Edisi 12-09-2019
Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan Sebelum Meluas


JAKARTA – Pemerintah dan aparat terkait hendaknya bertindak cepat untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelum meluas dan menimbulkan yang lebih parah kepada masyarakat.

Permintaan ini disampaikan kalangan DPR merespons karhutla yang saat ini terjadi di Riau, Sumatera Selatan (Sumsel),Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Selain agar tidak sampai menyusahkan masyarakat, lang kah cepat diperlukan agar kabut asap tidak sampai mencemari negara tetangga.

Namun kemarin Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan ti dak ada asap dari Riau yang mencemari udara Malaysia karena terhalang oleh angin kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah teng gara kebarat laut. Bahkan berdasar analisis citra satelit, dike ta hui karhutla juga terjadi di Semenanjung Malaysia dan Viet nam.

Kemarin di Malaysia titik api justru me - nunjukkan pe ning katan. Untuk mengoordinasikan pemadaman karhutla, ren ca na - nya Kamis ini, Komisi VII DPR akan melakukan rapat dengar pendapat dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehu - tanan (LHK). Salah satu yang akan dibahas adalah kasus kar - hutla yang terjadi di Riau.

“Karena selain itu menjadi riskan bagi keberadaan eko sistem ling kungan, karhutla ini juga ber bahaya masyarakat dan tidak baik dari sisi (hubungan), ter utama dengan negara tetangga seperti Malaysia,” ujar anggota Komisi VII DPR Abdul Kadir Karding ke marin.

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari menandaskan, walaupun asap yang mendera Malaysia belum tentu dari Indonesia, dia menekankan Pemerintah Indonesia untuk tetap bertindak cepat mengatasi karhutla. Dia pun menyarankan pemerintah merespons positif tawaran Malaysia membantu memadamkan karhutla sebagai bentuk hubungan baik.

“Intinya harus ada respons cepat,” ujar dia. Upaya pemadaman sudah dilakukan petugas dari Tagana Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penang gulangan Bencana (BNPB), dan TNI/ - Polri. Menteri LHK Siti Nurbaya me ngaku pihaknya sudah dilakukan dengan pola sistematis. Selain petugas, pemadaman juga dilakukan dengan meng gu - nakan total 46 pesawat.

Masing-masing sebanyak 17 di kerahkan untuk memadamkan karhutla di wilayah Riau, 11 di wilayah Sumatera Selatan, dan masing-masing 7 unit untuk di Kalimantan Tengah dan Kali man tan Barat. “Sebetulnya lang kah dilakukan terus. Memang fluktuatif.

Tidak mudah, mudahmudahan makin baik,” ujar Siti. Kemarin Kepala BNPB Doni Monardo juga secara langsung memantau proses pemadaman. Dengan didampingi Kalaksa BPBD Riau Edward, Danrem Pekanbaru Brigjen Fadjar, Doni menyaksikan langsung dua helikopter water bombing yang melakukan penyiraman pada sejumlah titik api dengan asap tebal.

Asap Tidak Melintasi Malaysia

Kepala BMKG Prof Dwi korita Karnawati menegaskan asap di Sumatera, terutama dari Riau, tidak terdeteksi melintasi Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan do minan di Selat Malaka yang bergerak dari arah tenggara ke barat laut.

Pernyataan ini merespons tudingan Malaysia bahwa kabut asap yang mendera negara tersebut berasal dari Indonesia. Bahkan berdasar pengamatan citra satelit Himawari-8 dan Geo hotspot BMKG, asap yang terdeteksi di Semenanjung Malaysia tanggal 5-7 Sep tem ber 2019 berasal dari titik api lokal.

“Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel yang didukung dengan satelit Himawari-8, aku mulasi CO (gas karbon monoksida) perairan Laut Cina Selatan diperkirakan berasal dari titik api di Serawak, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan Barat,” kata Dwikorita dalam keterangan pers di Kantor Kementerian LHK kemarin.

Dwikorita memaparkan, ber dasarkan pengamatan citra satelit Himawari, teridentifikasi adanya peningkatan jumlah titik-titik panas secara mencolok di beberapa wilayah ASEAN, terutama di wilayah Semenanjung Malaysia dan sebagian Vietnam dari tanggal 4 ke tanggal 5 September 2019.

Kendati demikian terlihat terjadi penurunan jumlah titiktitik panas pada tanggal tersebut di wilayah Riau (dekat perbatasan Malaysia) dikarenakan terjadi hujan di Riau dengan curah hujan sebesar 23 mm. Arah angin pada saat itu diwilayah perbatasan Riau dan Semenanjung Malaysia berasal dari tenggara ke barat laut berkecepatan 5 hingga 10 knots.

Berdasarkan pengamatan BMKG, terjadi lonjakan jumlah titik panas pada tanggal 6 Sep - tember 2019 di wilayah Riau, Semenanjung Malaysia, dan Vietnam. Lonjakan jumlah titik api semakin terlihat hampir merata di wilayah Semenanjung Malaysia pada 7 September 2019, meningkat secara signifikan dari 1.038 titik api pada tanggal 6 menjadi 1.423 titik api pada tanggal 7 September 2019.

Sementara itu di wilayah Riau dan perbatasan Sumatera Timur dengan Malaysia terjadi penurunan jumlah titik api secara signifikan, dari 860 titik pada 6 September menjadi 544 titik pada tanggal 7 September 2019.

Sebelumnya Siti Nurbaya meminta pihak Malaysia lebih objektif melihat soal kabut asap, tidak asal protes dan menutupi informasi. Karena itu dirinya akan mengirimkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia dan ke Kedubes Malaysia di Jakarta mengenai kabut asap yang terjadi di Serawak, Malaysia, akibat dari kebakaran di Kalimantan.

Padahal tidak semua kabut asap berasal dari wilayah Indonesia. “Saya akan menulis surat kepada Dubes Malaysia di Jakarta untuk diteruskan kepada menterinya. Jadi, saya kira supaya yang betul datanya. Kare na apa? Karena Pemerintah Indonesia betul-betul secara sistematis mencoba menyelesaikan ini dengan sebaik-baik nya,” kata Siti, Selasa (10/9).

Dia pun meminta Peme rintah Malaysia membuka in for masi yang sebenar-benarnya menge - nai kabut asap ini. “Ada informasi yang dia tidak buka. Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke Kuala Lumpur, itu dari Serawak, ke mudian dari Se - menanjung Ma laya dan mungkin sebagian dari Kalbar.

Oleh karena itu seha rus nya objektif menjelaskannya,” ujar dia. Siti juga menyayangkan sikap Singapura yang menganggap ada asap dari Riau menuju Singapura. Padahal, titik api di Riau sudah turun.

abdul rochim/ dita angga/muh shamil