Edisi 11-09-2019
Infrastruktur Wisata Harus Dikebut


JAKARTA – Pembangunan infrastruktur di kawasan wisata unggulan harus dipercepat. Aksesibilitas dan konektivitas akan menjadi kunci berkembangnya destinasi wisata sehingga dapat menarik wisatawan.

Penguatan infrastruktur di daerah wisata baru mutlak dilakukan apabila ingin menjadikan sektor tersebut sebagai andalan peng hasil devisa. Apalagi pemerintah telah menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019 bisa mencapai 17,5 juta orang.

Adapun pergerakan wisatawan nusantara ditargetkan sebanyak 308 juta perjalanan dengan target penerimaan devisa USD20 miliar. Melihat target tersebut, jelas bukan perkara mudah. Terlebih lagi jika melihat rencana pen capai - an pada 2020 di mana target kunjung an wisman di - proyeksikan sebanyak 18,5 juta orang.

Selain itu, per gerakan wisata wan Nusan tara dipatok 310 juta perjalanan de - ngan target penerimaan de - visa mencapai USD19- 21 juta. Menteri Pariwisata (Men - par) Arief Yahya memastikan, semua ke menterian/lembaga terkait telah siap mendukung pengembangan destinasi super prio ritas yang dimandatkan Pre - siden Joko Widodo (Jokowi) itu.

Menurutnya, semua infra struk - tur dasar harus selesai tahun de - pan sejalan dengan komit men pemerintah kepada investor. “Jadi, tidak perlu ragu lagi karena yang bicara menterinya masing-masing menyatakan sudah siap.

Contohnya Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sudah merancang anggaran untuk lima destinasi super prioritas yang totalnya Rp7,2 triliun,” kata Arief saat jumpa pers di sela-sela rapat koordinasi nasio - nal (Rakornas) III Pari wisata di Jakarta kemarin.

Pemerintah, kata dia, memastikan akan mendorong pariwisata sebagai sektor andalan yang dapat membawa perekonomian Indonesia naik kelas. Pembangunan destinasi wisata pun akan digenjot secara masif terutama di lima destinasi super prioritas.

Kelima destinasi super prioritas tersebut adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Daerah-daerah tersebut tengah didorong pengembangan infrastrukturnya yang ditargetkan selesai pada 2020 serta di promosikan secara masif setelahnya.

Rakornas yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tersebut secara khusus membahas pengembangan limadestinasi superprioritas, yang telah ditetapkan Presiden Jokowi setelah rapat terbatas pada 15 Juli 2019 lalu dengan beberapa kementerian dan lembaga terkait.

Rakornas dihadiri beberapa kementerian/lembaga terkait yakni Kementerian Koor dinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Keuangan, Ke menterian PUPR, Kementerian Perhubungan, Bappenas, Badan Ekonomi Kreatif, serta pemangku kepen - tingan pari wisata di daerah dan pengusaha pariwisata.

Hingga saat ini, ujar Arief, progres yang telah dicapai yaitu telah berdirinya The Kaldera- Toba Nomadic Escape di Lahan Zona Otorita Kabupaten Toba Samosir. Di lokasi ini, pada 10 Oktober mendatang akan dilangsungkan Groundbreaking Glamping.

Sementara itu, untuk mendorong perkembangan wisata di Borobudur, pemerintah membangun Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. Per Oktober 2019, bandara ini telah melayani 66 penerbangan dengan kapasitas bandara mencapai 3 juta penumpang. “

Borobudur saya beri target dua juta (kunjungan wisatawan mancanegara/wisman), sekarang baru 500.000. Saya tekankan tahun depan harus 1 juta (wisman) dan critical success factor-nya adalah Bandara YIA. Berkaca dari Bandara Silangit yang penumpangnya bisa tumbuh dua kali lipat, kita yakin YIA juga bisa,” tandasnya.

Adapun untuk destinasi Mandalika, proses pengukuran topografi dan konstruksi untuk pembangunan Sirkuit Moto GP akan dimulai Oktober 2019 dan ditargetkan selesai 2020. Semangat pembangunan juga tecermin di destinasi Labuan Bajo, yang saat ini telah mencapai tahap finalisasi pembangunan hotel, marina, area komersial dan pelabuhan feri.

“Di Labuan Bajo, nanti kita juga akan mengubah pelabuhan peti kemas menjadi kawasan kapal pesiar yacht . Jadi kawasan premium,” sebut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Bukan Pelengkap

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro yang turut hadir pada Rakornas III Kemenpar mengatakan, pemerintah sudah merancang bahwa pariwisata akan dijadi kan arus utama dalam per tum buhan ekonomi Indonesia.

Pari wisata tidak lagi dianggap pelengkap semata, melainkan menjadi sektor utama beserta industri manufaktur untuk men capai stabilitas ekonomi ke depan. Bambang mengakui pari wisata jadi harapan baru di tengah persaingan perekonomian globalyangsemakinberat.

Dalam upaya mencegah pelebaran defisit transaksi ber jalan (current account deficit/ CAD), ekspor Indonesia belum bisa diandalkan. Demikian pula investasi asing langsung (foreign direct investment /FDI) juga masih seret. “Ekspor sulit, neraca dagang defisit, CAD lebar.

Untuk menutupnya harus mendatangkan FDI besar atau mendat angkan portofolio, tapi keduanya juga susah. Arti nya, jangan tergantung pada FDI dan portofolio atau saham. Sudah saatnya pariwisata men ciptakan kestabilan makro eko nomi dengan devisa yang besar,” tuturnya.

Agar mendatangkan devisa yang besar, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pun harus berkualitas, yaitu pengeluarannya besar dan durasi menginap lebih lama. Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,95 Triliun untuk pengembangan lima destinasi pariwisata superprioritas pada 2019-2020.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, setelah mendapat arahan dari Presiden, Kemenhub mendedikasikan anggaran dan me laku kan efisiensi pada program lain untuk dialihkan mendukung program pariwisata. Dari total Rp2,95 triliun, Kemenhub mengalokasikan Rp353,99 miliar pada 2019danRp2,6triliun pada 2020.

Di bagian lain, ekonom Center Reform on Economic Mohammad Faisal mengatakan, rencana pemerintah yang fokus menganggarkan sektor ke pari - wisataan melalui desti nasi wisata baru harus diapresiasi. “Memang ini butuh kehendak semua pihak.

Artinya, jangan hanya satu institusi yang berjalan, misalnya di Kementerian Pariwisata namun melibatkan banyak institusi,” ujarnya. Dia menambahkan, sektor pariwisata membutuhkan anggaran yang besar dari sisi akses infrastruktur transportasi mengingat potensinya yang sangat besar.

“Jadi, anggaran infrastruktur itu harus dilihat dari banyak sisi. Misalnya dari sisi industri, berarti harus dilihat juga sektor lain seperti pariwisata. Yang paling penting dari sisi infrastruktur adalah aksesnya,” pungkas dia.

inda susanti/ ichsan amin