Edisi 12-09-2019
Trump Pecat Penasihat Keamanan Nasional John Bolton


WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba memecat penasihat keamanan nasional John Bolton kemarin.

Pemecatan itu terjadi karena perselisihan terkait cara menghadapi berbagai tantangan kebijakan luar negeri seperti Korea Utara (Korut), Iran, Afghanistan, dan Rusia. “Saya menginformasikan John Bolton tadi ma lam bahwa pelayanannya ti dak lagi diperlukan di Gedung Putih.

Saya sangat berbeda pen dapat de ngan banyak sarannya, se per ti juga lainnya dalam pe me rin tah an,” tweet Trump pada Selasa (10/9) waktu lokal, di lans ir Reuters. Trump menambahkan, dia akan menunjuk pengganti Bolton pekan depan. Bolton me rupakan tokoh kebijakan luar negeri garis keras dan menjadi penasihat keamanan nasional ke - tiga Trump.

Bolton me nya ran - kan kepada Trump agar dia ti - dak melonggarkan tekanan pada Korut, meski ada berbagai upaya diplomatik. Bolton merupakan kepala arsitek kebijakan Trump yang bersikap keras pada Iran.

Dia juga me nolak pendapat Trump ten - tang kemungkinan per te muan dengan pemimpin Iran dan men - dorong sikap lebih ke ras ter hadap Rusia dan Af gha nistan. Sejumlah sum ber menjelaskan, pengumuman pemecatan Bol ton itu setelah se jumlah percakapan sengit tentang perbe daan pen da pat kedua - nya dalam isu Af - gha nistan.

Bolton, 70, yang memegang po sisi itu pada April 2018, menggantikan HR McMaster yang sering berselisih dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo yang meru pa kan loyalis Trump. Pompeo mengakui, dirinya dan Bolton sering memiliki perbedaan, tapi dia menyatakan, “Saya tidak berpikir ada pemimpin lain di dunia yang harus membuat asumsi apa pun karena salah satu dari kami pergi, bahwa kebijakan luar negeri Presiden Trump akan berubah dalam cara tertentu.”

Adapun Bolton menulis tweet yang berbeda dengan Trump, “Saya menawarkan untuk mun - dur tadi malam dan Presiden Trump mengatakan, ‘Mari bi - cara tentang itu besok’.” Trump kadang kala mem - buat lelucon tentang citra Bol - ton sebagai sosok penghasut perang. “John tidak pernah me - lihat perang yang dia tidak menyukainya,” kata Trump.

Sumber yang memahami pendapat Trump menjelaskan, “Dia (Bolton) tidak bermain dengan aturan. Dia semacam operator lapangan.” Selama jabatannya di Departemen Luar Negeri pada era pemerintahan mantan Presiden George W bush, Bolton me nyimpan satu granat di meja nya.

Buku memoarnya pada 2007 berjudul Surrender Is Not An Option. Stephen Biegun yang merupakan utusan khusus AS untuk Korut menjadi salah satu nama yang muncul sebagai kemungkinan pengganti Bolton. “Bie gun lebih seperti Pompeo memahami bahwa presiden adalah presiden, bahwa dia membuat berbagai keputusan,” ujar sum ber yang dekat dengan Gedung Putih.

Calon pengganti lainnya ada - lah Deputi Menteri Luar Negeri AS John Sullivan yang di per ki ra - kan menjadi Duta Besar AS untuk Rusia dan Duta Besar AS untuk Jerman Richard Grenell. Juru bicara Gedung Putih Ste phanie Grisham menga ta kan, “Banyak, banyak isu yang membawa pada keputusan Trump untuk me min - ta Bolton mundur.”

Grisham tidak menjelaskan lebih lanjut tentang lang kah Trump tersebut. Trump kadang mengenalkan Bolton kepada para pemimpin asing dengan mengatakan, “Anda semua tahu kehebatan John Bolton. Dia akan mengebom kalian. Dia akan me ng am bil se lu ruh negaramu.”

syarifudin