Edisi 11-09-2019
Umat Islam dan Budha Jaga Keharmonisan


Meski berpenduduk mayoritas agama Buddha, kerukunan antar-umat beragama di Thailand sangatlah terasa.

Setiap pemeluk agama saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Mereka bahkan berkomitmen bekerja sama dan memelihara rasa kekeluargaan. Di Thailand, Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Buddha.

Tiga provinsi di Thailand Selatan, sebesar 85% penduduknya bahkan me me luk agama Islam, yakni Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat. KORAN SINDO berkesempatan melihat langsung kehidupan dua pemeluk agama saat mengunjungi tiga provinsi tersebut.

Di pusat kerajinan tangan Si MaYadi Yala misalnya, suasana kekeluargaan dan kerukunan sangat terasa. Beberapa ibu-ibu paruh baya baik yang beragama Buddha, Islam, dan Kris ten bahu-membahu meng olah tanah dari Gunung Kam pan untuk dijadikan bahan dasar pewarna kaos, slayer, dan kain sebagai suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

“Kami berdayakan ibu-ibu tua, sudah pensiun, agar tidak sen diri di rumah sekaligus mencarikan kerja untuk ma syarakat setempat,” ucap Ke tua Pusat Kerajinan Tangan Si Ma Ya, Nouwarat Noypong, Jumat (6/9).

Kultur kebersamaan yang telah dibangun sejak lama ini membuat mereka hidup rukun. Apalagi, sejak pusat kerajinan tangan itu dibangun pada 2007, keharmonisan antara sesama pemeluk aga ma di daerah itu makin erat. Mereka bersama-sama memproduksi suvenir baju, kain,topi, tas, dan lainnya.

Sikap toleransi an tar pe - meluk agama juga dirasakan di Pasar Klong Srai Hai, di tepi jalan utama menuju Provinsi Yala. Pasar itu banyak diisi pedagang dari dua pemeluk agama terbesar di negara itu. Pasar itu menyediakan ber ba - gai kebutuhan pokok seperti sayur, buah, dan hasil laut.

Pasar ini memiliki 48 kios yang dibagi dua untuk para pe da - gang muslim dan penganut Buddha. Setiap harinya pasar buka setengah hari mulai dari 13.00-18.00 WIB. “Dari nenek moyang sudah berbaur, jadi tidak ada masalah, sudah seperti keluarga sendiri,” ujar Caran, 48, kepala Pasar Klong Srai Hai.

Kerukunan dan ke har mo - nisan antarpemeluk agama juga tergambar di Provinsi Narathiwat. Selain memiliki ribuan masjid, di provinsi ini juga ada wihara besar, yakni Wihara Khao Kong. Wihara itu didirikan sejak 1966 dan baru diresmikan Pemerintah Thailand pada 1978.

Wihara itu memiliki patung Buddha sangat besar berukuran lebar 17 meter dan tinggi 24 meter. Wihara ini sangat bernilai bagi masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah umat Buddha, juga menjadi simbol toleransi, kerukunan, dan keharmonisan umat beragama di wilayah itu.

Patung itu juga berdiri di wilayah yang 85% penduduknya beragama Islam. Sementara pemeluk Buddha di provinsi itu hanya 10%. Meski begitu, kehidupan antarpemeluk agama sangat rukun. Mereka saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Seperti yang dilakukan Wihara Kao Kong.

Setiap dua bu lan wihara ini secara rutin menggelar pertemuan de ngan umat muslim dan agama lain. “Kami berkumpul, bikin acara makan bersama-sama. Kami pun sering diundang jika umat muslim menggelar acara. Dan, kami datang,” ungkap staf officer Wihara Kao Kong, Prasith Bunglaeiat.

Sikap toleransi antarumat beragama ini disambut baik Pemerintah Thailand. Hal itu dibuktikan dengan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk menuntut ilmu di Sekolah Rajpra chanukroh, Provinsi Pattani, yang dibangun pihak kera jaan.

Sekolah yang dibangun Raja Ke-9 Thailand, Bhumibol Adulyadej, itu memberikan kesempatan bagi pelajar Islam dan Buddha untuk belajar bersama, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari 654 pelajar yang bersekolah milik kerajaan ini, sekitar 95% beragama Islam.

“Sekolah ini dibangun dengan tujuan agar pelajar muslim dan pelajar beragama Buddha bisa belajar secara bersama-sama,” kata Ketua Sekolah Rajprachanukroh, Chanchai Sudjai, di Pattani. Setiap kali acara keagamaan umat Islam, karyawan atau pelajar beragama Buddha ikut berpartisipasi. Begitu juga sebaliknya, apabila ada acara keagamaan umat Buddha, karyawan dan pelajar muslim turut membantu.

SUCIPTO

Thailand