Edisi 12-09-2019
Asuransi Jiwa Catat Pendapatan Rp118 T


JAKARTA–Industri asuransi jiwa pada kuartal II/2019 telah mencatatkan total pendapatan sebesar Rp118,32 triliun atau naik 31,9% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya Rp89,73 triliun.

Sementara total pendapatan premi tercatat mengalami perlambatan 3,6% sebesar Rp90,25 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp93,58 triliun. Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon mengatakan, penurunan pendapatan premi tersebut disebabkan oleh penurunan total premi bisnis baru sebesar 8,8% dari Rp59,85 triliun menjadi Rp54,57 triliun.

“Meski pendapatan premi bisnis baru menurun, tapi pendapatan premi lanjutan naik 5,8% menjadi Rp35,68 triliun,” kata Budi saat konferensi pers di Jakarta kemarin. Dia melanjutkan, perlambatan premi bisnis baru dipengaruhi oleh melambatnya kinerja saluran distribusi bancassurance sebesar 16,8% dan saluran keagenan sebesar 8,6% dan masing-masing berkontribusi sebesar 50,8% dan 27,5%.

Pendapatan premi bisnis baru yang berasal dari produk asuransi kesehatan memiliki kontribusi sebesar 5,9% dari keseluruhan total pendapatan premi bisnis baru. “Hal ini menunjukkan bahwa produk asuransi kesehatan tetap menjadi produk yang diminati oleh masyarakat Indonesia,” ungkap dia.

Adapun total aset kuartal II/2019 meningkat 10,1% senilai Rp550,38 triliun, dibanding pencapaian periode yang sama 2018 sebesar Rp499,96 triliun. Sementara itu, total klaim dan manfaat yang dibayarkan oleh industri asuransi jiwa, pada kuartal II/2019 meningkat 8,21% atau sebesar Rp65,77 triliun, sedangkan pada periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp60,78 triliun.

Ketua Bidang Marketing & Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono menuturkan, klaim nilai tebus (surrender), bertumbuh 3,7% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp36,07 triliun. Klaim ini memiliki proporsi terbesar di dalam pembayaran klaim dan manfaat, yakni sebesar 54,8%.

Adapun klaim penarikan sebagian (partial withdrawal), meningkat sebesar 1,6% dibandingkan periode yang sama pada 2018, menjadi Rp4,58 triliun dan berkontribusi sebesar 13,3%. “Untuk klaim akhir kontrak memiliki kontribusi sebesar 12,4% dan mengalami peningkatan sebesar 1,0% dibandingkan dengan kuartal II/2018,” katanya.

Wiroyo menuturkan, tingginya kenaikan pada klaim akhir kontrak menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berasuransi dan berinvestasi dalam jangka panjang. Selanjutnya, klaim kesehatan (medical), mengalami peningkatan 10,7% menjadi Rp5,22 triliun.

“Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya klaim kesehatan perorangan sebesar 5,0% dan klaim kesehatan kumpulan sebesar 15,5%,” ujar dia. Proporsi dari klaim medical adalah 56,4% dari produk asuransi kesehatan kumpulan dan 43,6% berasal dari produk asuransi kesehatan individu.

Dia melanjutkan, total tertanggung industri asuransi jiwa juga mencatat peningkatan 11,9% menjadi 59.589.285 orang dibandingkan periode yang sama 2018 sebanyak 53.271.946 orang. Meningkatnya jumlah tertanggung diakibatkan adanya peningkatan dari jumlah tertanggung kumpulan sebesar 16,1% dan jumlah tertanggung perorangan sebesar 3,2% pada kuartal II/2019.

Kenaikan jumlah tertanggung, khususnya jumlah tertanggung perorangan pada kuartal II/2019 menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat atas pentingnya asuransi jiwa semakin meningkat.

Adapun penetrasi asuransi jiwa yang dilihat dari besarnya jumlah tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk menunjukkan nilai di angka 6,7% dan selama kuartal II/2017 sampai dengan kuartal II/2019, jumlah tertanggung mengalami kenaikan rata-rata sebesar 0,9%. Ke depan, AAJI terus berusaha untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat dengan merekrut tenaga pemasaran yang handal dan berkualitas.

kunthi fahmar sandy

Berita Lainnya...