Edisi 12-09-2019
Pembuka Keran Demokrasi Indonesia


PROF Dr Ing H Bacharuddin Jusuf Habibie adalah anugerah bagi bangsa-negara Indonesia.

Sosok paripurna yang mencintai dan mendekap Ibu Pertiwi sepenuhnya. Dari pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini, kita menemukan teladan seorang negarawan, ilmuwan, pemikir, pekerja keras, dan cinta kepada agama. Sejak kecil, presiden ke-3 RI ini mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya, Alwi Abdul Jalil Habibie (ayah) dan RA Tuti Marini Puspowardojo (ibu) tentang kecintaan terhadap Indonesia, agama, dan ilmu pengetahuan.

Nama dan sosoknya dikagumi tak sekadar di Indonesia, tapi juga dunia inter nasional. Dalam satu penelitian ilmu disebutkan ada lima orang tecerdas di dunia, satu di antaranya Habibie. Intelligence quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual Habibie mencapai angka 200, urutan kelima. Urutan pertama ditempati ilmuwan asal Jerman, Albert Einstein (160).

Dalam dunia penerbangan, Habibie memegang banyak hak paten atas temuan dalam bidang konstruksi pesawat terbang. Dia adalah penemu rumus meng - hitung keretakan hingga skala atom pe - sawat terbang. Rumus ini kemudian dikenal de ngan nama ‘Faktor Habibie’. Dengan te - mu an ini, Habibie mendapatkan julukan ‘Mr. Crack’.

Habibie adalah doktor lulusan Jerman dan pernah bertugas dalam berbagai jabat - an di sejumlah perusahaan pesawat terbang di Jerman. Dengan berbagai prestasi dan temuannya di dunia penerbangan, Habibie berkali-kali “digoda” dengan tawaran agar dia menjadi warga kehormatan Jerman.

Peraih bintang penghargaan Das Grosse Verden stkreuz Mit Stern und Schulterband dan Das Grosse Verdienstkreuz dari pemerintah Republik Federal Jerman ini tetap menolak dengan tegas sembari menautkan hatinya pada Indonesia, untuk Bumi Pertiwi. Padahal, dua bintang penghargaan tersebut merupakan penghargaan tertinggi untuk orang yang berjasa pada kemajuan Jerman.

“Sekalipun menjadi warga negara Jerman, ka lau suatu saat Tanah Airku memanggil, maka paspor Jerman akan saya robek dan akan pulang ke Indonesia. Saya selalu me - ngatakan tidak. Saya pernah menolak ka re - na nilai moral dan etik tidak dapat mene ri - ma tawaran tersebut,” ujar Habibie dalam ber bagai kesempatan sebagaimana disari - kan KORAN SINDO.

Jalan tengah atas penolakan Habibie tersebut, pemerintah Republik Federal Jerman memberikan izin tinggal kepada Habibie dan istri, Hasri Ainun Besari, seumur hi dup di Jerman serta Habibie bekerja seumur hidup di Departemen Pertahanan Jerman. Habibie punya alasan kuat menolak status warga kehormatan Jerman.

Baginya, keberadaan di tanah rantau adalah sebagai masa transisi untuk mencari pengalaman. “Pengalaman ini saya perlukan untuk kelak da pat membantu bangsa saya dalam perjuangan yang sedang mereka laksanakan,” tegasnya. Ham dan Zoelva (ketua Mahkamah Kons ti tusi periode 2013-2015) dan Laode Mu hamad Syarif (wakil ketua KPK periode 2015-2019) punya cerita selama ber in teraksi dengan Habibie.

Hamdan Zoelva menuturkan, ketika awal masa Reformasi dan Ham dan menjadi anggota DPR/MPR RI, Habibie adalah presiden RI yang ditolak pertanggungjawabannya sebagai presiden dalam sidang MPR. Hamdan sebagai seorang ang gota Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) saat itu yang mendukung Habibie untuk melanjutkan jabatan sebagai presiden.

Karena itu, Hamdan sangat kecewa atas penolakan pertanggungjawaban tersebut. Frak si PBB tetap meminta Habibie untuk tetap maju sebagai presiden dan PBB siap men du kung. “Tetapi beliau bersikukuh tetap meno lak untuk dicalonkan kembali sebagai pre siden, dan dengan jiwa besar dan ne gara wan sejati, beliau menyatakan bahwa kare na ditolak pertanggungjawabannya oleh MPR, beliau merasa tidak memiliki du kung an moral dari rakyat untuk menjadi presi den,” ujar Hamdan kepada KORAN SINDO, Kamis (11/9/2019) malam.

Dia menegaskan, Habibie sangat layak menjadi role model, panutan, dan teladan bagi anak bangsa termasuk dan terkhusus para putra daerah yakni Sulawesi Selatan. “Beliau patut menjadi contoh bagi generasi muda baik karena ilmunya, etos kerjanya, ser ta pengabdiannya kepada agama bangsa dan negaranya.

Beliau sampai akhir hayatnya terus berpikir dan berbuat untuk bangsa dan negaranya,” ungkapnya. Hamdan mengungkapkan sering bertemu dengan Habibie. Setahun terakhir, paling tidak dua kali Hamdan bertemu Habibie. Terakhir dalam halalbihalal Lebaran lalu.

Dalam setiap kesempatan, Habibie sangat semangat ketika berbicara tentang memajukan Indonesia melalui kehebatan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Bah kan, sering kali Habibie lupa berhenti ka rena sangat bersemangat ketika berbicara mengenai kemajuan Indonesia.

“Terakhir kemarin (Rabu, 10/9), saya menjenguk beli au di RSPAD Gatot Soebroto melihat beliau sudah sangat lemah ber - baring dengan alat ke sehatan di badannya, dan hari ini men dapat kabar beliau wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita kehi - langan seorang presi den, negarawan sejati,” imbuhnya.

Sekali lagi, bagi Hamdan, kita semua rakyat Indonesia sangat berduka kehilangan tokoh negarawan sejati yang patut dicontoh oleh generasi Indonesia kini dan mendatang. Karena sebahagian besar hidup Habibie dihabiskan berbuat untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia, terutama meningkatkan SDM dan daya saing bangsa Indo nesia menjadi bangsa yang unggul.

“Harus lahir generasi Indonesia yang terus melanjutkan cita-cita beliau bagi keunggulan Indonesia dalam bidang teknologi tinggi, untuk kemajuan Indonesia. Kita semua berdoa semoga almarhum mendapat limpahan magfirah dan rahmat Allah subhana wata’ala,” ucapnya.

Laode Muhamad Syarif mengungkapkan, wafatnya BJ Habibie berarti Indonesia kehilangan ilmuwan, pemimpin, teknokrat sekaligus teladan bangsa. Syarif menilai Habibie adalah sosok negarawan yang berilmu, beriman, dan beramal hanya untuk Bumi Pertiwi.

Habibie sangat layak menjadi role model bagi para generasi bangsa termasuk putra-putri Sulawesi Selatan. “Pak Habibie adalah teladan negeri, contoh dan role model paripurna, pintar, pekerja keras, pemikir. Intinya, ilmu-amalnya lengkap,” ujar Syarif kepada KORAN SINDO, Kamis (11/9/2019) malam.

Syarif mengingat kembali semasa dirinya menjadi dosen di Unhas Makassar, para dosen selalu mendengarkan ceramah Habibie saat Habibie berkunjung di Unhas. Musababnya, Rektor Unhas saat itu Prof Ahmad Amiruddin adalah sahabat Habibie.

Di depan Kampus Unhas ada danau. Danau itu ada karena cita-cita Habibie dan Amiruddin ingin membangun kampus yang ada danaunya seperti di Eropa. “Mereka bahkan bernazar, mandi di danau kampus jika kampus dan danaunya telah jadi.

Oleh karena itu, saat danau itu jadi, mereka pernah mandi di danau Unhas untuk membayar nazar ter sebut,” bebernya. Prof Dr Azyumardi Azra MA CBE, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, menilai kepergian Habibie merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.

Dalam pandangannya, Habibie merupakan salah satu peletak da sar kehidupan demokrasi Indonesia. Saat menjabat sebagai presiden ke-3 RI, banyak kebijakannya yang mendorong kehidupan po - litik yang lebih terbuka di masa sebelum nya.

Lahirnya UU Nomor 40 tentang Pers yang menjamin kebebasan kehidupan pers di Indonesia menjadi salah satu contohnya. Selain itu, di masa Habibie menjadi presi den, berhasil dilaksanakan pemilu paling demo - kratis. Bahkan atas jasanya ini, KPU sempat memberikan penghargaan khusus kepada Habibie.

“Wafatnya Pak Habibie ada lah kehilangan besar bagi negara-bang sa Indonesia. Almarhum adalah Bapak De mokrasi yang mengantarkan Indonesia ke dalam transisi demokrasi secara damai dan lancar.” Selamat jalan Bapak Teknologi Indonesia dan Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia. Terima kasih telah mendekap Ibu Pertiwi sepenuhnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala mempertemukan dengan Ibu Ainun di surga-Nya.

sabir laluhu