Edisi 11-09-2019
Radio dan Hoaks


”Di radio aku dengar lagu kesayanganmu...” Begitu penyanyi terkenal Gombloh mem buka lagunya yang berjudul agak serem , yaitu Kugadaikan Cintaku .

Gombloh memanfaatkan media radio untuk urusan cintanya kepada sang kekasih. Walaupun kemudian Gombloh datang dan melihat kenyataan seperti ini: ”Tetapi mimpi apa aku semalam/Ku lihat engkau duduk berdua/Bercanda mesra dengan seorang pria/Kau cubit, kau peluk,/Kau cium...” Gombloh langsung loyo, pulang. Apes bener ! Ilustrasi di atas mengingatkan kita kepada siaran radio sebagai media hiburan. Sebagai media pengingat kenangan. Itu yang terjadi.

Tidak banyak yang memandang bahwa radio merupakan salah satu media yang cukup strategis sebagai advokasi, sosialisasi, dan penangkal info tidak benar alias hoaks. Banyak pihak kurang memanfaatkan radio, padahal merupakan media resmi yang cukup efektif dalam menyampai kan pesan dengan cepat ke wilayah yang sulit dijangkau media lain.

Perkembangan zaman begitu pesat, sejatinya, radio dilihat sebagai media yang memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan lainnya. Jika dahulu orang mendengar radio menggunakan alat penerima siaran dalam bentuk besar, seperti radio transistor dan lain nya, sekarang lebih kecil. Siaran radio sekarang bisa didengar melalui pesawat telepon genggam (smartphone ) dalam bentuk streaming maupun manual.

Jika dahulu kala tidak banyak orang memiliki alat penerima radio, sekarang mayoritas mudah mendapatkan. Banyak orang memiliki smartphone dan melalui alat ini bisa mendengarkan siaran radio. Maka, bisa dikatakan radio masa kini lebih mudah dan luas menjangkau masyarakat.

Maju tidaknya perusahaan radio tergantung seberapa be sar kreativitas pengelolanya. Ter bukti masih banyak acara radio pada hari ini diminati orang dan mereka bukan melulu ”orang lama”, tetapi anak muda yang hidup dalam era digital. Menganggap media radio adalah kuno sehingga tidak layak didengar adalah salah. Kebanyakan yang kuno adalah pengelolanya, tidak mengikuti zaman, tidak mam pu meng ikuti selera atau keinginan masyarakat sehingga diting gal kan pendengar.

Penangkal Hoaks

Era keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi saat ini berdampak pada begitu derasnya arus informasi yang di terima oleh masyarakat. Penyebar berita terbesar saat ini bukan hanya dilakukan oleh war tawan seperti yang masyarakat mengenal selama ini. Tetapi, masyarakat awam pun sekarang dapat ikutan menjadi penyebar berita dan jumlah nya cukup banyak ser ta lebih cepat dibandingkan wartawan.

Kalah cepat karena wartawan ha rus mengolah informasi ter le bih dahulu dari segi tata bahasa, kepastian (check & rec heck), dan sebagainya sebelum di publikasikan. Sementara me reka yang bukan wartawan bablas menyiarkan tanpa proses konfirmasi. Itu yang sekarang banyak terjadi kemudian menimbulkan masalah hukum.

Pada masyarakat yang memiliki tingkat intelektualitas cukup serta bijak dalam mencerna informasi dan menanggapi informasi, tentu akan berhati-hati sebelum menyebarkan informasi yang ia terima. Namun, tidak sedikit orang terjebak pada emosinya, yaitu hanya membaca judul langsung menyebarkan informasi yang diterimanya melalui berbagai saluran media sosial.

Mereka tidak melakukan check & rechek terkait akurasi informasi peristiwa yang diterimanya. Kemajuan teknologi dan kemudahan membuat media berita, khususnya online (daring), banyak berpengaruh pada maraknya informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Apalagi, banyak media daring sekadar mengejar rating Alexa dan meraup clicker iklan Adsense (program kerja sama iklan media internet) dengan menghadirkan berita-berita heboh yang sedang menjadi perbincangan di masyarakat. Kondisi seperti itulah yang membuat banyak media berita, akhirnya, terjebak dalam arus penyebaran informasi salah atau hoaks.

Dalam satu kesempatan, pernah seorang narasumber mengungkapkan dirinya lebih senang diwawancarai media radio. Apa pasal? Masih menurut sang na rasumber, berita radio sangat simpel, namun autentik. Beritanya ringkas, mudah dipahami, dan jauh dari kalimat-kalimat ”pelintir” serta terhindar dari rekayasa adegan.

Pernyataan itu sepertinya cukup beralasan jika melihat hasil riset Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) belum lama ini. Riset tersebut menempatkan radio sebagai me dia dengan persentase terkecil dalam kategori Media Penye bar Hoaks, yaitu hanya 1,2% di bawah media cetak yang 5% dan televisi 8,7%.

Tingkat ter besar penyebar hoaks, me nu rut Mastel, media sosial men capai 92% dan aplikasi chatting 62,80 % serta situs web 34,90%. Lewat penelitian ini terlihat media resmi seperti radio televisi serta cetak kecil persentasenya dalam menyebarkan hoaks. Boleh jadi itu ka rena keteledoran bagian redaksi, tetapi bukan pada niatan men cari keuntungan dari hoaks.

Peran Radio

Pada proses berita radio, umumnya, disampaikan lang sung narasumber dalam bentuk siaran langsung atau rekaman. Informasi yang keluar dari pengeras suara radio me rupakan asli suara narasumber yang langsung disampaikan nya. Itu sebabnya, ada penilaian berita radio cenderung lebih natural dan objektif serta in formatif.

Karena berita radio mengguna kan kata-kata, na da, dan suara serta gaya bicara yang tidak dilebihlebihkan atau dikurang-kurangi maka objektivitas berita terjamin dan enak didengar. Itu ada pada penyampaian berita radio da lam bentuk reportase maupun talkshow dan lainnya.

Sebelum maraknya istilah citizen journalism , sebetulnya, radio sudah melakukan konsep tersebut, yaitu dalam kasus pen dengar radio saling berinteraksi, bertukar informasi, atau saling koreksi. Berita atau informasi yang disiarkan tetapi tidak jelas kebenarannya, biasanya, langsung mendapat respons pendengar lainnya dengan meluruskan informasi tersebut sehingga koreksi atas informasi salah yang sempat mengudara bisa langsung diantisipasi pendengar lainnya yang lebih mengetahui peristiwa sebenarnya.

Media radio merupakan salah satu media massa bersifat dua arah, di mana pendengar bisa menyampaikan pendapat atau koreksi secara langsung pada saat itu juga. Ketika terjadi kesalahan informasi yang di beritakan maka radio mampu langsung mengoreksinya.

Pada era yang begitu terbuka, informasi berseliweran di masyarakat luas, di mana 50% pengguna smartphone adalah lulusan SD (Buku Democratic Policing hlm 10 ) maka berita hoaks cenderung semakin mudah tersebar. Dampaknya, akhir-akhir ini, bisa dirasakan dan diketahui masyarakat luas sehingga menimbulkan kegaduhan dan meng akibatkan banyak hal terganggu.

Masyarakat dan pemerintahan tersita perhatiannya untuk sesuatu yang tidak ada guna dan melelahkan. Melihat sifat media radio yang cepat, mampu menjangkau wilayah luas, memiliki siaran menyenangkan, dan dikenal juga sebagai media personal maka pemanfaatan media radio sebagai salah satu alat penangkal hoaks perlu di tingkatkan.

Tidak tepat jika ada pihak menilai radio sebagai media kuno. Sosialisasi dari lembaga pemerintahan ada baiknya memanfaatkan media radio terutama jika muncul keresahan akibat penyebaran hoaks. Mungkin ada juga yang menilai citra radio sebagai media pemberitaan semakin memudar. Tetapi, tidak bisa dimungkiri radio masih kental dengan nilai-nilai kejujuran. Kejujuran dari insan media, kejujuran pendengar, dan kejujuran sumber berita.

EDDY KOKO

Mantan Pemimpin Redaksi Radio Trijaya FM

Berita Lainnya...