Edisi 11-09-2019
Menjaga Asa


BELFAST– Harapan Jerman untuk mengikuti Piala Eropa 2020 terbuka lebar.

Sukses mengalahkan Irlandia Utara 2-0, memungkinkan Die Mannschaftnaik ke posisi pertama klasemen sementara kualifikasi Grup C. Jerman memberi kekalahan pertama bagi Irlandia Utara yang tampil di hadapan pendukung setianya di Windsor Park, Selasa (10/9).

Gagal mencetak gol pada babak pertama, tim tamu bisa meraih poin penuh berkat jasa Marcel Halstenberg (48) dan Serge Gnabry (90+2). Hasil positif itu membuat Jerman mengumpulkan 12 poin hasil empat menang dan satu kalah. Hanya saja, mereka dikuntit Irlandia Utara yang juga membukukan torehan serupa.

Namun, dengan tersisa tiga laga lagi, kans tim asuhan Joachim Loew itu melengang ke putaran utama cukup besar. Dengan tersisa Estonia, Belarus, serta pertemuan kedua kontra Irlandia Utara, setidaknya Jerman bisa meraih tujuh poin. Itu sudah cukup untuk mengamankan posisi kedua.

Apalagi Belanda yang ada di urutan ketiga dan Irlandia Utara masih saling jegal. “Kami dibebankan untuk menang setelah hasil pada laga sebelumnya. Kami harus mengatasi sejumlah rintangan pada babak pertama. Irlandia Utara menyerang pada awal laga dan merusak permainan kami.

Tapi, setelah jeda, kami bisa bermain lebih baik,” ucap Loew dilansir reuters. Kemenangan atas Irlandia Utara menjadi sangat penting. Soalnya, Jerman sempat disorot setelah dihajar Belanda 2-4. Apalagi mereka tampil tanpa kekuatan penuh karena hampir selusin pemainnya absen akibat cedera.

Saat melakoni laga tandang itu, Loew mengambil risiko dengan menurunkan sejumlah pemain muda, seperti Julian Brandt, Timo Werner, dan Lukas Klostermann, yang semuanya masih berusia 23 tahun. Hal ini membuat permainan Jerman kurang bagus di awal babak pertama.

Hal itu bisa dimaklumi karena mereka belum banyak tampil bersama Jerman. “Kami belum pernah bermain dengan line-up seperti ini sebelumnya. Karena itu, kami harus bersabar. Sebab ini merupakan proses pembelajaran,” ujar Loew.

Namun jelas, dengan tambahan tiga poin ini Jerman berharap bisa menjaga tradisi yang terus mengikuti Piala Eropa sejak pertama kali hadir pada 1972. Apalagi mereka punya ambisi meraih gelar juara yang terakhir kali terjadi pada 1996 di Inggris.

Sementara bagi Irlandia Utara justru sebaliknya. Kekalahan ini bisa saja merusak rencana mereka meramaikan Piala Eropa untuk kedua kalinya secara beruntun. Soalnya, mereka kini tidak boleh kalah lagi jika masih ingin bertahan. Itu tergolong sulit diwujudkan karena tiga laga tersisa Irlandia Utara sangat berat.

Selain masih harus menyambangi Jerman, tim asuhan Michael O’Neill itu akan dua kali berjumpa Belanda. Tentu bukan perkara mudah untuk mengalahkan Belanda maupun Jerman. “Kami sempat bisa mencegah Jerman mengembangkan permainan.

Kami senang bisa menekan mereka dan menguasai bola lebih banyak. Tapi, harus diakui, sangat sulit melawan tim dengan level seperti mereka,” ujar O’Neill.

m mirza