Edisi 18-08-2019
Nasihat Kebangsaan Pendiri Jababeka


Nama Setyono Djuandi Darmono sempat menjadi perbincangan lantaran ide kontroversialnya tentang wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah. Selain itu, Founder sekaligus ChairmanPT Jababeka Tbk tersebut juga baru saja merilis buku terbarunya bertajuk Bringing Civilizations Together di President Lounge, Menara Batavia, pada 4 Juli 2019.

Buku ini merupakan karya ke-6, juga kelanjutan dua buku sebelumnya, yaitu Think Big, Start Small, Move Fast (KPG, 2009) dan Building a Ship While Sailing (KPG, 2017). Dalam pengantarnya, Profesor Rhenald Kasali menilai buku ini sebagai salah satu upaya merumuskan jawaban membangun Indonesia menuju peradaban unggul. Disampaikan dengan konsep storytelling , Darmono mengajak pembacanya memasuki kapsul waktu melintasi berbagai peradaban kuno hingga sejarah terbentuknya Nusantara. Salah satu kekuatan buku ini terletak pada konsistensi Darmono menempatkan manusia sebagai dimensi utama peradaban yang berpijak pada etika atau secara teknis disebut human processing factory .

Menurut Darmono, peradaban berawal dari cinta, yakni “cinta akan kebijaksanaan” dan “cinta akan pengetahuan. Dua cinta yang biasa kita sebut filsafat ini menjelma menjadi etika, akhlak, moral, atau keluhuran budi. Dari situlah peradaban tumbuh, berkembang, dan berjaya. Sebaliknya, ketika etika sebagai penyangga peradaban mulai diabaikan dan ditinggalkan, pertanda bahwa imperium itu bakal segera hancur. Sejarah telah membuktikan bagaimana hancurnya peradaban Yunani Kuno, misalnya. Ketika komunitas-komunitas politik mulai mementingkan kepentingannya sendiri, mereka dengan mudah ditaklukkan musuh.

Begitu pula Fir’aun di Mesir yang di puncak kezalimannya mengaku sebagai Tuhan justru menemui ajalnya. Para sultan di India mengaku sebagai “bayangan Tuhan” sesungguhnya tengah menanti kehancurannya sendiri. Demikian juga Dinasti Tiongkok dan berbagai imperium lainnya kurang lebih bernasib serupa. Manusia pada masa prasejarah hidup secara nomaden dan memperoleh makanan dengan berburumeramu. Peradaban mereka terus berkembang seiring hadirnya pengenalan bahasa dan konsep waktu. Pada era revolusi industri, manusia kian gencar melakukan penemuan dan penelitian atas segala hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Alam yang semula dianggap memiliki nilai magis, kini justru dieksploitasi.

Kerusakan lingkungan diperparah ketika sebuah peradaban berada di bawah pemimpin zalim. Manusia yang tadinya sekadar Sapiens, hendak menjadi Homo Deus. Persis seperti yang diucapkan Yuval Noah Harari dalam kedua bukunya tersebut (Alvabet, 2017-2018). Revolusi yang awalnya bertujuan memudahkan kehidupan manusia, tengah berbalik mengancam populasi mereka. (Halaman 24) Darmono kerap mengutip pepatah Jawa dalam penjelasannya. Bagian ini pula serupa dengan yang ditekankan Ayu Utami dalam Bilangan Fu (KPG, 2008). Pada era Orde Baru, tebing gunung rawan terkikis untuk latihan dirt climbing oleh oknum perwira militer.

Mereka pulalah yang menjadi aktor intelektual atas maraknya penebangan hutan kala itu. Dalam buku sebelumnya, Building A Ship While Sailing , Darmono telah menggambarkan bagaimana sulitnya menakhodai “kapal” Republik Indonesia ketika pertama kali berdiri. Keberhasilan para pemimpin Indonesia tetap berlayar dan mulai sejajar dengan negara lain memberi kesan mereka memang dipandu oleh divine power atau “wahyu ratu”, suatu kepercayaan bahwa legitimasi kekuasaan atau otoritas penguasa berasal dari Tuhan. Pancasila yang digagas oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia sejatinya mengandung paradoks. Sebagaimana yang disampaikan R Saddam Al- Jihad dalam bukunya, Pancasila Ideologi Dunia (Alvabet, 2018).

Pancasila menjadi jalan tengah atas dua paham berseberangan, yakni sosialisme dan kapitalisme. Lebih jauh, Darmono juga mengulas asal-muasal etnis Tiongkok di Indonesia serta sentimen pribumi terhadap mereka yang belakangan kian meruncing. Darmono meraih gelar Honoris Causa dari Universitas Glasgow pada 13 Juni 2018, atas kontribusinya membangun human processing factory . Lewat PT Jababeka, beliau juga berkomitmen untuk membangun lebih banyak smart city seperti yang telah dilakukannya di Cikarang, Kendal, Tanjung Lesung, dan Morotai. Berkaca dari Singapura, yang pada masa lalu hanya negara kecil minim sumber daya alam.

Namun, Singapura kini mampu menjadi negara maju dengan pusat pendidikan, perbelanjaan, dan pelabuhannya yang menjadi persinggahan jalur laut berbagai negara. Singapura dan negara maju lainnya kini tengah menggalakkan revolusi industri 4.0 berbasis internet of things (IoT). Bahkan Jepang sedang mengembangkan revolusi industri 5.0 yang lebih humanis dengan mengandalkan artificial intelligence (AI). Konsep tentang smart city sendiri pernah dibahas oleh Pierre Senjaya dalam bukunya, Jakarta 2045, Smart City for Millenials (Gramedia, 2019).

Darmono mengakhiri penjelasannya dengan pernyataan bahwa Indonesia bukan mustahil menghadapi tantangan industri 4.0, bahkan 5.0, selama berani melakukan leap frog (lompatan katak) dengan tetap mengacu pada peta penunjuk arah yang tepat serta mental rakyatnya yang dipenuhi cinta akan kebijaksanaan dan pengetahuan. Membangun peradaban dalam negeri sejatinya adalah pekerjaan rumah bersama.

Arinhi nursecha
pegiat literasi asal cikarang utara