Edisi 12-09-2019
Sindiran dari Timnas U-19


YOGYAKARTA – Pelatih Timnas U-19 Fakhri Husaini menyebut kemenangan timnya atas Iran di laga uji coba diharapkan bisa jadi obat kekecewaan suporter Indonesia.

Meski tidak jelas menyebutkan, pernyataan Fakhri diarahkan pada kegagalan timnas senior. Kekalahan Indonesia dari Malaysia dan Thailand memang memantik reaksi negatif dari suporter. Berbagai tagar bernada kritik disampaikan di media sosial.

Apalagi dua kekalahan di Kualifikasi Piala Dunia 2020 Zona Asia itu membuat peluang Indonesia menipis. Sedangkan timnas U-19 tampil baik pada laga uji coba kedua melawan Iran di Stadion Mandala Krida. Gol tunggal Sutan Diego Armandoondriano menjadi penentu kemenangan skuad Garuda Nusantarasekaligus menebus kekalahan 2-4 pada pertemuan pertama.

“Semoga ini menjadi obat dari kekecewaan beberapa hari terakhir,” kata Fakhri disambut tawa jurnalis yang hadir di sesi jumpa pers, kemarin. Uji coba melawan Iran menjadi rangkaian persiapan Indonesia menghadapi Kualifikasi Piala Asia 2020 pada November nanti.

Indonesia bertindak sebagai tuan rumah Grup K bersama Timor Leste, Hong Kong, dan Korea Utara. “Setelah ini kami akan mengembalikan pemain ke klub bermain di proelite academy, saya kembali jadi karyawan,” kata Fakhri. Menghadapi Iran pada pertemuan kedua, Fakhri mengembalikan komposisinya ke formasi terbaik.

Komposisi juga memiliki persamaan 50% saat mengalahkan Iran dua gol tanpa balas di penyisihan grup Piala AFC U-16. Sedangkan Iran memilih menggunakan komposisi yang sama persis dengan pertemuan pertama. Hasilnya, permainan Indonesia lebih baik.

Kepercayaan diri juga terlihat lebih meningkat dan mampu mengimbangi permainan Iran. Masalahnya, belum ada gol tercipta hingga babak pertama selesai. Imbasnya, Fakhri melakukan pergantian tiga pemain di babak kedua.

Beckham Putra Nugraha, Muhammad Supriyadi, dan penjaga gawang Ernando Ari Sutaryadi. Perubahan yang menjanjikan karena langsung mengubah permainan. Beckham dan Supriyadi berkontribusi pada gol yang diciptakan Zico.

Sedangkan Ernando menjadi pahlawan dengan mematahkan tiga peluang emas pasukan Seyed Akbar Pour Mousavi di kotak penalti. “Permainan kami lebih baik dibandingkan pertandingan pertama.

Kami juga bisa membuat mereka tidak bisa masuk di area pertahanan dengan kombinasi permainan, tapi lebih menggunakan bolabola daerah dan bola mati,” tutur Fakhri. Pernyataan pelatih berusia 54 tahun ini juga menjawab salah satu kritik yang disampaikan Seyed Akbar terkait penampilan timnas.

Menurut Seyed, permainan Indonesia bagus dari sisi penyerang, tapi butuh perbaikan di koordinasi pertahanan. Jika kelemahan itu bisa diperbaiki, dia melihat David Maulana dkk memiliki kesempatan bersaing di Piala Asia. “Lini serang mereka bagus.

Mereka bisa memiliki beberapa peluang. Tapi, organisasi pertahanan menjadi persoalan,” tutur Seyed. Penilaian itu didasarkan pada lima kesempatan yang dimiliki Iran di daerah penalti Indonesia.

Menurut dia, jika Indonesia bisa memanfaatkan satu peluang dari kesalahan pemainnya, Iran gagal memanfaatkan beberapa kesempatan di kotak penalti. Meski dia tak menampik ada persoalan kebugaran dari pemainnya sehingga terlihat menurun di babak kedua.

“Kalau dari penampilan, kami lebih baik dibandingkan pertandingan pertama. Tapi, karena kelelahan sehingga berdampak pada kebugaran, membuat kami tidak maksimal. Tapi, selamat untuk Indonesia,” katanya.

ma’ruf