Edisi 18-09-2019
Race Yes, Racism No


Sudah menjadi ketetapan hukum A llah (sunnatullah ) bahwa manusia di dunia ini diciptakan ber bangsa-bangsa dan bersuku-suku. Terdapat ke lompok manusia (suku) yang diidentifikasi berasal dari keturunan yang sama dan mempunyai ciri-ciri fisik yang sama pula.

Kelompok suku yang berasal dari ke tu runan sama dengan ciri-ciri fisik yang sama ini disebut ras. Jenis ras ini tidak sama de - ngan jenis ras lain yang mem - punyai ciri-ciri fisik yang berbeda. Mengutip Patrick Hans dalam Encyclopedic World Dictionary (terbitan Librairie du Liban, Beirut, 1974, hlm 1.289), ras (race ) adalah

(1) a group of per sons connected by common des cent, blood, and heredity ;

(2) a group of tribes or peoples forming an ethnic stock ;

(3) the disting uishing characterisstcs of special ethnic stock ;

(4) the state of belonging to certain ethnic stock .

Artinya: (1) sekelompok orang yang dihubungkan dengan kesamaan keturunan dan pertalian darah secara turun-te murun;

(2) sekelompok orang yang membentuk suatu keturunan etnik;

(3) ciri-ciri khas yang terdapat pada keturunan etnis yang bersifat khusus;

(4) suatu keadaan yang terdapat pada keturunan etnik tertentu.

Paling tidak, di dunia ini ter dapat tiga jenis ras, yaitu ras Mongolid dengan ciri berkulit kuning, ras Negroid dengan ciri berkulit hitam, dan ras Kau ka soid dengan ciri berkulit putih. Keragaman ras de - ngan ciri-ciri fisik yang berbeda-beda itu me rupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah agar manusia bisa saling mengenal satu sama lain.

Dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: ”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku agar kamu kenal mengenal.”

Jadi ke beragaman ras dan kebinekaan bangsa, etnis, dan suku yang di tandai dengan perbedaan war na kulit dan rambut merupakan tandatanda kebesaran dan ke kua - saan Allah dalam men cip ta - kan manusia. Pluralitas ras dan keber a - gam an bangsa, suku, dan etnis harus diterima sebagai rea li - tas sosial yang Allah mak sud - kan sebagai ciri-ciri fisik agar ma nusia saling mengenal satu sama lain.

Setelah saling kenal melalui keberagaman ciri-ciri fisiknya, manusia tentu menjalin kedekatan, persahabatan, perdamaian, kerja sama, toleransi, dan kerukunan. Keber adaan ras, bangsa, suku, dan etnis dengan perbedaan ciri-ciri fisik yang merupakan sun na tul lah ini harus diterima oleh umat manusia sebagai realitas kebe ragaman sosial dan realitas ke binekaan kultural. Ide per sa maan dan prinsip kesamaan derajat manusia sangat ditekankan dan diajarkan oleh Allah dalam Alquran.

Racism No

Race yes , tetapi racism no . Mengapa rasisme harus di cegah, ditolak, dan tidak dapat di benarkan untuk dilakukan? Karena rasisme/rasialisme sebagaimana didefinisikan oleh Patrick Hans dalam kamus di atas:

(1) the belief that human being races have distinctive characteristics which determine their cultures, usually involving the idea that oneís own race is superior and has the right to rule or dominate others ;

(2) offensive or aggressive behaviour to members of another race stem ming from such a belief ;

(3) a policy or system of go ver n ment and society based upon it.

Artinya: (1) kepercayaan bahwa sekelompok ras manusia mem punyai karak teristik khas yang menentukan ke bu dayaan mereka, biasanya me li batkan ide bahwa kebu da yaan mereka lebih super dan memiliki hak un tuk meme rintah atau mengua sai ke bu dayaan lain;

(2) perilaku ofen sif atau agresif terhadap kelompok ras lain yang di timbulkan oleh kepercayaan seperti itu;

(3) suatu kebijakan atau sistem pemerintahan dan mas yarakat yang di dasar kan pada kepercayaan seperti itu.

Dari definisi sebagaimana dikemukakan oleh Patrick Hans di atas, dapat disimpulkan bahwa rasisme/rasialisme adalah paham, cara berpikir, dan pan dangan dari seseorang/ se ke lompok orang (ras, etnis, atau suku) yang merasa dan meng klaim diri mereka lebih super, lebih bermartabat, lebih ter hor mat, lebih tinggi derajatnya, dan lebih mulia dari orang/ kelompok orang lain.

Orang/ kelompok orang yang ber pan dangan seperti ini bersifat som bong, congkak, dan arogan se raya men cibir, mengolok-olok, men cemooh, melecehkan, dan merendahkan orangorang dari suku, etnis, atau ras lain. Alquran empat belas se tengah abad silam sudah mencegah dan melarang ucapan, perilaku, dan perbuatan rasisrasialis ini.

Di hadapan Allah, derajat manusia adalah sama. Allah melarang keras manusia berbuat rasis dan berperilaku rasialis: ”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (kaum yang diperolok-olok itu) lebih baik dari mereka (yang mengolokolok) dan ja ngan pula perempuan-perem puan mengolok-olok perempu an lain (karena) boleh jadi perempuan yang diperolok-olok itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).

Jangan lah kamu saling mencela dan janganlah memanggil de - ngan gelar-gelar yang buruk. Se bu ruk-buruk panggilan ada lah (panggilan) yang bu - ruk (fasik) setelah beriman (QS Al-Hu jurat: 11). Rasisme pernah terjadi di masa Arab pra-Islam (jahi li - yah). Kabilah-kabilah Arab tertentu mengklaim diri mereka lebih dalam berbagai hal, lebih tinggi derajat mereka, dan lebih mulia dari kabilah-kabilah Arab yang lain.

Kabilah Arab yang merasa super ini melecehkan, meren dah kan, dan menguasai kabilah Arab lain yang mereka pa n dang rendah. Nabi Muham mad SAW ber - hasil me lenyap kan segala ben tuk rasisme. Setelah me - lak sanakan haji wada’ , Nabi dalam khotbah nya menegas kan tidak ada perbedaan antara ras Arab dan ras non- Arab (íajam ).

Rasisme dapat menimbulkan akibat fatal yang tidak dikehendaki. Contohnya adalah kerusuhan yang meletus di Pa pua beberapa waktu lalu. Ke rusuhan di Papua mengakibatkan terjadinya perusakan dan pembakaran di beberapa kota, termasuk di Sorong. Pe micunya berawal dari dugaan ucapan rasis-rasialis terhadap maha siswa asal Papua yang sedang belajar di Surabaya (Jawa Ti mur).

Insiden di Jawa Timur ter - sebut menyulut emo si mas - ya rakat Papua. Aki batnya, me le tus demonstrasi massa besar-besaran yang berujung pada pe rusakan dan pem ba - karan yang menye bab kan banyak ke rugian. Derajat manusia di ha - dapan Tuhan adalah sama dan yang membedakannya hanya - lah ka dar dan kualitas tak wa - nya.

Rasisme harus dicela, dicegah, di lawan, dan diberantas. Perbedaan ras, suku, dan etnis bukan untuk saling merendahkan, tetapi harus di terima sebagai ke beragaman untuk saling me ngenal dan menghargai.

FAISAL ISMAIL

Guru Besar Pascasarjana FIAI Universitas Islam Indonesia Yogyakara

Berita Lainnya...