Edisi 24-08-2019
Jangan Pernah Berpikir untuk Self Harm


KESEHATAN mental menjadi sesuatu yang penting untuk dibicarakan.

Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intellegence, mengatakan, "Orang yang berpandangan cerah, tentu saja lebih mampu bertahan menghadapi keadaan sulit, termasuk kesulitan medis." Sering juga kita mendengar, dalam jiwa yang sehat terdapat raga yang sehat.

Self harm adalah salah satu tanda mental yang tidak sehat. Apa itu self harm? Psikolog Alfath Hanifah Megawati SPsi MPsi menjelaskan bahwa self harm adalah perilaku yang dengan sengaja menyakiti diri sendiri secara fisik, tanpa intensi bunuh diri.

Perilaku yang termasuk di dalamnya bukanlah perilaku yang wajar atau diterima secara sosial. "Kalau menato tubuh atau diet mati-matian nahan lapar supaya kurus, bukan disebut self harm. Sebab intensi atau niatnya bukan menyakiti diri atau mendapat sensasi sakit pada fisik," tambah psikolog lulusan S-2 Universitas Indonesia ini.

Self harm digambarkan dengan menyayat, membakar, menggaruk, memukul dan mencongkel luka pada tangan, jari, dada, atau bagian tubuh lainnya. Siapa saja dapat melakukan self harm, utamanya individu yang tumbuh dalam keluarga yang abai secara emosional, memiliki kritik pada diri yang tinggi, dan memiliki fitur kepribadian borderline .

"Anak cenderung mengembangkan kritik diri yang tinggi karena kurang diapresiasi sehingga menghukum dirinya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Self harm adalah media menghukum dirinya," jelas perempuan yang kerap disapa Ega ini.

"Sedangkan dari keluarga yang bermasalah, mereka cenderung kurang mengembangkan metode coping (meregulasi emosi) dengan baik. Mereka merasa tersiksa dengan emosi negatif yang mereka rasakan. Self harm dirasa membantu mengalihkan rasa emosional ke dalam sakit fisik," imbuh Ega.

Kemunculan pertama kebanyakan pelaku ditemukan berusia 12-14 tahun. Namun, frekuensi perilakunya lebih tinggi pada usia 18-30 tahun. "Ada kok pelaku yang berusia di atas 30 tahun, tetapi tak sebanyak 18-30 tahun.

Pada masa emerging adulthood , perkembangan prefrontal korteks pada otak (yang mengatur decision making dan penilaian komprehensif) belum berkembang secara maksimal, terutama usia 18-25," ucapnya.

Penyebab Self Harm

Sementara itu, pemicu self harm adalah situasi yang menyebabkan emosi tidak nyaman seperti marah, sedih, dan kecewa. Ciri pelaku self harm tidak selalu tampak karena cenderung ditutupi dan sering kali tampil sebagai sosok yang mudah bersosialisasi.

"Ada dua ciri utama yaitu, ciri pertama adalah luka. Walaupun demikian, pelaku cenderung menutupi lukanya, misalnya mengenakan baju lengan panjang atau jam tangan. Ciri kedua adalah pelaku menghindar dari relasi sosial secara tiba-tiba," tuturnya.

Waktu pemulihan self harm bergantung pada tingkat keparahan luka yang dihasilkan, frekuensi self harm, support system (orang-orang dekat) yang dimiliki, dan keinginan untuk berhenti (daya juang pelaku).

Dijaga Ketat di Medsos

Pada zaman dengan teknologi yang semakin canggih, self harm bukan saja terlihat dalam dunia nyata tetapi juga media sosial (medsos). Belakangan ini media sosial seperti Instagram menghapus tagar #SelfHarm #SelfInjury guna mengurangi kecenderungan pengguna melakukan hal yang sama.

"Sekarang ini, Instagram, Facebook, dan YouTube sudah memberlakukan aturan untuk memblokir konten-konten yang mengundang perilaku self harm," ucap psikolog yang hobi membaca buku misteri ini. Walau begitu, masih ada pelaku self harm yang membagikan aksinya ke media sosial seperti Twitter.

Mengampanyekan stop self harm menjadi salah satu tujuan maraknya foto-foto self harm di media sosial. Dukungan yang tinggi menjadi penting agar seseorang dapat lepas dari self harm. "Self harm ini kan seperti adiksi ya, susah untuk dilepaskan.

Alasan utamanya biasanya adalah mereka ingin dipahami bahwa mereka sedang merasa begitu menderita," kata pemilik akun Instagram egaalfath ini. Mem-posting tentang self harm bukanlah hal yang bijak dan melakukan bullying terhadap aksi mereka juga tidak bijak.

MASRIAH

GEN SINDO

Universitas Negeri Jakarta