Edisi 20-08-2019
Gletser Hilang, Islandia Pasang Plakat Peringatan


COPENHAGEN–Islandia memasang plakat di Okjokull untuk mengenang gletser pertama yang mencair akibat perubahan iklim. Negara itu memiliki ratusan gletser yang masih bertahan namun terancam mencair akibat pemanasan global.

Para pakar menyatakan berkurangnya gletser itu sebagai sa - lah satu tanda peringatan bah wa iklim di bumi menuju titik kritis yang berbahaya. Upacara untuk memasang pla kat pada Minggu (18/8) itu di hadiri para pakar dan warga lokal di gletser yang berada di ba - gian tengah-barat Islandia. Gletser itu sejak 2014 dinyata kan tak bisa lagi memenuhi kr i teria untuk disebut sebagai glet ser setelah meleleh sepanjang abad 20. “Ok (Okjokull) adalah glet ser Islandia pertama yang kehi - langan statusnya sebagai glet ser. Dalam 200 tahun men da tang semua gletser kita diper kirakan mengalami kondisi yang sama,” ungkap tulisan da lam plakat yang ditulis oleh pe nulis asal Islandia Andri Snaer Magnason dilansir kantor be rita Reuters.

Tulisan itu juga menjelas kan, “Kita tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang perlu di - lakukan. Hanya Anda tahu apa - kah kita telah melakukannya.” Plakat itu sengaja ditulis un - tuk generasi mendatang yang datang untuk membacanya. Menurut citra satelit dari NASA Earth Observatory, gletser itu pada 1986 terlihat sebagai bagi - an berwarna putih padat. Na - mun, dalam citra satelit 1 pada Agustus tahun ini, hanya seba gi - an kecil es warna putih di ka - wasan tersebut. Perdana Menteri (PM) Islan - dia Katrin Jakobsdottir, Men - teri Lingkungan Gudmundur Ingi Gudbrandsson, dan man tan Presiden Irlandia Mary Ro - binson menghadiri upacara pe - masangan plakat itu.

Setelah pi - dato pembukaan oleh Jakobs - dottir, semua peserta upacara itu berjalan naik ke gunung be rapi di Reykjavik untuk mema sang plakat dengan tulisan un-tuk generasi mendatang. Plakat itu juga diberi tanggal upacara tersebut digelar dan kon sentrasi karbon dioksida di udara global sebesar 415 bagian per juta (ppm). “Anda pikirkan da lam skala waktu berbeda saat Anda me - nulis di tembaga di ban dingkan di kertas. Anda mu lai berpikir bahwa seseorang akan datang ke sana dalam 300 ta hun mem bacanya,” ungkap Magna son yang menulis plakat itu. “Ini momen sangat simbolis.

Perubahan iklim tidak dimulai atau berakhir, dan saya pikir filosofi di balik plakat ini adalah menjadikan ini tanda per ingat - an untuk mengingatkan diri ki ta sendiri bahwa kejadian his toris sedang terjadi dan kita se - harusnya tidak meng ang gap nya normal. Kita harus mele tak kan kaki kita ke bawah dan me nga ta - kan, oke, ini sudah pergi, ini pen - ting,” tutur dia. Warga Islandia menyebut negara mereka sebagai “Tanah Api dan Es” karena wilayah itu memiliki banyak gunung berapi dan gletser. Kondisi itu pun ba - nyak digambarkan dalam ber ba - gai karya sastra. Namun, glet ser itu kini meleleh dan para pe neliti menyatakan naiknya su hu global sebagai penyebabnya.

“Tak diragukan lagi bahwa iklim di Arktik berubah cepat dan drastis,” ungkap Minik Rosing, profesor di Universitas Copenhagen. Dia menambahkan, “Semua negara-negara Nordik di wila yah Arktik adalah tempat perubahan iklim telah bergerak da ri prediksi teoritis masa depan menjadi realitas setiap hari.” Hilangnya gletser Okjokull menjadi pukulan besar bagi war - ga setempat dan dunia. Glet ser itu berusia sekitar 700 ta hun dan dinyatakan mati pa da 2014. Oddur Sigurdsson merupa - kan pakar gletser di Kantor Me - teorologi Islandia yang meng - umumkan kematian Okjokull pada 2014.

Dia telah memotret gletser-gletser di negara itu selama 50 tahun terakhir dan menyatakan pada 2003 bahwa salju meleleh sebelum dapat berkumpul di Okjokull. “Meski saya pikir ini sangat rendah hingga saya ingin da tang ke sana dan memeriksa sen diri. Saya lakukan itu pada 2014. Gletser itu tidak berge rak. Gletser itu tidak cukup te bat untuk tetap hidup. Kami me - nyebutnya es mati,“ kata Si gur - dsson. Para pakar gletser menje las - kan, saat ada cukup es yang ter - bentuk, tekanan membuat se lu - ruh bagian es itu bergerak. “Itulah tempat batas antara glet ser dan bukan gletser. Di bu tuhkan 40 hingga 50 meter ke tebalan untuk mencapai batas tekanan,” ujar dia. Saat Sigurdsson meng - umum kan kematian gletser Ok - jokull pada 2014, tidak ba nyak pihak memberi perhatian.

“Saya sedikit terkejut karena glet ser ini terlihat dari wilayah berpen - duduk padat dan bagian bagus dari jalan lingkar Islan dia. Ini juga dikenal oleh seba gi an besar anak karena namanya yang aneh dan tempatnya di pe ta,” tutur dia. Dua profesor dari Univer si - tas Rice di Texas, Cymene Howe dan Dominic Boyer, membuat dokumenter tentang hilangnya gletser itu dengan judul Not Ok pada 2018 dan muncul dengan ide plakat itu saat pembuatan film. “Di sini ada cerita sangat pen - ting tentang gletser ini yang menjelaskan pada kita sesuatu ten - tang perubahan yang kita li hat di semua gletser di mana pun di planet dan kisah itu be lum ba - nyak diketahui,” kata Dr Howe.

Syarifudin