Edisi 18-09-2019
Memulihkan Kondisi dan Fungsi Keluarga


Studi tentang keluarga sampai saat ini masih didominasi pandangan bahwa keluarga merupakan suatu unit terkecil dalam masyarakat.

Hal tersebut tidak lepas dari sifat dan pen dekatan struktural yang di gunakan untuk memahami relasi antara keluarga dan mas ya rakat itu sendiri. Pada giliran nya pendekat an ini memunculkan suatu na rasi tentang atribut pembakuan peran pemimpin keluarga (fa mily lea der) lengkap dengan hak dan kewe nangan dan siapa ang g ota keluarga yang harus di pimpin.

Muncul dan eksis nya pemimpin keluarga (family lea - der ) tidak lepas dari sebe rapa besar dominasi peran-peran so sial yang dimiliki oleh lakilaki dan perempuan. Jika de - mikian halnya, maka sudah bisa di tebak dalam struktur mas ya rakat patriarki maka laki-laki lah yang dipastikan akan me nem pati posisi ter - sebut.

Selain itu, pendekatan struk tural pada keluarga juga memiliki konsekuensi logis terbentuknya relasi vertikal yang rentan terhadap domi - nasi dan kuasa yang timpang. Pola dan proses relasi vertikal ke luar ga akan memunculkan nor ma terkait pembedaan pe - ran secara signifikan di antara individu-individu dalam ke - luar ga didasarkan pada jenis kelamin (peran gender ).

Ada laki-laki sebagai subjek diri yang bertindak (subject of acting self ) yang memiliki lebih banyak keistimewaan dan ada pe rem puan sebagai objek diri (object self) yang lebih banyak pem batasan.

Struktur Diskriminatif

Dalam struktur keluarga yang vertikal di mana lakilaki memiliki peran dominan, ma ka peran sosial dan prod uktif lebih ba nyak di jalankan oleh lakilaki, sedang akn pe rempuan hanya menempati peran domestik dan repro - duktif. Re lasi yang tim pan g pada pendekatan struktural ke luarga akhir nya memuncul kan ketidakadil an juga ren tan terhadap peiralku kekerasan, di mana perempuan dan anak pe rem puan akan lebih be risiko men jadi kor - ban.

Dalam kondisi keluarga se perti itu, maka akan sulit meng hadirkan pem berdayaan ter ha dap perempuan dan per lin dungan anak. Konsep tentang ketahanan mau pun ke se jah teraan ke - luarga yang di gagas peme- rintah juga tidak akan ber - peran optimal jika masih mengondisikan keluarga se - bagai suatu unit dengan peran dan relasi yang tim - pang.

Setiap individu pada keluarga jenis ini ber potensi tidak akan me miliki akses, kesempatan, dan pe ngakuan yang setara. Keputusan penting dalam keluarga dan ke mana arah keluarga itu akan dibangun ditentukan oleh laki-laki sebagai pemim pin keluarga (family leader ).

Tanpa ada ruang kompromi dan negosiasi, ko mu nikasi yang terjadi akan le bih ber sifat instruktif satu arah, tanpa ada ruang verifikasi mau pun ke beranian untuk kla ri fi - kasi. Singkat kata, da lam wa - dah ke luarga yang di kon - disikan se ba gai unit, maka keluarga hanya akan di - fungsikan secara mekanis dan statis, yang ber i siko menghilangkan potensi ala - miah dari setiap individuindividu dalam keluarga itu.

Belum lagi jika kita men - cer mati perkembangan akhirakhir ini yang menunjukkan me nguatnya konser vatisme dalam keluarga. Sud ah banyak pemberi taan baik di media ce tak, elektronik, maupun da ring yang begitu lugas mengamgbarkan geliat penguatan konservatis medalam keluarga yang berdam pak pa da perilaku into leran dan rentan ter hadap perilaku kekerasan. Hal ini tentu me nambah kerisauan dan kegelisahan, di tengah upaya yang terus-menerus un tuk menghapus kan kekeras an, terutama terhadap perempuan dan anak di negeri ini.

Entitas Kolegial

Bagaimanapun keluarga merupakan suatu hal yang pen ting dan urgen serta berpengaruh signifikan dalam pro ses dan perubahan sosial. Sebagai sebuah wadah paling ala miah dari individu-in di - vidu, kondisi keluarga harus di pu lihkan dari narasi-narasi dis kri minatif gen der. Relasi ver tikal yang se lama ini di - bangun diubah men jadi relasi ho ri zontal yang bersifat kolegial.

Ruang-ruang kom promi dan negosiasi dalam keluarga ha rus ditumbuhkan melalui pro ses komunikasi yang asertif. Dalam kondisi seperti inilah, setiap individu akan memiliki tempat, pe nga kuan, akses, dan ke sem patan untuk tumbuh, ber kembang, dan berdaya. Ke luarga tidak lagi menjadi di kondisikan se - bagai suatu unit dengan fung - si me kanis dan statis, tetapi menjadi sebuah ”entitas ko - legial yang dinamis dan responsif”.

Terlepas dari perdebatan publik terkait pernyataan Menteri Pemberdayaan Perem puan dan Perlindungan Anak yang mewacanakan perubahan na ma kementeriannya menjadi Kementerian Ke tahanan Ke luarga, harus di lihat bahwa pan dangan tentang keluarga yang selama ini ada harus dipulihkan kembali pada hakikat yang sebenarnya.

Pernyataan me n teri tersebut memberikan gambaran bahwa narasi-narasi ke luarga selama ini tidak pada kondisi dan fungsi keluarga sebagaimana mestinya, dan justru kontra produktif dalam rangka menghapuskan keke ras an baik ter hadap perempuan maupun anak.

Memulihkan kondisi dan fungsi keluarga sebagai entitas kolegial yang dinamis dan re sponsif akan berkorelasi positif dalam pengembangan, pem ber dayaan, dan per lin dung an terhadap individu-indi vidu di dalamnya.

Hal ter sebut dapat menjadi alternatif dalam mempertemukan konsep soal perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan penghapusan ke kerasan. Dengan begitu, ma ka keluarga dapat menjadi basis dalam upa ya me wu jud kan trans formasi sosial yang adil gender dan nirkekerasan.

TRIANTONO

Pengajar pada Universitas Tidar Magelang, Peneliti pada Rifka Annisa WCC








Berita Lainnya...