Edisi 14-08-2019
Resor di Kawasan Wisata Terus Tumbuh


BALI masih menjadi destinasi wisata paling diminati di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menyebut, sepanjang 2018, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali mencapai 5,7 juta orang.

Salah satu objek wisata paling favorit di Bali adalah kawasan luar Pura Uluwatu. Pada saat peak season seperti libur Lebaran 2019, kawasan Uluwatu dikunjungi tidak kurang dari 9.000-10.000 orang per hari.

Karena tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi, tidak mengherankan banyak berdiri sejumlah hotel dan resor berskala internasional yang sering menjadi rujukan tempat berlibur bagi kalangan menengah atas, seperti Alila, Villas Uluwatu, Bvlgari Resort, The Edge, dan Ungasan Clifftop Resort.

Omnia Day Club dan Sundays Beach Club, dua klub internasional yang paling ramai dikunjungi di Bali, pun terdapat di sini. Hal inilah yang menjadi alasan utama PT Nuansa Permata Bali (NPB), anak perusahaan Permata Graha Land (PGL) Group, membangun salah satu proyek prestisiusnya di Uluwatu, yaitu Ratnamaya Home Resort.

“Lokasi menjadi salah satu rahasia kesuksesan penjualan Ratnamaya Home Resort. Pada tahap pertama, dari 12 unit yang diluncurkan pada akhir Februari lalu, saat ini sudah tinggal tersisa lima unit,” ujar Direktur NPB Satya Adi. Menurut Satya, investasi properti di Uluwatu masih sangat menjanjikan.

Harga sewa vila di daerah Pecatu dan Uluwatu per malamnya bisa mencapai Rp14 juta. Namun, untuk menyasar konsumen kelas menengah yang jumlahnya lebih banyak, pihaknya bisa memasang harga sewa Rp3 jutaan per malam.

Selain itu, minat warga negara asing (WNA) untuk membeli properti di Indonesia saat ini terus meningkat. Menurut Satya, hal tersebut sangat wajar lantaran harga properti di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan di negara lain di kawasan Asia.

“Mayoritas WNA tertarik dengan properti di kawasan Jakarta, Bali, dan Batam. Karena itu, para pemilik vila tidak akan kesulitan jika pada masa mendatang ingin menjual kembali propertinya,” beber Satya.

rendra hanggara