Edisi 24-08-2019
Bandara Hong Kong Kembali Diserbu Demonstran


HONG KONG – Bandara Hong Kong kembali menjadi target unjuk rasa antipe merintah akhir pekan ini.

Demonstrasi itu dapat melumpuhkan salah satu bandara tersibuk di dunia tersebut. Unjuk rasa tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Bandara Hong Kong sempat lumpuh pekan lalu saat pengunjuk rasa memblokir jalur penumpang dengan troli bagasi, batang besi, dan benda lain.

Pengunjuk rasa pun terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. “Pergi kebandara dengan cara berbeda, termasuk kereta MTR, bus bandara, taksi, sepeda, dan mobil pribadi untuk me ningkatkan tekanan pada transportasi bandara,” tutur seruan online penyelenggara unjuk rasa Hong Kong kemarin, dilansir Reuters.

Otoritas bandara telah memasang peringatan setengah halaman di sejumlah surat kabar yang meminta para pemuda agar mencintai Hong Kong. Otoritas bandara juga menegaskan menolak aksi blokade bandara. Mereka juga menegaskan bandara akan tetap ber operasi untuk menjaga kelancaran layanan.

Pengadilan tinggi Hong Kong telah memperpanjang perintah pembatasan unjuk rasa di bandara. Beberapa aktivis telah minta maaf atas unjuk rasa yang melumpuhkan bandara. Unjuk rasa itu awalnya meng angkat isu penolakan pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi China.

Kini unjuk rasa berubah menjadi seruan reformasi politik dan kebebasan yang lebih luas. Para demonstran khawatir pengaruh China semakin me - ngu at di Hong Kong hingga mengurangi kebebasan warga, hak berunjuk rasa, dan independensi yudisial. Demonstrasi di kota itu berdampak pada perekonomian dan pariwisata.

Otoritas Hong Kong pun meng umum kan terjadi resesi pertama dalam satu de kade. Kepala Transportasi Hong Kong Frank Chan menyatakan, volume penumpang ban dara dari 1 Agustus hingga 21 Agustus turun 11% dari periode yang sama tahun lalu. Ada pun volume kargo turun 14%.

Kepala Perdagangan Hong Kong Edward Yau menjelaskan, kedatangan pengunjung mulai turun pada pertengahan Juli. Selama 15 hingga 20 Agustus kedatangan pengunjung turun 49,6% diban ding kan periode yang sama pada 2018.

“Ini penurunan tercepat dan terdalam pada beberapa ta hun terakhir dan situasi jelas sangat mengkhawatirkan,” kata Yau, dilansir Reuters. Konsulat Kanada telah menunda perjalanan ke daratan China bagi para staf lokal, hanya beberapa hari setelah pegawai asal China di konsulat Ing gris ditahan di China.

Otoritas China menyatakan bahwa pegawai konsulat Simon Cheng ditahan di kota Shenzhen, tetangga Hong Kong. Imbauan perjalanan terbaru Kanada pada Kamis (22/8) memperingatkan peningkatan pemeriksaan perangkat digital para pelancong di perlintasan perbatasan antara China daratan dan Hong Kong.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Geng Shuang menyatakan, keputusan Kanada tidak mengizinkan staf lokal berkunjung kedaratan China adalah urusan Kanada dan Beijing menghormatinya.

syarifudin