Edisi 18-08-2019
Suntik Filler, Perawatan Favorit Para Artis


Berada di ruang bedah dan menjalani operasi plastik tidak sengaja dilakukan pesinetron Barbie Kumalasari untuk menyembuhkan infeksi yang dialaminya selepas suntik filler.

Mulanya Kumala melakukan suntik filler pada awal 2000-an saat perawatan kecantikan itu belum terkenal seperti sekarang. Bahkan dia menjadi model filler pertama di Indonesia. Namun 4 tahun berselang di klinik lain dia melakukan kembali suntik filler. Hasilnya tidak sama seperti di awal yang tidak ada efek samping. “Terjadi infeksi di batang hidung makin lama makin parah. Kata dokter kalau sampai ke mata bisa buta sampai dia meminta batang hidung saya dikuret sampai dua kali, tapi masih belum sembuh. Akhirnya dioperasi dibersihkan semua dari ujung batang sampai lubang hidung,“ cerita istri Galih Ginanjar itu.

Klinik kecantikan terbaik menjadi pilihannya. Kini dia tidak mau pindah klinik hanya untuk mencoba-coba. Kumala mengaku, sudah ada klinik kecantikan yang cocok bagi dirinya. Klinik ini juga menjadi klinik perawatan teman-teman artis lain. Pengalaman pahit seputar klinik perawatan tubuh juga pernah dialaminya saat mendapat endorse untuk program slimming . Namun kali ini korbannya sang suami yang mengalami alergi di bagian perut. Terdapat bercak biru di perutnya hingga tiga bulan lamanya baru hilang. Bukan cuma itu, Galih mengalami demam tinggi. Kini Kumala dan Galih tak mau lagi menerima kembali endorse sembarangan. “Memilih klinik memang tidak boleh asal. Lebih baik yang mahal tapi hasilnya bagus, daripada klinik murah tapi bahaya untuk diri kita,” sambungnya.

Kumala juga tidak trauma untuk kembali melakukan perawatan dengan cara disuntik. Perawatan terbaru yang sedang dijalani dan menjadi favoritnya ialahglass skin booster . Wajah akan disuntik plasenta agar lebih glowing . “Pori-pori kecil membuat kulit sehat terlihat segar dan jadi kelihatan lebih muda. Terkadang saya malas pakai make - up namun tetap glowing ,” ungkap Kumala. Operasi plastik bagus atau tidak, menurutnya, hasilnya tergantung dokter. Baginya, seni dari dokter yang mengetahui bentuk terbaik untuk wajah pasien. “Kalau saya tipe yang menyerahkan kepada dokter, tidak memaksa harus mancung atau bagian lain yang harus sempurna,” ucapnya.

Menurut Kumala, seseorang yang ingin melakukan operasi plastik harus menyesuaikan bentuk wajah, warna kulit, juga aktivitas sehari-hari. Jangan sampai berlebihan sehingga bukannya menjadi cantik, tetapi malah menyeramkan. Lain lagi dengan penyanyi Tina Toon yang tidak tertarik melakukan operasi plastik. Sempat disangka memanjangkan dagunya, Tina mengaku wajahnya terlihat lebih lancip seiring dengan ba dan nya yang kian langsing. Beberapa kerabat juga malah menyarankan Tina untuk memo tong dagu di Korea Selatan. Tapi Tina ber sikeras tidak ingin membedah wajahnya.

“Perawatan yang saya lakukan suntik filler, juga pernah setrika pipi supaya lebih tirus. Banyak yang saya coba dan tidak saya lanjutkan karena tidak permanen, jadi saya harus selalu datang ke klinik tersebut,” ungkapnya. Suntik filler sudah dilalukan Tina sejak usia 20 tahun hingga kini. Untuk membuat wajahnya seperti sekarang, selain suntik filler Tina lebih senang merawat secara alami menggunakanskin care . Didaulat menjadi brand ambassador sebuah produk kecantikan membuatnya banyak belajar mengenai bahan-bahan yang aman untuk skin care . “Pernah ada kejadian mengecewakan dengan dokter palsu yang sempat membuat kulit saya rusak. Saya penasaran jadi mempelajari mengenai produk kecantikan. Sempet magang di perusahaan skin care sampai tahu bahan-bahannya,” kenang Tina.

Bahan berbahaya seperti hidrokinon, merkuri, juga pemutih langsung yang jangka panjang akan memicu kanker. Bagi Tina, menggunakan skin care wajib untuk memelihara kecantikan kulit, sementara suntik filler dan operasi plastik hanya pilihan. “Jadi diri sendiri kalau mau operasi plastik harus dilihat jangka panjang. Bagaimana perawatan dan biaya, jangan pernah memaksakan dan hanya sekadar ikut tren saja,” tambahnya.

Baginya, tampil cantik tidak harus mengikuti tren seperti veneer gigi yang juga tengah menjadi tren. Ternyata, setelah pemeriksaan, kadar gigi Tina tidak memungkinkan untuk hal itu. Bisa saja dipaksakan, tetapi Tina tentu khawatir dengan kesehatan giginya di masa mendatang.

Ananda nararya