Edisi 20-08-2019
Upaya Serius Luruskan Sejarah Bangsa


JAKARTA – Dalam merayakan hari Kemerdekaan RI yang ke-74, sejarawan Batara Richard Hutagalung kembali meluncurkan bukunya yang berjudul “Indonesia Tidak Pernah Dijajah”.

Lewat buku ini, Batara de ngan berani ingin meluruskan sejarah dan fakta-fakta yang selama ini dipercayai oleh bangsa Indonesia dan dunia bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. “Saya yang hanya tamatan SMA menulis buku dan dibahas oleh tiga guru besar. Kita ingin mendengar bagaimana pendapat tiga guru besar ter hadap hasil penelitian saya sela - ma 25 tahun. Kok selama ini hanya dibahas, Belanda jajah Indo nesia atau Jepang jajah Indonesia. Tidak ada pemba - has an lima tahun wilayah jajah - an Belanda di Asia Tenggara direbut Inggris. Ini suatu lahan yang luas, kosong melompong. Masa penjajahan Jepang belum banyak data,” kata Batara membuka acara bedah buku - nya di Ruang KK I, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Batara ingin bertukar pikir - an dengan para ahli sejarah lain nya mengenai hasil peneli - tiannya bahwa Indonesia me - mang tidak pernah dijajah, ka - rena Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945. “Jadi intinya, saya ucapkan teirma kasih ba nyak pada guru besar dan para peserta. Kita bertukar pikiran apakah benar pendapat saya bahwa Indo - nesia sebagai enti-tas politik, baru ada pada 17 Agustus 1945 dan belum per nah dijajah,” tegas Batara. Wakil Ketua DPR Koordina - tor Politik dan Keamanan (Kor - polkam) Fadli Zon menilai bahwa buku ini menjadi tema yang cukup provokatif untuk didis - kusikan, karena selama ini berbagai catatan sejarah mengata - kan bahwa Indonesia telah di - jajah selama 350 tahun.

Padahal, yang dijajah selama itu ha - nya Batavia saja yang kini ber - ubah menjadi DKI Jakarta. Bah kan, di Aceh hanya dijajah 40 tahun saja dan di Jawa sen - diri baru dijajah pada 1830 se - telah Perang Jawa. “Buku ini su atu bahan yang sangat mena rik kita diskusikan di hari yang masih bagian hari Proklamasi HUT RI ke-74 tahun. Peristiwa penting di 17 Agustus dan ba nyak didiskusikan,” kata Fadli saat men - jadi pembicara kun ci dalam acara Bedah Buku “Indo nesia Tidak Pernah Dijajah”. Menurut Fadli, dia sangat mengenal Batara sejak 20 ta - hun lalu.

Batara punya fokus pada sejarah Indonesia dan terus memperjuangkan utang kehormatan Belanda sebagai ketua umum Komite Utang Kehormatan Belanda (KUB), karena Belanda memiliki banyak utang atas pelanggaran-pe - lang garan HAM yang dila kukan di masa lampau. Bahkan sampai saat ini, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure yakni 17 Agustus 1945, Belanda hanya mengakui secara de facto . “Dan meski sudah puluhan tahun ber lalu, hal ini menjadi PR un - tuk terus diperjuangkan,” imbuhnya.

Fadli percaya bahwa buku ini lahir secara organik dari penelitian Batara, karena seorang sejarawan sejati tidak hanya membaca buku intelektual mainstream, tetapi juga harus mengasah pisaunya sendiri un - tuk benar-benar menguak sejarah. “Pak Batara juga seorang sejarawan yang aktif. Bukan tipe yang berdiri di menara gading. Dia mengungkapkan bagai mana perjalanan bangsa menen tu kan positioning kita lewat seja rah,” ucap Fadli.

Kiswondari