Edisi 12-09-2019
Pesawat Rusia MC-21 Siap Bersaing


MOSKOW –Penantian panjang itu sudah berakhir. Pesawat berbadan medium MC-21 telah diperkenalkan kepada publik pada pameran pesawat MAKS 2019.

Pesawat penumpang andalan Rusia itu diyakini mampu bersaing dengan pesawat tipe sejenis yang diproduksi Boeing dan Airbus. Pesawat yang diproduksi oleh Irkut Corporation, anak perusahaan United Aircraft Corporation (UAC) Rusia, telah memamerkan kepada publik tipe MC-21-300.

Itu juga telah melaksanakan uji terbang pada 28 Mei 2017 lalu. Namun, pesawat tersebut belum lolos uji pabrik. Hanya, MC-21 memiliki banyak kelebihan dibandingk an BoeingdanAirbus. PesawatMC- 21 lebih efisien sekitar 20-25% di bandingkan Airbus A320. MC-21 lebih irit bahan ba kar sekitar 15%.

Itu juga lebih murah USD20 juta dibandingkan pe - sawat sejenis Boeing 737-700. Hebatnya, harga pesawat lebih murah menjadikan banyak maskapai tertarik. Adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang mendapat kehormatan untuk melihat langsung pesawat MC-21 saat pameran pesawat MAKS di Moskow, akhir Agustus lalu.

Dia ditemani Presiden Rusia Vladimir Putin. Itu menjadi kesempatan bagi Rusia untuk memamerkan industri pesawatnya kepada dunia. Presiden Putin juga memuji pesawat tersebut. Dia mengungkapkan MC-21 sebagai “proyek terobosan”.

“Itu akan memperkuat bendera industri penerbangan Rusia di ranah global,” kata Putin. UAC, konglomerasi produsen pesawat militer dan sipil Rusia ter ma suk Irkut, telah dikuasai oleh Rostec, badan usaha miliki negara, sejak tahun lalu.

Pesawat yang mampu menampung 211 penumpang dengan daya jelajah 6.000 km bisa terbang dari Moskow ke destinasi Eropa lainnya. Itu menjadi pesawat yang menjadi harapan besar bagi industri penerbangan Rusia setelah kemunduran Sukhoi Superjet 1000 yang diluncurkan pada 2011 lalu.

“Kita telah mencapai beberapa kesepakatan tentang MC-21,“ kataKepalaIrkut, Ravil Khakimov, dilansir Gulf News. Harga pesawat tersebut di katalog lebih murah dibandingkan para kompetitor untuk pesawat kategori medium.

“MC-21 akan berkompetisi dengan pasar bersama Airbus A320 dan Boeing 737,” kata analis penerbangan yang me - mimpin Aviaport.ru, Oleg Panteleyev. Melansir Russian Aviation Insider, Irkut Corporation belum menjelaskan pemberian kompensasi dengan penun daan pengiriman pesawat yang telah dipesan sebanyak 175 buah.

Itu karena Rusia mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat (AS) yang berdampak terhadap proses produksi pesawat MC-21. Itu meng akibatkan mesin pesawat Pratt & Whitney buatan AS tidak bisa dikirim karena sanksi tersebut. CEORostecSergeiChemezoc mengungkapkan, MC-21 akan dikirimkan ke maskapai miliki Rusia Aeroflot pada 2021.

“Semuapengirimanakandimulai pada semester kedua pada2021,” katan Kepala Irkut, Khakimov. Sedangkan kepala desainer MC-21, Konstantin Popovich, mengungkapkan bahwa 72 pesawat akan diproduksi se tiap tahunnya. Sebagai solusi menghadapi krisis, produksi pesawat MC- 21 akan menggunakan mesin buatan Rusia yakni PD-14.

Sanksi terhadap Moskow telah diberlakukan sejak 2014, ketika Rusia menganeksasi Crimea dari Ukraina. Sanksi itu diberlakukan terhadap industri Rusia seperti Rostec dan Chemezov. Menurut Panteleyev, produsen pesawat itu juga mendapatkan dukungan finansial dari militer Rusia yang selalu memesan pesawat baru dalam beberapa tahun terakhir.

“Tantangan terberat pesawat sipil Rusia adalah mencari klien maskapai asing,” katanya. Untuk itu, dia mengatakan MC- 21 harus mendapatkan promosi dalam skala besar. Siapa yang menjadi target pasar MC-21? “Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia tenggara menjadi target pasar utama MC-21,” papar deputi pertama dan kepala desainer Irkut, Oleg Demchenko.

Belajar dari pengalaman pesawat penumpang Sukhoi Superjet-100 yang men dapatkan respons positif dari pasar, banyak klien membatalkan pembelian karena kesulitan dalam proses pemeliharaan dan mendapatkan suku cadang.

Apa lagi, citra jelek pesawat tersebut ketika Mei lalu mengalami kecelakaan di Moskow yang menyebabkan 41 orang meninggal dunia. Sukhoi Superjet memiliki permasalahan kecil yang sebenarnya bisa diperbaiki de - ngan investasi berkelanjutan. Namun, hal itu mengalami ba - nyak kendala.

“Sukhoi Superjet yang terjual hanya sedikit, perusahaan tidak mendapatkan cukup uang kembali berinvestasi sehingga proses produksi ke depannya terus berlanjut,” kata Panteleyev. Pada Sukhoi Superjet, awal - nya memiliki target untuk menguasai 20% pasar regional, tapi kini hanya digunakan Aeroflot. “Semua orang menyadari adanya risiko,” kata Panteleyev. Hal itu, kata dia, juga membayangi MC-21.

“Mereka akan melaku - kan segala upaya untuk me - ngu rangi ketakutan pembeli potensial,” paparnya. Optimistis diungkapkan Presiden UAC Yury Slyusar. Dia memperkirakan pasar global model MC-21 mencapai 15.000 dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

“Saya yakin maskapai akan mengapresiasi pesawat baru kita,” paparnya. Namun demikian, saingan utama MC-21 bukan hanya Boeing dan Airbus, melainkan juga pesawat produksi China. Pasalnya, Beijing juga memiliki produk pesawat sendiri dan sudah dipamerkan ke publik.

Sumber penerbangan Barat mengungkapkan keterkejutannya dengan singkatnya wak tu uji terbang dan rendahnya ketinggian pesawat. Pasalnya, kalau pesawat produksi Ame rika Utara dan Eropa biasanya menjalani uji terbang sekitar 3-4 jam.

“Sepertinya ada faktor keter batasan atau mungkin sesuatu yang terjadi dan me mutuskan untuk kembali,” ujar teknisi uji penerbangan asal Barat, yang enggan dise butkan nama.

Memang saat uji coba pada Mei 2017 silam, pesawat hanya menyelesaikan uji terbang selama 30 menit dengan ketinggian 1.000 meter dengan kecepatan 300 km per jam. UAC mengklaim uji terbang tersebut sudah cukup untuk pengecekan di udara.

andika h mustaqim