal Prancis itu dinilai belum menemukan taktik tepat untuk digunakan pasukannya pada musim 2019/2020. Laga uji coba penutup Madrid berakhir dengan kekecewaan. Wakil Primera Liga itu kalah adu penalti 4-5 saat meladeni AS Roma di Stadio Olimpico, Senin (12/8).

Sempat dua kali unggul pada waktu reguler, Los Blancos membiarkan tuan rumah dua kali menyamakan kedudukan. Itu berarti Madrid kalah empat kali dari tujuh laga pramusim. Padahal, duel kontra Roma men jadi peluang mencari modal positif sebelum jumpa Celta de Vigo pada laga pertama Primera Liga di Abanca-Balaidos, Sabtu (17/8).

Kekalahan dari Roma justru menunjukkan bahwa Zidane belum juga mendapatkan skema yang baku. Soalnya, pada laga itu Zidane menerapkan dua taktik berbeda secara bergantian. Pertama adalah pola superbertahan. Hasilnya, gawang Madrid kebobolan dua kali sebelum rehat.

Zidane lalu mencoba skema menye rang dengan memasukkan Karim Benzema menggantikan Gareth Bale. Artinya Zidane me nempat - kan empat pemain berkarakter menyerang sekali gus, yakni Benzema, Eden Hazard, Vinicius Junior, dan Luca Jovic.

Namun, Madrid tetap gagal mencetak gol. Gol justru datang dari Marcelo dan Casemiro . Itu memperlihatkan Madrid belum mendapat stabilitas. Madrid boleh dibilang mengalami krisis identitas.

Ya, mudahnya lawan mencetak gol dikhawatirkan bakal menyulitkan Thibaut Courtois dkk untuk bersaing memperebutkan gelar. Terbukti, Madrid telah kebobolan 18 kali dan baru mencetak 14 gol dan selama mengikuti tujuh laga persahabatan.

Dengan kata lain pembenahan harus segera dilakukan. Paling utama adalah menentukan taktik yang baku agar para pemain tidak kebingungan. Soalnya, Zidane kerap kali mengubah strategi. Saat mengalahkan Red Bull Salzburg 1-0, Kamis (8/8), dia memakai pakem 4-3-3.

Kemudian saat bentrok Roma, Zidane mencoba skema 5-3-2 sebelum berganti lagi menjadi 4-3-3. Mantan playmakerJuventus itu juga pernah beberapa kali memakai pola 3-5-2. Semua itu membuktikan Madrid masih punya banyak kelemahan.

Pendapat itu benar adanya. Salah satu faktanya adalah Madrid kekurangan bek tengah. Penerapan formasi 3-5-2 pasti - nya mengandalkan tiga bek tengah. Namun, Los Galacticos hanya punya empat pemain di posisi ini, yakni Sergio Ramos, Raphael Varane, Nacho, dan Eder Militao.

Jadi, bila ada dua pemain yang absen akibat cedera, skorsing maupun rotasi, skema 3-5-2 ini tidak akan bisa diterapkan. Solusinya adalah Zidane harus merekrut lagi bek tengah sebelum bursa musim panas ditutup. “Kami tetap mengandalkan pemain yang ada saat ini.

Tapi, apa pun bisa terjadi sampai 31 Agustus. Tugas saya sebagai pelatih adalah memercayai semua pemain ikut berlatih bersama kami,” ucap Zidane, dilansir Football-Espana. Selain itu, menurunkan tiga bek tengah juga dinilai sangat berisiko.

Butuh persiapan matang dan koordinasi agar semuanya berjalan lancar. Karena, minimnya pengalaman beberapa anggota lini belakang Madrid menyebabkan terciptanya celah yang dimanfaatkan lawan untuk mencetak gol.

m mirza

Berita Lainnya...