Edisi 16-09-2019
Indonesia Lahir dari Kaum Profesional


MAKASSAR –Para pendiri Republik Indonesia (RI) merupakan tokoh yang memiliki kemampuan intelektual yang ting gi dan pemikiran luas serta mencintai Indonesia.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyampai kan hal itu saat sosialisasi 4 Pilar MPR kepada ratusan ang - gota dan pengurus Genpro Sula - wesi Selatan di Kota Makassar kemarin. Dia memaparkan se - jarah bahwa anggota BPUPKI adalah orang-orang yang ahli seperti Mohammad Hatta yang ahli ekonomi lulusan Belanda, M Yamin dan Ahmad Subarja ahli hukum alumni Belanda, Soekarno insinyur lulusan Belanda, tokoh Muham m a di - yah, NU hingga H Agus Salim yang menguasai 7 bahasa. “Kalau bicara profesionalisme, Indonesia lahir dari mereka,” tandasnya. Indonesia tumbuh dari kalangan profesionalisme tak ha - nya pada masa lalu. “Profesor BJ Habibie juga seorang profe sio - nal dan mencintai Indonesia,” paparnya.

Untuk itu dia meng - ajak masyarakat meningkatkan profesionalisme guna menjaga bangsa ini. “Ke depan Indonesia juga bisa dijaga kaum profe sio - nal yang mencintai Indonesia,” ujarnya. Kegiatan ini, kata HNW, un - tuk melakukan sosialisasi Pan - casila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sosia lisa - si semacam ini telah dikerja sa - makan dengan berbagai ormas, organisasi pemuda, kampus, dan kelompok masyarakat lain - nya. “Dengan berbagai metode,” ungkapnya. Metode yang digunakan di antaraya trainning of trainners, lomba cerdas cermat, seni budaya, focus group discussion, legal drafting, bela negara, dan outbound. Sosialisasi yang dila - kukan MPR, menurut alumni Pondok Modern Gontor itu, sudah dilakukan sejak dirinya menjadi ketua MPR 2004- 2009.

“Waktu itu namanya sosialisasi Putusan MPR,” pa - parnya. Bagi HNW, sosialisasi nilainilai kebangsaan itu tak mung - kin bila hanya dilakukan MPR saja. Salah satu alasannya, MPR tidak memiliki perwakilan di dae rah. Karena itu dia meng - ajak eksekutif ikut melakukan hal yang sama seperti Orde Baru dengan membentuk BP7 dan melaksanakan penataran P4. “Meski demikian metode sosia lisasi yang dilakukan MPR bu kan dengan cara indok tri - nasi, tapi secara demokrasi,” tandas nya. Sosialisasi yang sekarang dilakukan berlandaskan pada UU No 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. De - ngan undang-undang itu, selu - ruh anggota MPR diberi amanat untuk melakukan sosialisasi. Apa yang disosialisasikan ini adalah bagian dari tuntutan gerakan Reformasi 1998, yakni dilakukannya amendemen UUD 1945.

“Amendemen boleh dilakukan, yang tak boleh adalah mengubah Pembukaan UUD,” ujarnya. Penanaman pemahaman nilai-nilai kebangsaan dite gas - kan oleh HNW sangat penting. Gerakan itu untuk mem ba - ngunkan kesadaran akan nilainilai kebangsaan. “Juga untuk mengantisipasi tantangan global,” ucapnya. Ketua Genpro Sulawesi Se - latan Rusdi Hidayat menga - takan, bangsa ini sebenarnya memiliki sumber daya alam yang besar. Namun sayang hal demikian belum dikelola secara maksimal oleh bangsa Indo ne - sia sendiri.

“Salah satu kele mah - an kita adalah ketidak mampu - an dalam mengelola resources. Karena itu kita harus bisa me - ngenali, mengembangkan, dan mengeksploitasinya,” katanya. Kegiatan ini untuk me nge - tahui dari MPR tentang bagai - mana mengetahui dan meman - faatkannya secara baik. “Untuk itu perlu kita meningkatkan sum - ber daya manusia,” pa par nya.

Sunu hastoro